Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2016

Pengenalan Jenis-Jenis Mamalia Laut Indonesia


https://www.scribd.com/doc/300565784/Buku-Pengenalan-Mamalia-Laut
Apa itu Mamalia Laut?

Secara biologi, orang sering salah mengira bahwa paus, lumba-lumba, dan dugong adalah ikan. Padahal mereka termasuk kelompok besar biota mamalia. Karena mereka memiliki karakter yang sama dengan mamalia yang hidup di darat.

Mamalia laut seperti mamalia darat, mereka bernafas dari oksigen yang terkandung di dalam udara. Udara diambil melalui lubang nafas saat mereka ke permukaan air yang kemudian udara tersebut diolah oleh paru-paru. Mereka juga mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak-anaknya, seperti halnya mamalia darat. Mamalia laut juga memiliki rambut, hanya saja rambut tersebut terlihat pada saat awal kehidupannya dan akan menghilang seiring bertambahnya umur mereka. Rambut-rambut halus tersebut terdapat pada bagian moncong tubuhnya yang disebut whisker.

Ada sedikit perbedaan antara mamalia laut dengan mamalia darat. Anak-anak mamalia laut begitu dilahirkan, sudah langsung berenang dan menyusu kepada induknya. Dan anak-anak mamalia laut lahir dengan bagian ekor yang keluar terlebih dahulu.

Jenis Mamalia Laut

Mamalia laut tersebut dikelompokkan menjadi bangsa Cetaceanyaitu paus dan lumba-lumba, dan bangsa Sireniayaitu dugong.  

Perairan Indonesia merupakan habitat yang sekaligus juga merupakan jalur migrasi berbagai jenis mamalia laut tersebut. Sampai saat ini, di perairan Indonesia telah teridentifikasi ada 36 jenis Cetacea, dimana jumlah tersebut setara dengan sepertiga dari seluruh jenis Cetacea yang ada di dunia. Termasuk keberadaan paus biru (Balaenopteramusculus) di perairan Indonesia, yang mana spesies ini sudah katagori langka dan hampir punah.

Mamalia laut yang terdapat di perairan Indonesia, terdiri dari ordo Cetacea dan ordo Sirenia. Ordo Cetacean terdiri dari sub ordo Mysticeti dan Sub ordo Odonteceti. Sub ordo Mysticeti terdiri dari 9 jenis paus yang termasuk di dalamnya family Balaenopteridae. Sub ordo Odonteceti terdiri dari 5 famili, yaitu: Delphinidae (18 jenis), Kogiidae (2 jenis), Phocoenidae (1 jenis), Physeteridae (1 jenis), dan Ziphiidae (4 jenis). Sedangkan ordo Sirenia hanya memiliki 1 jenis saja, yaitu family Dungongidae.

Semua jenis mamalia laut yang ada di Indonesia sudah berstatus dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.

Tujuan dari Buku Ini.

Karena perairan Indonesia merupakan habitat dan jalur migrasi dari berbagai jenis mamalia laut, dan juga di wilayah Indonesia sering didapatkan adanya pendamparan (stranding) dari mamalia laut tersebut. Maka buku ini terbit sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendataan di lapangan sebagai langkah awal untuk pelestarian berbagai mamalia laut yang sudah berstatus terancam punah tersebut.
Dugong
Paus Bungkuk
Paus Bride yang Terdampar di Merauke awal 2015
Paus yang Terdampar di Morewali Sulawesi Tengah





Read More --►

Kamis, 18 Februari 2016

Pengenalan Jenis-Jenis Hiu di Indonesia

https://www.scribd.com/doc/299720523/Buku-Pengenalan-Jenis-Jenis-Hiu-di-Indonesia (Link Download)


Sekitar 117 jenis hiu dari 25 famili yang ditemukan di perairan Indonesia, sebagian dari jenis hiu tersebut berstatus rentan terhadap kepunahan (endanger spesies). Dalam daftar merah (red list) yang dikeluarkan oleh The International Union for Conservation Nature (IUCN) terdapat satu spesies hiu di Indonesia yang masuk katagori kondisi kritis (critically endangered), 5 spesies dalam kondisi terancam atau genting (endangered), 23 spesies dalam kondisi rentan (vulnerable), dan 35 spesies dalam kondisi hamper terancam (near threatened).

Buku yang disusun oleh: Didi Sadili, Cora Mustika, dan Sarmintohadi ini adalah sebagai pedoman teknis di lapangan untuk mengidentifikasi jenis hiu yang ditemui. Dengan diketahuinya jenis hiu tersebut akan memudahkan memilah mana hiu yang termasuk dilindungi, dilarang diekspor, dan yang masuk daftar merah IUCN.

Mudah mudahan buku ini bermanfaaat

Hiu Martil (foto: Clarklittle)


Read More --►

Selasa, 09 Februari 2016

Pedoman Pengkayaan Populasi Kuda Laut

Pedoman Pengkayaan Populasi Kuda Laut (link download)

Upaya pelestarian adalah serangkaian kegiatan konservasi yang dilakukan dengan tujuan untuk menambah atau meningkatkan jumlah individu baru dalam populasi suatu jenis dan juga upaya untuk mempertahankan jumlah individu dalam suatu populasi. Secara umum, upaya pelestarian dapat dilakukan melalui kegiatan restoking (penebaran kembali) jenis ikan asli/lokal ke habitat alam. Agar pelaksanaan restoking berlangsung baik dan tidak merusak keanekaragaman hayati, maka dibutuhkan panduan tata cara restoking jenis ikan terancam punah.
Buku Pedoman Pengkayaan Populasi Kuda Laut ini disusun dalam upaya memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan tentang jenis kuda laut (Hippocampus spp.), khususnya terkait dengan upaya menjaga kelestariannya. Meningkatnya permintaan kuda laut terutama untuk ekspor menyebabkan produksi kuda laut hasil tangkapan di alam semakin terbatas dan jauh dari jumlah kebutuhan pasar. Gejala eksploitasi yang berlebihan ini mengakibatkan turunnya populasi kuda laut di alam. Oleh karena itu upaya-upaya konservasi terhadap kuda laut ini perlu dilakukan salah satunya melalui upaya pengkayaan populasi di alam (restoking).
Besar harapan kami, dengan disusunnya pedoman ini, tercipta kesamaan persepsi terkait definisi, konsep, pelaksanaan, dan monitoring dalam kegiatan restoking, sehingga para pemangku kepentingan dapat mengembangkan beragam upaya perlindungan dari kuda laut ini, yang selanjutnya dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Buku: Pedoman Pengkayaan Populasi Kuda Laut

Read More --►

Minggu, 03 November 2013

Pantai Mawun di Lombok. Pesona Keindahan yang Tersembunyi

Pantai Mawun di Kabupaten Lombok Tengah letaknya tidak jauh dari bandara internasional Lombok, keindahannya sangat mempesona namun belum banyak diketahui oleh para wisatawan, sehingga kalau anda datang ke pantai ini tidak akan banyak menemui wisatawan disana. Kalau-pun ada wisatawan, paling jumlahnya hanya dalam hitungan jari saja. Padahal letak pantai Mawun dari bandara Lombok yang baru di Praya hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 45 menit saja. Letak pantai Mawun, apabila datang dari arah bandara, nanti ada pertigaan yang tidak ada rambu-rambu penunjuk arah mau kemana, ambil arah ke kiri kalau mau ke pantai Kute dan pantai Tanjung Aan dan ambil arah kanan kalau mau ke pantai Mawun ambil. Dari pertigaan tersebut mengarah ke pantai Kute hanya selemparan batu saja dan jalannya lebar tetapi kalau menuju pantai Mawun harus naik turun serta menapaki jalan sempit berliku perbukitan tandus namun pemandangan yang disuguhkan sangat mempesona. Di sebelah kiri membentang laut biru dengan riak gelombang yang terlihat jelas dan di sebelah kanan terlihat perbukitan berbatu dengan warna kecoklatan tanpa tanaman selain semak belukar. Paralel dengan kondisi tanahnya yang tidak subur, kehidupan masyarakatnya-pun masih sangat sederhana. Rumah-rumah sempit yang terbuat dari bambu dengan atap dari ilalang banyak ditemukan di sepanjang perjalanan dari pertigaan sampai ke pantai Mawun. Hanya saja, saat ini ada pemandangan lain yaitu banyaknya tumpukan karung goni berisi tanah bebatuan di pinggir-pinggir jalan desa Mawun. Ternyata karung-karung goni yang berisi tanah bebatuan tersebut yang diambil dari perbukitan sekitarnya diperkirakan berisi kandungan emas. Penduduk desa Mawun kini  sedang 'demam' pendulangan emas. Perlu ada aturan tegas untuk menjaga jangan sampai jadi masalah sosial dan juga menimbulkan kerusakan lingkungan setempat.
Selepas mendaki dan menuruni jalan perbukitan, kami tiba di jalan masuk ke pantai Mawun. Jalannya lebih sempit lagi dan aspalnya sudah terkelupas disana sini. Tidak ada billboard besar sebagai informasi bahwa disini letak dari pantai Mawun sebagaimana biasanya di lokasi pintu gerbang di sebuah tempat rekreasi, hanya ada tanda panah seukuran tangan orang dewasa yang terbuat dari kayu sembarangan dengan tulisan tangan 'Mawun Beach'. Namun begitu ketika kita masuk dan berada di pantainya, siapapun pasti akan langsung berdecak kagum akan pesona keindahannya. Kita disuguhi pemandangan yang indah, alami dan suasana sunyi yang menyiratkan kedamaian. Pantainya sendiri berada di daerah semi tertutup karena ini adalah teluk kecil dengan bentuk menyerupai tapal kuda sehingga lautnya tenang tidak bergelombang. Pasir putih berbentuk merica membentang lebar sepanjang separuh teluk kecil ini, air lautnya biru dengan kejernihan luar biasa karena disini hampir tak ada limbah yang masuk mengalir ke laut ini. Kami tak tahan berlama-lama untuk hanya memandangi keindahan alam pantai Mawun ini, kami segera pergi berenang di air nan jernih ini.
Saat kami berkunjung ke pantai Mawun ini, hanya ada beberapa turis asing yang sedang mandi, berenang, atau hanya sekedar berjemur di pasir pantai ini. Mereka dapat menikmati alam pantai ini sepuasnya tanpa harus risih oleh ulah pedagang asongan atau yang menawarkan jasa-jasa lainnya. Karena disini hanya ada 2 warung minuman ringan dan snack, 3 orang penjual kain khas Lombok, dan 1 orang penjual kelapa muda. Kami tidak melihat ada turis domestik lain yang berkunjung ke pantai ini.
Kenapa kunjungan wisatawan ke pantai yang indah ini hanya dapat dihitung dengan jari saja setiap harinya, tidak sebanding dengan keindahannya? Dahulu mungkin yang menjadi masalah untuk datang ke pantai Mawun ini adalah akses dan faktor keamanan di perjalanannya, namun untuk saat ini, hal tersebut sudah tidak menjadi masalah lagi. Jadi yang kurang adalah promosi dan informasi tentang pantai ini, dan tentu saja tentang keberadaan dari berbagai  fasilitas wisata  yang dibutuhkan para wisatawan. Kini fasilitas yang sudah tersedia selain dua warung sederhana, tiga bale-bale, dan kamar mandi sederhana. Tempat bilas apalagi kamar penginapan belum tersedia. Juga tidak ada rambu-rambu informasi tentang kedalaman pantai beserta petugas jaga pantainya. Agak miris untuk sembarangan mandi di pantai ini walaupun sampai saat ini belum pernah ada kejadian kecelakaan sewaktu berenang di pantai Mawun ini. Apakah fasilitas-fasilitas wisata tersebut baru akan dibangun setelah banyak wisatawan yang datang seperti kebiasaan dalam pembangunan kita? Atau kita siapkan fasilitas wisatanya baru kita promosikan untuk mengundang banyak wisatawan datang ke pantai Mawun ini? Saya pikir dengan logika umum, yang poin kedua yang mestinya jadi pilihan.
Jalan Menuju Pantai Mawun
Penduduk Desa Mawun Sedang Proses Mendulang Bijih Emas
Pantai Mawun yang Semi Tertutup
Pasir Putihnya Membentang di Lingkaran Dalam Pantai
Di Sebelah Kanan Juga Membentang Pasir Putih dan Bukit Tandus
Turis Hanya Ada Beberapa Orang Saja
Masih Sangat Alami
Perlu Penambahan Fasilitas Wisata dan Promosi
bale-bale dan warung sederhana


Read More --►

Sabtu, 02 November 2013

Pantai Senggigi di Lombok yang Tetap Mempesona

Tadinya saya pikir dengan pindahnya Bandara Internasional Lombok dari Ampenan Mataram ke Praya Lombok Tengah akan mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke pantai Senggigi. Bagaimana tidak? Bandara yang dulunya berada di Ampenan yang letaknya ber-tetangga-an persis dengan pantai Senggigi sehingga wisatawan dari bandara itu kalau mau ke pantai Senggigi hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di Senggigi. Sedangkan Bandara Lombok saat ini berada di Praya di Lombok Tengah, agak jauh dari letaknya pantai Senggigi. Sekarang apabila wisatawan dari bandara yang bermaksud ke Senggigi harus masuk kota Mataram dahulu dan butuh waktu sekitar 1,5 jam. Malahan letak bandara Lombok saat ini lebih dekat ke pantai Kute yang menjadi salah satu tujuan wisata di pulau Lombok. Kenyataannya jumlah wisatawan yang datang dan menginap di sekitaran pantai Senggigi tidak berkurang dari sejak bandara pindah. Memang, Senggigi adalah jalur wisata yang akan menuju Gili Trawangan, Air, dan Meno.
Jalan menuju Senggigi beraspal mulus dengan jumlah kendaraan yang lalu lalang tidak banyak, kanan kirinya diwarnai kehijauan pohon pohon kelapa dan rerumputan. Ketika kami lewat sebelum di pusat kota Senggiginya kami melihat ada beberapa bangunan sederhana terletak di pinggir pantai yang dibangun oleh pemerintah daerah setempat sebagai spot untuk melihat sunset atau matahari tenggelam. Kebetulan waktu itu sudah sore, kami mampir untuk menikmati sunset yang sebentar lagi akan tiba. Duduk di perbukitan bibir pantai pada ketinggian vertikal 15 meter, dengan udara yang segar adalah suatu tempat yang ideal untuk menyaksikan sunset. kami duduk manis sambil ditemani secangkir kopi hangat dan jagung bakar panas. Nikmat sekali! Selain wisatawan domestik juga ada beberapa wisatawan asing yang terlihat begitu antusias untuk menyaksikan matahari tenggelam yang menandakan terjadinya perubahan waktu dari siang ke malam hari. Ketika saat-saat sunset akan tiba, suasa sunyi sambil mata tak putus memandangi matahari kemerahan yang sebentar lagi akan istirahat di ufuk barat. Keindahan yang sempurna!
Beranjak sebentar dari tempat menyaksikan sunset kami tiba di pusat desa Senggigi-nya. keramaian di Senggigi hanya sepanjang 1 km saja, tidak banyak memang. Dan suasanya tidak banyak mengalami perubahan banyak, baik hotel, jumlah cafe dan restoran serta suasana jalan-jalan sekitarnya. Hampir sama seperti keadaan tahun-tahun sebelumnya. Suasananya tidak ramai, jauh berbeda apabila dibandingkan dengan suasana pantai Kuta di Bali yang cenderung hiruk pikuk. Disini di Senggigi lebih ke suasana sunyi dengan lampu penerangan yang sedikit temaram serta orang yang berlalu lalang juga tidak banyak. Justru dengan suasana yang jauh dari hingar bingar seperti itulah yang, banyak disukai oleh wisatawan asing terutama yang sudah memasuki masa senior. Linda Naff seorang turis dari Belanda yang ketemu di toko roti yang tiap tahun, dia bercerita dengan ramah bahwa dia selalu datang ke Senggigi ini hampir setiap tahun, tapi dia mengatakan juga; 'kalau nanti Senggigi terjadi perubahan masif maka saya tidak akan datang lagi ke Senggigi. Saya akan cari tempat yang lain'. Maksud dia, perubahan pasti terjadi namun agar tetap mempertahankan ciri utama dari suasana pantai Senggigi ini karena hal itulah yang jadi keunggulan utama dari pasar wisata pantai Senggigi ini.
Menyaksikan Sunset
Sunset di pantai Senggigi Lombok
Menikmati sunset berteman secangkir kopi dan jagung bakar
Menikmati sunset sambil bermain di pantai
Suasana Senggigi di Sore Hari
Suasana yang paling ramai di Senggigi hanya seperti ini
Souvenir tersedia juga disini
Makan malam romantis di pinggir pantai juga tersedia
Ikan bakar menjadi kuliner favoritnya
 
 
 
 

Read More --►

Minggu, 18 Agustus 2013

Pawai Budaya Nusantara 2013 di Jakarta, Bagus Sekali

Baru kali ini di Jakarta ada acara karnaval budaya sebesar dan semeriah ini! Karnaval yang berlangsung pada hari Minggu 18 Agustus 2013 di lapangan Monas Jakarta terkait dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68, dikemas dengan judul ‘Pawai Budaya Nusantara 2013’ dengan menurunkan peserta dari perwakilan seluruh provinsi yang ada di Indonesia ditambah beberapa dari peserta BUMN.  Tampilan peserta pawai yang terkonsep bagus yang dikombinasikan dengan kreatifitas tinggi serta sangat variatif. Walau-pun rangkaian peserta pawai budaya ini panjang sekali, tidak cukup 2 jam untuk menyaksikan seluruh rangkaian peserta pawai dari 33 provinsi ini namun tidak membosankan.
Sebelumnya, pada jam 11, penonton pawai budaya sudah mulai berdatangan di dalam Monas atau di jalan-jalan di sekitaran Monas yang akan dilalui oleh iring-iringan peserta pawai, dan para peserta ada yang sudah siap tampil, ada yang sedang dirias, ada yang sedang latihan, tapi ada juga rombongan dari salah satu provinsi yang baru datang dengan 3 bus besar. Para peserta pawai ini sudah disiapkan untuk menempati tendanya masing-masing. Jam 12 lewat, tiba-tiba turun hujan dengan derasnya, kalang kabut-lah para peserta dan calon penonton. Ada peserta wanita pawai dari Prov. Lampung yang sudah rapih berdandan laksana bidadari dengan berbagai bunga di sekujur tubuhnya. Hancur-lah make up  tebal di pipinya serta hampir semua lepas bunga yang sudah terpasang rapih di tubuhnya. Hebatnya, semua tetap semangat, mengulang kembali, apa yang rusak karena terguyur air hujan.
Jam 13.30 syukur hujan akhirnya reda dan jadwal pawai budaya yang direncanakan dimulai pukul 14.00 bisa berjalan sesuai rencana. Dimulai dari peserta provinsi Jawa Timur yang salah satunya menampilkan ‘karnaval Jember’ yang sudah populer itu. Peserta dari Jawa Timur ini mendapat sambutan hangat dari penonton,  kemudian provinsi Jambi, Papua dan seterusnya. Sebagian besar para peserta pawai budaya ini menggunakan kostum dari bahan yang tersedia melimpah di daerahnya, misalnya peserta dari provinsi Lampung yang berkostum dari daun pisang atau peserta dari Sumatera Utara yang menggunakan kulit kayu, bahkan ada yang menggunakan kain bekas atau kain perca. Musik-musiknya-pun sangat menggugah perasaan dan membuat decak kagum, misalnya peserta dari provinsi Sulawesi Barat yang menampilkan musik Sipamandaq yaitu perkusi yang terbuat dari buah kelapa dengan balok kecil kayu diatasnya. Balok kayu semacam alat musik kolintan tapi yang ini hanya terdiri 4 bilah kayu. Ketika dibunyikan bersama, suara yang keluar amat harmoni yang lebih mirip nada-nada suara dari tanah Melayu. Peserta dari Papua dan Papua Barat dengan pakaian tradisionalnya mendapat aplaus yang hangat dari penonton.
Senang sekali melihat pawai budaya ini, kami kini nyata mengetahui bahwa Indonesia itu sangat kaya akan budaya dan kami menjadi makin bangga dengan Indonesia. Sambutan dari masyarakat-pun begitu antusiasnya. yang datang untuk menyaksikan acara pawai budaya melimpah sampai ribuan orang dan banyak dari mereka serius menontonnya serta ikut bergembira ria. Bagaimana kalau Pawai Budaya Nusantara semacam ini dijadikan agenda budaya tahunan? Karena selain menghibur juga mengenalkan secara langsung keaneka ragaman budaya Nusantara kepada masyarakat serta tentu dapat menarik banyak turis untuk datang.



Peserta dari Prov. Lampung
Alat musik dari Prov. Sulawesi Barat



Read More --►

Selasa, 09 April 2013

Jenis Hiu di Indonesia yang Ada dalam Red List IUCN



Organisasi internasional yang bergerak dalam bidang perlindungan dan konservasi biota, yaitu IUCN atau International Union for Concervation of Nature and Natural Resources mengevaluasi suatu biota akan keterancaman kepunahannya, kemudian hasil evaluasi biota tersebut dikelompokan ke dalam 9 katagori, yaitu:

1.    Punahatau Extinct, EX. Dimana katagori ini diberikan kepada spesies yang benar-benar sudah tidak ditemukan lagi.

2.    Punah di alam atau Extinct in the wild, EW. Katagori ini diberikan kepada spesies yang sudah tidak ditemukan lagi di habitat aslinya tetapi masih ada di tempat penangkaran ataupun lokasi perlindungan, seperti: cagar alam, suaka margasatwa, dan lainnya.

3.    Sangat terancam punah atau Critically Endangered, CR. Katagori ini diberikan kepada spesies yang diyakini mendekati kepunahan di alam.

4.    Terancam punah atau Endangered, EN. Yang berarti spesies yang masuk dalam katagori ini diyakini memiliki resiko tinggi akan kepunahannya di alam.

5.    Rawan punah atau Vulnerable, VU.   Katagori ini diberikan kepada spesies yang dikhawatirkan memiliki resiko tinggi terhadap kepunahannya di alam.

6.    Hampir terancam punah atau Near Threatened, NT. Katagori ini diberikan kepada spesies yang diyakini akan terancam keberadaannya di masa mendatang apabila tidak ada usaha pengelolaannya terhadap jenis tersebut.

7.    Beresiko rendah terancam punah atau Least Concern, LC. Yaitu diberikan kepada spesies yang mungkin berada dalam keadaan terancam dengan tingkat cukup mendekati kepunahan meskipun tidak masuk ke dalam status terancam.

8.    Informasi kurang atau Data Deficient, DD.

9.    Tidak dievaluasi atauNot Evaluated, NE


Berikut adalah daftar jenis-jenis hiu yang ada di Indonesia beserta nama lokal-nya yang masuk ke dalam Red List IUCN: 

Sangat Terancam Punah atau Critically Endangered, CR
       Pristis microdon (hiu gergaji)

Rawan Punah atau Vulnareble, VU
      1.  Centrophorus squamosus (Hiu Botol)

2.  Nebrius ferrugineus (hiu gedebong)

3.  Rhincodon typus (hiu paus/tutul)

4.  Stegostoma fasciatum (hiu belimbing)

5.  Isurus paucus (hiu tenggiri)

6.  Carcharias Taurus (hiu anjing)

7.  Carcharhinus longimanus (hiu koboy)

8.  Negaprion acutidens

9.  Hemipristis elongate (hiu monas)

10.         Rhina ancylostoma (Hiu Barong)

Hampir Terancam Punah atau Near Threatened, NT
     1.  Heptranchias perlo (Hiu Aruey)

2.  Hexanchus griseus (Cucut meong)

3.  Centrophorus niaukang (hiu botol karang)

4.  Cirrhigaleus barbifer (hiu taji)

5.  Chiloscyllium indicum (hiu bongol)

6.  Chiloscyllium plagiosum (hiu bongo)

7.  Chiloscyllium punctatum (hiu batu)

8.  Isurus oxyrinchus  (hiu tenggiri)

9.  Pseudocarcharias kamoharai (hiu buaya)

10.         Carcharhinus amblyrhynchoides (cucut lanjam)

11.         Carcharhinus amblyrhynchos (Cucut lanjam)

12.         Carcharhinus brevipinna (Cucut lanjam)

13.         Carcharhinus dussumieri (Cucut lanjaman)

14.         Carcharhinus leucas (hiu buas)

15.         Carcharhinus limbatus (hiu lanyam)

16.         Carcharhinus macloti (Hiu aron)

17.         Carcharhinus melanopterus (Hiu blacktip)

18.         Carcharhinus obscures (Cucut lanyam)

19.         Carcharhinus plumbeus (cucut lanjaman)

20.         Carcharhinus sealei (Cucut Lanjaman)

21.         Galeocerdo cuvier (Hiu macan)

22.         Prionace glauca (Hiu biru)

23.         Scoliodon laticaudus (hiu kejen)

24.         Triaenodon obesus (Hiu karang)

25.         Atelomycterus marmoratus (hiu tokek)

26.         Eusphyra blochii (Hiu caping)

27.         Sphyrna lewini (Hiu Martil)

28.         Sphyrna zygaena (Hiu Caping)

  Beresiko Terancam Punahatau Least Concern, LC

 1.  Isistius brasiliensis (Hiu)

2.  Carcharhinus falciformis (Hiu lanjam)

3.  Loxodon macrorhinus (Hiu Kejen)

4.  Rhizoprionodon acutus (Hiu Pisang)

5.  Rhizoprionodon oligolinx (Hiu Pisang)

6.  Rhizoprionodon taylori (Hiu Pilus)

7.  Hemigaleus microstoma (Hiu Kacang)

8.  Halaelurus cf buergeri (Hiu Tokek)

9.  Iago garricki (Hiu Karang)

 Informasi kurang atau Data Deficient, DD

 Centrophorus isodon(Hiu Botol)

Centrophorus moluccensis (Hiu Botol)

Dalatias licha (Hiu Beurit)

Zameus squamulosus(Cucut Botol)

Odontaspis ferox (Hiu Anjing)

Carcharhinus amboinensis (Hiu buas/jawa)

Pseudotriakis microdon(Hiu Tahu)

Cephaloscyllium sp. (Hiu Tokek)

Sphyrna mokarran (Hiu Caping)

 Tidak di Evaluasi atau Not Evaluated, NE

 Hexanchus nakamurai  (Hiu Aruey)

Centrophorus atromarginatus (Hiu Botol)

Centrophorus cf lusitanicus (Hiu Botol)

Deania cf calcea (Hiu Botol Monyong)

Squalus sp (Hiu Botol)

Squatina sp. (Hiu Kodok)

Chiloscyllium cf arabicum (Hiu Bongo Hitam)

Orectolobus cf ornatus(Hiu Kodok/jenggot)

Alopias pelagicus (Hiu Monyet/tikus)

Alopias superciliosus(Hiu Monyet/tikus)

Carcharhinus albimarginatus (Hiu Lanyam)

Carcharhinus altimus(Hiu Merak Bulu)

Carcharhinus sorrah(Hiu Lanyam)

Lamiopsis temmincki(Hiu Bujit)

Chaenogaleus macrostoma (Hiu Pilus)

Paragaleus tengi (Hiu Pasir)

Atelomycterus baliensis(Hiu Tokek)

Hemitriakis sp. (Hiu Pemburu Indonesia)

Mustelus cf manazo(Cucut Londer)

Mustelus sp. (Cucut Londer)

Catatan:
Dikarenakan data yang minim, tulisan ini masih jauh dari sempurna. 
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving