Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label paus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2016

Pengenalan Jenis-Jenis Mamalia Laut Indonesia


https://www.scribd.com/doc/300565784/Buku-Pengenalan-Mamalia-Laut
Apa itu Mamalia Laut?

Secara biologi, orang sering salah mengira bahwa paus, lumba-lumba, dan dugong adalah ikan. Padahal mereka termasuk kelompok besar biota mamalia. Karena mereka memiliki karakter yang sama dengan mamalia yang hidup di darat.

Mamalia laut seperti mamalia darat, mereka bernafas dari oksigen yang terkandung di dalam udara. Udara diambil melalui lubang nafas saat mereka ke permukaan air yang kemudian udara tersebut diolah oleh paru-paru. Mereka juga mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak-anaknya, seperti halnya mamalia darat. Mamalia laut juga memiliki rambut, hanya saja rambut tersebut terlihat pada saat awal kehidupannya dan akan menghilang seiring bertambahnya umur mereka. Rambut-rambut halus tersebut terdapat pada bagian moncong tubuhnya yang disebut whisker.

Ada sedikit perbedaan antara mamalia laut dengan mamalia darat. Anak-anak mamalia laut begitu dilahirkan, sudah langsung berenang dan menyusu kepada induknya. Dan anak-anak mamalia laut lahir dengan bagian ekor yang keluar terlebih dahulu.

Jenis Mamalia Laut

Mamalia laut tersebut dikelompokkan menjadi bangsa Cetaceanyaitu paus dan lumba-lumba, dan bangsa Sireniayaitu dugong.  

Perairan Indonesia merupakan habitat yang sekaligus juga merupakan jalur migrasi berbagai jenis mamalia laut tersebut. Sampai saat ini, di perairan Indonesia telah teridentifikasi ada 36 jenis Cetacea, dimana jumlah tersebut setara dengan sepertiga dari seluruh jenis Cetacea yang ada di dunia. Termasuk keberadaan paus biru (Balaenopteramusculus) di perairan Indonesia, yang mana spesies ini sudah katagori langka dan hampir punah.

Mamalia laut yang terdapat di perairan Indonesia, terdiri dari ordo Cetacea dan ordo Sirenia. Ordo Cetacean terdiri dari sub ordo Mysticeti dan Sub ordo Odonteceti. Sub ordo Mysticeti terdiri dari 9 jenis paus yang termasuk di dalamnya family Balaenopteridae. Sub ordo Odonteceti terdiri dari 5 famili, yaitu: Delphinidae (18 jenis), Kogiidae (2 jenis), Phocoenidae (1 jenis), Physeteridae (1 jenis), dan Ziphiidae (4 jenis). Sedangkan ordo Sirenia hanya memiliki 1 jenis saja, yaitu family Dungongidae.

Semua jenis mamalia laut yang ada di Indonesia sudah berstatus dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.

Tujuan dari Buku Ini.

Karena perairan Indonesia merupakan habitat dan jalur migrasi dari berbagai jenis mamalia laut, dan juga di wilayah Indonesia sering didapatkan adanya pendamparan (stranding) dari mamalia laut tersebut. Maka buku ini terbit sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendataan di lapangan sebagai langkah awal untuk pelestarian berbagai mamalia laut yang sudah berstatus terancam punah tersebut.
Dugong
Paus Bungkuk
Paus Bride yang Terdampar di Merauke awal 2015
Paus yang Terdampar di Morewali Sulawesi Tengah





Read More --►

Jumat, 12 Februari 2016

Situs Selam di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida Bali

https://www.scribd.com/doc/299144694/Wisata-Selam-di-Kawasan-Konservasi-Perairan-Nusa-Penida-Bali (link download)

https://youtu.be/vJQ2t2hl8fk (Video)

Sekilas Tentang Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida

Sejak tahun 2010, pulau-pulau kecil Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan beserta perairan sekitarnya sudah dideklarasikan dicadangkan sebagai kawasan konservasi perairan melalu Peraturan Bupati Klungkung No. 12 tahun 2010 tanggal 7 Juli 2010 dengan sebutan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Nusa Penida. Alasan penting kawasan perairan ini dijadikan kawasan konservasi adalah di perairan ini terdapat ekosistem dan biota perairan yang lengkap. Disini terdapat ekosistem karang, mangrove, dan ekosistem padang lamun. Disini pula terdapat biota perairan eksotis, endemis, unik, dan terancam punah, seperti: ikan mola mola (sunfish), pari manta (manta ray), hiu, hiu paus (whale shark) dan lainnya. Ikan mola mola dapat dijumpai di seluruh perairan tropis di dunia, namun hanya di perairan Nusa Penida kapan dan dimana kemunculan mola mola dapat diprediksi. Mola mola muncul pada bulan Juli sampai Septemper pada setiap tahunnya. Di kawasan konservasi perairan ini-pun merpakan jalur migrasi dari paus dan lumba-lumba. Untuk jenis karang yang dapat ditemui di kawasan konservasi peraiaran ini, antara lain: porites sp, acropora sp, montipora sp, favia sp, favites sp, dan sponge. Selain alasan tersebut, perlu diingat juga bahwa Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida terletak di sudut barat daya segitiga karang dunia (coral triangle).

Kawasan konservasi peraiaran nusa penida dikenal dengan kondisi arus yang keras karena terletak di antara Selat Badung dan Selat Lombok dan adanya palung laut yang dalam diantara selat Nusa Penida dan Nusa Ceningan. Di perairan ini juga merupakan Indonesian Through Flow (ITF) yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Rentang suhu di perairan ini antara 140 – 310 C. maka untuk menghindari hypothermia, disarankan bagi para penyelam untuk memakai pakaian selam (wet suit) dng ketebalan minimal 5 mm dan penutup kepala (hood) karena suhu di bawah laut yang dingin dan sewaktu-waktu bisa terjadi thermoclime dimana air bersuhu dingin dari perairan dalam kerap naik ke permukaan.

KKP Nusa Penida mencakup luasan 20.057 ha dengan batas luar 1 mil (1,8 km) dari garis pantai, dibagi kedalam 3 zona, yaitu zona inti (no take zone), zona pemanfaatan terbatas (wisata bahari, budidaya rumput laut, dan perikanan), dan zona lainnya (peruntukan kegiatan rehabilitasi).

Beberapa titik penyelaman di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida adalah: Manta Point, Secret Manta, Toyapakeh Point, Toyapakeh Wall, SD Point, Pura Ped, Buyuk Point, dan lainnya.

Perairan Nusa Penida yang memiliki keindahan bawah laut dan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa telah banyak menarik turis manca negara untuk datang ke perairan ini. Setidaknya 200.000 turis/tahun datang berkunjung ke perairan Nusa Penida ini. Dan sumbangan terhadap Product Domestic Bruto (PDB) terhadap wisata bahari Kabupaten Klungkung, 80% nya disumbang dari pendapatan turisme perairan Nusa Penida. Maka, sebagai upaya agar aspek lingkungan dan aspek ekonomi dapat berjalan secara berkelanjutan, maka sudah tepat apabila perairan Nusa Penida dijadikan sebagai Kawasan Konservasi Perairan.

Bagaimana menuju ke lokasi Kawasan Konservasi Peraiaran Nusa Penida-Bali?

Apabila anda sudah berada di Bali, arahkan anda ke Pantai Sanur, kemudian dari lokasi tempat penyeberangan Pantai Sanur, anda tinggal naik kapal / boat yang secara regular menyeberang ke Nusa Lembongan atau Nusa Penida.

Untuk akomodasi di Nusa Lembongan, walaupun disana tersedia penginapan sampai hotel, alangkah baiknya kalau anda reservasi jauh-jauh hari terlebih dahulu.
Nusa Penida Bali

Dari Pantai Sanur menuju Nusa Penida / Lembongan

Nusa Lembongan

Pantai Nusa Lembongan

Turis yang datang dan pergi



Dimana anda akan menginap?


Transportasi di Nusa Lembongan

Infrastruktur jalan di Nusa Lembongan

Nusa Lembongan

Posisi KKP Nusa Penida di Coral Triangle

KKP Nusa Penida

Zonasi di KKP Nusa  Penida





Wisata selam melihat mola mola (sunfish)

Wisata selam melihat pari manta di KKP Nusa Penida

Jalur migrasi Pari Manta di sekitar KKP Nusa Penida

Kehidupan masyarakat Nusa Penida

Read More --►

Rabu, 03 Februari 2016

Pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar (download)

Kejadian pendamparan mamalia laut di perairan Indonesia cukup sering
terjadi, luasnya perairan Indonesia dan minimnya pengetahuan masyarakat dan pemerintah daerah tentang mekanisme penanganan mamalia terdampar menyebabkan lambannya kegiatan penanganannya dan bahkan tidak jarang berakhir dengan kematian.
Menjawab permasalahan tersebut, Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan bersama dengan stakeholders terkait telah menyusun "PEDOMAN PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR". Pedoman ini
menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam upaya penyelamatan mamalia laut yang terindikasi terdampar dan maupun yang sudah terdampar sehingga dapat digiring kembali ke perairan dalam kondisi hidup, termasuk langkah-langkah penanganan apabila mamalia yang terdampar sudah dalam keadaan mati.
Read More --►

Selasa, 28 Juli 2015

Kenapa Paus, Lumba-Lumba Sering Terdampar?



Perairan Indonesia merupakan salah satu habitat sekaligus juga merupakan jalur migrasi berbagai jenis mamalia laut dari bangsa cetaceaseperti paus dan lumba-lumba dan dari bangsa sirenia seperti dugong, maka sering didapatkan kejadian terdampar dari biota akuatik tersebut. Sering terdamparnya dari paus, lumba lumba, dan dugong merupakan fenomena yang memprihatinkan. Terlebih lagi biota biota tersebut berstatus dilindungi berdasarkan PP No. 07 tahun 1999.
Pada umumnya, kejadian terdamparnya paus, lumba lumba, dan dugong bukanlah sesuatu yang wajar. Pengecualian untuk jenis paus pembunuh (Orcinus orca), yang memang sering mendamparkan diri di pantai untuk memburu mangsanya berupa anjing laut.
Para ahli memiliki beberapa teori penyebab terdamparnya paus, lumba lumba, dan dugong, yaitu:
1.    Karena adanya patologis internal seperti kehadiran parasit dalam organ syaraf-nya,
2.   Menelan benda asing seperti plastik. Kejadian seperti ini, terjadi pada paus brydeyang terdampar di Cairns Australia pada tahun 2009,
3.   Adanya gangguan pada sistem navigasi di tubuh paus, lumba lumba, dan dugong. Gangguan alat navigasi dapat terjadi karena ada pengaruh sonar atau suara baling-baling kapal dan dapat juga karena ada badai matahari,
4.   Adanya badai yang berkekuatan tinggi yang dapat menyebabkan disorientasi dan kelelahan pada paus, lumba-lumba, dan dugong. Sehingga mereka menjadi terdampar,
5.   Pengaruh dari bulan purnama. Hal ini pernah terjadi dengan terdamparnya banyak paus di Atlantik Utara pada tahun 2005,
6.   Adanya fenomena produktifitas suatu perairan meningkat, sehingga paus atau lumba-lumba mengejar mangsanya hingga ke perairan dangkal dan ahirnya terdampar, dan
7.   Terjadinya dekompresi akibat rapid ascend (naik ke permukaan air secara tiba-tiba). Dekompresi bisa terjadi akibat adanya gempa bumi.

Diperlukan seorang ahli yang dapat mendiagnosa penyebab mamalia laut terdampar sehingga dapat melalukan penanganan secara tepat dan mamalia laut tersebut dapat diselamatkan dari kematian akibat terdampar. 

(Bahan tulisan ini dicuplik dari buku: Pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar. Disusun oleh Sekar Mira dkk, dengan editor: Didi Sadili dkk. Diterbitkan oleh Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2015)
Buku: Pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar. 2015
Tujuan Penyelamatan Mamalia Laut Terdampar
Foto by: Hery Saputro. Terdamparnya Lumba-Lumba di Teluk Balikpapan 25Sept2015
Trend Mamalia Laut Terdampar

Kenapa mamalia laut terdampar perlu ditangani?

Jenis Jenis Mamalia Laut di Indonesia





Read More --►

Minggu, 28 April 2013

Pandangan orang Timor terhadap Laut Sawu

Laut Sawu 
Perairan laut secara umum memiliki fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial. Kita harus bijak untuk memanfaatkannya dengan ketiga fungsi tersebut, demikian juga untuk perairan laut Sawu. Laut Sawu berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah dideklarasikan sebagai Taman Nasional Perairan (TNP) berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 38/MEN/2009 tentang Pencadangan Kawasan Koservasi Perairan Laut Sawu dan Sekitarnya. Kawasan konservasi TNP Laut Sawu seluas 3.521.130Ha atau sekitar ¼ luasan kawasan konservasi di Indonesia (luas kawasan konservasi di Indonesia, sampai Juli 2012 adalah 15,78 juta Ha) dimana di kawasan konservasi ini telah menjadi habitat dari beberapa jenis ‘ikan’, yaitu setidaknya ada 14 jenis paus yang antara lain terdiri dari: paus biru (blue whale), paus sperma (sperm whale), paus pembunuh kerdil (pigmy killer whale), paus kepala semangka (melon headed whale), dari jenis lumba-lumba (dolphin) diantaranya: lumba-lumba paruh panjang, lumba-lumba totol, dari jenis penyu, terdapat: penyu hijau, penyu sisik, dan penyu belimbing, belum lagi berbagai jenis karang, dan berbagai jenis ikan karang. Dari sedikit data tersebut memang sudah selayaknya bahwa laut Sawu harus ‘dirawat’ sebaik-baiknya. Bahkan, bagi orang Timor sendiri, laut Sawu adalah perairan yang harus dijaga, sebagaima tulisan di bawah ini.

Laut Sawu di Mata Orang Timor
Tulisan ini saya kutip dari tulisannya Piet Manesat SVD, M.A. dengan judul Pandangan Orang Timor Terhadap Alam Sekitar dalam buku Kebudayaan: Sebuah Agenda (Dalam Bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya), disunting oleh Gregor Neonbasu SVD,PH.D. yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2013 (hal 73-81):
Kebudayaan adalah cara berpikir, cara hidup, cara bertindak, dan cara berkarya seseorang. Dari analisis mendasar tentang tentang kebudayaan, jelas sekali bahwa manusia pada prinsipnya hidup dalam perpaduan dunia kemarin, dunia hari ini, dan dunia hari esok.
Cara berpikir seseorang diatur oleh pengalaman perpaduan yang mendasar dari ketiga waktu di atas. Cara bertindak dan berkarya manusia juga tidak dapat terlepas dari perpaduan pengalaman yang sama.
Seturut ceritera turun menurun, selain orang Timor secara keseluruhan, dikenal juga cara dan pola hidup manusia Atoni Pah Meto. Orang mengenal mereka sebagai peramu, yang berarti suka berpindah-pindah tempat akibat peperangan atau bahaya penyakit, atau oleh tersebar oleh keagamaan asli dan alam sekitar yang tidak bersahabat dengan umat manusia. Keadaan yang tidak bersahabat disebut: afu i nata’an (Uab Meto) atau rai nee makaas/manas (Tetun), yang secara harapiah berarti tanah tempat tinggal ini panas.
Bagian dari orang Timor yaitu masyarakat Atoni Pah Meto menyebut laut Timor sebagai Taes Mone (Laut Jantan) karena sifatnya kasar, ganas, dan jahat. Sedangkan laut Sawu disebut sebagai Taes Feto (Laut Betina) karena sifatnya lembut, tidak ganas, dan tidak kasar. Orang Belu menyebutnya Tasi Mane dan Tasi Feto.
Menurut cerita-cerita dulu, seluruh daerah seantero Timor digenangi air laut, kecuali Nipumnasi (sebuah perbukitan di wilayah perbatasan Biboki Selatan dan Biboki Utara). Bukit itu sangat sakti, sehingga tidak digenangi air. Karena itu, semua orang berlindung di bukit itu. Air laut menjadi marah dan tidak mau surut untuk kembali ke asalnya jika orang-orang itu tidak memberinya korban. Karena itu, orang menjadi takut, sehingga mereka mulai berunding dan memutuskan untuk mengorbankan seorang anak laki laki dan seorang anak perempuan, karena sebelumnya air laut menolak korban berupa lesung yang penuh berhiaskan muti (kalung emas), tais, dan beti (kain sarung perempuan dan laki-laki). Anak laki-laki dikorbankan ke arah selatan dan anak perempuan dibuang ke arah utara. Setelah itu, air laut membelah menjadi dua bagian: yang satu mengalir menuju ke selatan menjadi Taes Mone (laut Jantan) dan satunya mengalir ke utara menjadi Taes Feto (Laut Sawu).
Di pantai-pantai, ada beberapa pantangan yang mengandung ajaran moral, kebersihan lingkungan, dan kelestarian alam. Antara lain, apabila dalam perjalanan, seseorang terantuk pada kayu atau batu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata sumpah serapah atau maki-makian. Karena cara seperti itu akan mengundang bencana dan malapetaka. Larangan lain adalah, jangan membuang hajat di sembarang tempat, terutama di pantai. Buanglah di tempat yang jaraknya 2 km jauh dari pantai, sebab pantai adalah pekarangan rumah Tais Feto, sehingga tidak boleh dikotori. Pada kolam-kolam khusus yang ada ikan dan udang, orang tidak boleh menangkapnya pada sembarang waktu. Apabila tidak, akan datang bencana seperti disambar buaya.

Laut Sawu
Read More --►

Senin, 29 Oktober 2012

Kewenangan Siapa Untuk Menangani Paus yang Terdampar?


Ahir-ahir ini kita sering disuguhi berita tentang terdamparnya paus di berapa pantai Indonesia, sebut saja:
1.  Tanggal 25 Juli 2012, seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) dengan panjang 12 meter  terdampar dalam kondisi hidup di perairan Tanjung Pakis – Karawang. Paus sperma ini setelah 4 hari berhasil dievakuasi ke laut, namun akhirnya kembali terdampar di perairan Muara Gembong Bekasi dalam kondisi mati. Bangkai paus kemudian dipindahkan  ke Pulau Kotok, Kepulauan Seribu untuk dilakukan penenggalaman bangkainya agar mengalami pembusukan secara alami, dan kerangkanya dikemudian hari akan diangkat untuk dijadikan koleksi dan bahan penelitian.
2.  Tanggal 1 Agustus 2012 seekor hiu paus (Rhincodon typus) atau hiu tutul dengan panjang 13 meter dan lebar 3,83 meter, dengan bobot sekitar 20 ton, terdampar di Pantai Baru, Pandansimo, Bantul, Yogyakarta. Hiu yang sempat diikat ekornya oleh warga setempat tak mampu bertahan dan akhirnya mati.
3.  Tanggal 1 Oktober 2012, sebanyak 48 ekor paus pemandu sirip pendek (Globicephala macrorhynchus)  dengan panjang 4 – 5 meter terdampar di Desa Deme Pulau Sabu, NTT. Hasil penyelamatan, sebanyak 3 ekor diantaranya berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke laut. 
4.  Selain di Indonesia pendamparan paus juga terjadi di negara lain, diantaranya terdamparnya paus bongkok  (Megaptera novaeanglia)  pada tanggal 1 Agustus 2012 di Pantai Newport Utara Sydney Australia dan terdamparnya paus berukuran 16 meter pada tanggal 3 Agustus 2012 di pantai wilayah Sabah, Malaysia.

Para ahli berpendapat bahwa terdamparnya paus tersebut adalah sebagai akibat satu faktor berikut, yaitu:
  1.        Mengejar mangsa (blooming plankton), yang menyebabkan biota laut    langka terseret ke perairan yang lebih dangkal dan akhirnya terdampar.
  2.      Gangguan sistem sonar, kasus - kasus pencemaran, intensitas kebisingan, dan perubahan lingkungan laut dapat menyebabkan gangguan sistem sonar  sehingga paus kehilangan kemampuan menentukan arah pergerakan, yang kadang menyebabkan mereka terdampar.
  3.      Disorientasi akibat badai matahari dan gempa bumi 
  4.     Terserang penyakit, yang menyebabkan Paus terpisah dari kebiasaan migrasinya dan mengalami disorientasi ke perairan yang lebih dangkal
Dan umumnya kehidupan paus selalu berkelompok, seperti paus pilot yang terdiri dari 20 – 80 ekor dan dipimpin oleh satu betina. Kalau paus pemimpin-nya sakit atau mengalami disorientasi dan terdampar, maka paus kelompoknya akan ikut terdampar juga. Kenapa paus selalu hidup berkelompok? Itu dilakukan demi menjaga keamanan diri atau saling melindungi, karena di laut luas dan dalam tidak terdapat ruang perlindungan dan juga dengan hidup berkelompok, betina paus dapat menyusui bayi-bayi paus. Paus menyusui tidak saja untuk bayi biologis-nya tetapi juga bayi lainnya yang ada di kelompoknya.
Pada kasus-kasus terdampar paus, sampai saat ini para ahli paus belum dapat memastikan faktor  penyebab utama sampai paus itu bisa terdampar. Karena paus yang terdampar dan mati belum ada teknologi otopsi-nya. Jadi baru dugaan-dugaan saja terhadap terdamparnya paus.
Persoalan lain dengan terdamparnya paus di pantai di Indonesia, baik yang masih hidup maupun yang mati adalah siapakah yang bertanggung jawab terhadap penanganannya? Kalau terdamparnya di kawasan konservasi, itu jelas penanganannya mnjadi tanggung jawab instansi pengelola kawasan konservasi tersebut. Bagaimana paus yang terdampar diluar kawasan konservasi? Penanganan paus yang terdampar dan masih hidup dengan paus yang terdampar dan mati, tentunya sangat berbeda. Bagi paus terdampar dan masih hidup, penanganan yang diperlukan adalah bagaimana agar paus itu dapat kembali ke laut dan dapat tetap hidup. Lalu, bagi paus yang terdampar dan mati, penanganan yang diperlukan adalah bagaimana menguburkannya atau menenggelamkannya secara aman bagi kesehatan masyarakat dan lingkungannya. Dua-dua-nya memiliki konsekuensi terhadap biaya operasional yang diperlukan. Sampai saat ini, dari beberapa kejadian penanganan paus yang terdampar itu banyak dilakukan oleh TNI dan unsur masyarakat bersama beberapa lembaga swadaya secara volunter. Ke depan, kita tidak dapat mengandalkan pihak volunter secara terus menerus. Tetapi harus ditetapkan secara hukum, siapakah yang bertanggung jawab yang akan menangani paus terdampar tersebut?. Dan menurut pendapat saya, kiranya Pemerintah Kabupaten/kota dimana tempat paus itu terdampar adalah penanggung jawab-nya melalui dinas yang menangani perikanan dan kelautan. Tentunya pemda kab/kota tidak hanya dimintakan tanggung jawabnya semata namun  juga perlu diberikan manfaatnya atas kehadiran lintasan paus tersebut. Misalnya membuat paket tour ‘whales waching’ dan sebagiaan keuntungannya masuk ke kas pemerintah daerah setempat. Kenapa pemerintah kab/kota yang akan menangani paus terdampar? Karena pemerintah kab/koba adalah yang mempunyai kewenangan atau otoritas atas wilayahnya dan yang paling dekat dengan tempat terjadinya paus terdampar tersebut.
 Proses penanganan paus yang terdampar di Karawang yang akan ditenggelamkan di P Kotok di Kep. Seribu



Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving