Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lombok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

Pantai Mawun di Lombok. Pesona Keindahan yang Tersembunyi

Pantai Mawun di Kabupaten Lombok Tengah letaknya tidak jauh dari bandara internasional Lombok, keindahannya sangat mempesona namun belum banyak diketahui oleh para wisatawan, sehingga kalau anda datang ke pantai ini tidak akan banyak menemui wisatawan disana. Kalau-pun ada wisatawan, paling jumlahnya hanya dalam hitungan jari saja. Padahal letak pantai Mawun dari bandara Lombok yang baru di Praya hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 45 menit saja. Letak pantai Mawun, apabila datang dari arah bandara, nanti ada pertigaan yang tidak ada rambu-rambu penunjuk arah mau kemana, ambil arah ke kiri kalau mau ke pantai Kute dan pantai Tanjung Aan dan ambil arah kanan kalau mau ke pantai Mawun ambil. Dari pertigaan tersebut mengarah ke pantai Kute hanya selemparan batu saja dan jalannya lebar tetapi kalau menuju pantai Mawun harus naik turun serta menapaki jalan sempit berliku perbukitan tandus namun pemandangan yang disuguhkan sangat mempesona. Di sebelah kiri membentang laut biru dengan riak gelombang yang terlihat jelas dan di sebelah kanan terlihat perbukitan berbatu dengan warna kecoklatan tanpa tanaman selain semak belukar. Paralel dengan kondisi tanahnya yang tidak subur, kehidupan masyarakatnya-pun masih sangat sederhana. Rumah-rumah sempit yang terbuat dari bambu dengan atap dari ilalang banyak ditemukan di sepanjang perjalanan dari pertigaan sampai ke pantai Mawun. Hanya saja, saat ini ada pemandangan lain yaitu banyaknya tumpukan karung goni berisi tanah bebatuan di pinggir-pinggir jalan desa Mawun. Ternyata karung-karung goni yang berisi tanah bebatuan tersebut yang diambil dari perbukitan sekitarnya diperkirakan berisi kandungan emas. Penduduk desa Mawun kini  sedang 'demam' pendulangan emas. Perlu ada aturan tegas untuk menjaga jangan sampai jadi masalah sosial dan juga menimbulkan kerusakan lingkungan setempat.
Selepas mendaki dan menuruni jalan perbukitan, kami tiba di jalan masuk ke pantai Mawun. Jalannya lebih sempit lagi dan aspalnya sudah terkelupas disana sini. Tidak ada billboard besar sebagai informasi bahwa disini letak dari pantai Mawun sebagaimana biasanya di lokasi pintu gerbang di sebuah tempat rekreasi, hanya ada tanda panah seukuran tangan orang dewasa yang terbuat dari kayu sembarangan dengan tulisan tangan 'Mawun Beach'. Namun begitu ketika kita masuk dan berada di pantainya, siapapun pasti akan langsung berdecak kagum akan pesona keindahannya. Kita disuguhi pemandangan yang indah, alami dan suasana sunyi yang menyiratkan kedamaian. Pantainya sendiri berada di daerah semi tertutup karena ini adalah teluk kecil dengan bentuk menyerupai tapal kuda sehingga lautnya tenang tidak bergelombang. Pasir putih berbentuk merica membentang lebar sepanjang separuh teluk kecil ini, air lautnya biru dengan kejernihan luar biasa karena disini hampir tak ada limbah yang masuk mengalir ke laut ini. Kami tak tahan berlama-lama untuk hanya memandangi keindahan alam pantai Mawun ini, kami segera pergi berenang di air nan jernih ini.
Saat kami berkunjung ke pantai Mawun ini, hanya ada beberapa turis asing yang sedang mandi, berenang, atau hanya sekedar berjemur di pasir pantai ini. Mereka dapat menikmati alam pantai ini sepuasnya tanpa harus risih oleh ulah pedagang asongan atau yang menawarkan jasa-jasa lainnya. Karena disini hanya ada 2 warung minuman ringan dan snack, 3 orang penjual kain khas Lombok, dan 1 orang penjual kelapa muda. Kami tidak melihat ada turis domestik lain yang berkunjung ke pantai ini.
Kenapa kunjungan wisatawan ke pantai yang indah ini hanya dapat dihitung dengan jari saja setiap harinya, tidak sebanding dengan keindahannya? Dahulu mungkin yang menjadi masalah untuk datang ke pantai Mawun ini adalah akses dan faktor keamanan di perjalanannya, namun untuk saat ini, hal tersebut sudah tidak menjadi masalah lagi. Jadi yang kurang adalah promosi dan informasi tentang pantai ini, dan tentu saja tentang keberadaan dari berbagai  fasilitas wisata  yang dibutuhkan para wisatawan. Kini fasilitas yang sudah tersedia selain dua warung sederhana, tiga bale-bale, dan kamar mandi sederhana. Tempat bilas apalagi kamar penginapan belum tersedia. Juga tidak ada rambu-rambu informasi tentang kedalaman pantai beserta petugas jaga pantainya. Agak miris untuk sembarangan mandi di pantai ini walaupun sampai saat ini belum pernah ada kejadian kecelakaan sewaktu berenang di pantai Mawun ini. Apakah fasilitas-fasilitas wisata tersebut baru akan dibangun setelah banyak wisatawan yang datang seperti kebiasaan dalam pembangunan kita? Atau kita siapkan fasilitas wisatanya baru kita promosikan untuk mengundang banyak wisatawan datang ke pantai Mawun ini? Saya pikir dengan logika umum, yang poin kedua yang mestinya jadi pilihan.
Jalan Menuju Pantai Mawun
Penduduk Desa Mawun Sedang Proses Mendulang Bijih Emas
Pantai Mawun yang Semi Tertutup
Pasir Putihnya Membentang di Lingkaran Dalam Pantai
Di Sebelah Kanan Juga Membentang Pasir Putih dan Bukit Tandus
Turis Hanya Ada Beberapa Orang Saja
Masih Sangat Alami
Perlu Penambahan Fasilitas Wisata dan Promosi
bale-bale dan warung sederhana


Read More --►

Sabtu, 02 November 2013

Pantai Senggigi di Lombok yang Tetap Mempesona

Tadinya saya pikir dengan pindahnya Bandara Internasional Lombok dari Ampenan Mataram ke Praya Lombok Tengah akan mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke pantai Senggigi. Bagaimana tidak? Bandara yang dulunya berada di Ampenan yang letaknya ber-tetangga-an persis dengan pantai Senggigi sehingga wisatawan dari bandara itu kalau mau ke pantai Senggigi hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di Senggigi. Sedangkan Bandara Lombok saat ini berada di Praya di Lombok Tengah, agak jauh dari letaknya pantai Senggigi. Sekarang apabila wisatawan dari bandara yang bermaksud ke Senggigi harus masuk kota Mataram dahulu dan butuh waktu sekitar 1,5 jam. Malahan letak bandara Lombok saat ini lebih dekat ke pantai Kute yang menjadi salah satu tujuan wisata di pulau Lombok. Kenyataannya jumlah wisatawan yang datang dan menginap di sekitaran pantai Senggigi tidak berkurang dari sejak bandara pindah. Memang, Senggigi adalah jalur wisata yang akan menuju Gili Trawangan, Air, dan Meno.
Jalan menuju Senggigi beraspal mulus dengan jumlah kendaraan yang lalu lalang tidak banyak, kanan kirinya diwarnai kehijauan pohon pohon kelapa dan rerumputan. Ketika kami lewat sebelum di pusat kota Senggiginya kami melihat ada beberapa bangunan sederhana terletak di pinggir pantai yang dibangun oleh pemerintah daerah setempat sebagai spot untuk melihat sunset atau matahari tenggelam. Kebetulan waktu itu sudah sore, kami mampir untuk menikmati sunset yang sebentar lagi akan tiba. Duduk di perbukitan bibir pantai pada ketinggian vertikal 15 meter, dengan udara yang segar adalah suatu tempat yang ideal untuk menyaksikan sunset. kami duduk manis sambil ditemani secangkir kopi hangat dan jagung bakar panas. Nikmat sekali! Selain wisatawan domestik juga ada beberapa wisatawan asing yang terlihat begitu antusias untuk menyaksikan matahari tenggelam yang menandakan terjadinya perubahan waktu dari siang ke malam hari. Ketika saat-saat sunset akan tiba, suasa sunyi sambil mata tak putus memandangi matahari kemerahan yang sebentar lagi akan istirahat di ufuk barat. Keindahan yang sempurna!
Beranjak sebentar dari tempat menyaksikan sunset kami tiba di pusat desa Senggigi-nya. keramaian di Senggigi hanya sepanjang 1 km saja, tidak banyak memang. Dan suasanya tidak banyak mengalami perubahan banyak, baik hotel, jumlah cafe dan restoran serta suasana jalan-jalan sekitarnya. Hampir sama seperti keadaan tahun-tahun sebelumnya. Suasananya tidak ramai, jauh berbeda apabila dibandingkan dengan suasana pantai Kuta di Bali yang cenderung hiruk pikuk. Disini di Senggigi lebih ke suasana sunyi dengan lampu penerangan yang sedikit temaram serta orang yang berlalu lalang juga tidak banyak. Justru dengan suasana yang jauh dari hingar bingar seperti itulah yang, banyak disukai oleh wisatawan asing terutama yang sudah memasuki masa senior. Linda Naff seorang turis dari Belanda yang ketemu di toko roti yang tiap tahun, dia bercerita dengan ramah bahwa dia selalu datang ke Senggigi ini hampir setiap tahun, tapi dia mengatakan juga; 'kalau nanti Senggigi terjadi perubahan masif maka saya tidak akan datang lagi ke Senggigi. Saya akan cari tempat yang lain'. Maksud dia, perubahan pasti terjadi namun agar tetap mempertahankan ciri utama dari suasana pantai Senggigi ini karena hal itulah yang jadi keunggulan utama dari pasar wisata pantai Senggigi ini.
Menyaksikan Sunset
Sunset di pantai Senggigi Lombok
Menikmati sunset berteman secangkir kopi dan jagung bakar
Menikmati sunset sambil bermain di pantai
Suasana Senggigi di Sore Hari
Suasana yang paling ramai di Senggigi hanya seperti ini
Souvenir tersedia juga disini
Makan malam romantis di pinggir pantai juga tersedia
Ikan bakar menjadi kuliner favoritnya
 
 
 
 

Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving