Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Pantai di Kota Kupang, Sejatinya Sangat Indah

Di kota Kupang, NTT, ada 5 pantai yang menempati sepanjang 22 km garis pantai yang dimilikinya. Ke lima pantai itu adalah: pantai Tode, pantai Pasir Panjang, pantai Kelapa Lima, pantai Oesapa, dan pantai Lasiana. Pantai-pantai tersebut dapat diklasifikasikan sebagai ‘beach’ (diluar klasifikasi beach adalah pantai batu atau rocky shore dan pantai bervegetasi) yang berupa sandy beach atau pantai pasir(lainnya adalah pantai gravel dan pantai lumpur), dimana pembentukannya berasal dari proses sedimentasi. Butiran sedimen pantai di kota Kupang berukuran 0,5 – 2 mm dan berwarna putih, sebagaimana layaknya sedimen yang berasal dari batuan karang (tentang klasifikasi, jenis, dan tipe pantai selengkapnya, silahkan baca di blog ini dengan judul ‘Sempadan Pantai yang perlu Pedoman Penentuan Batasnya). Pantai dengan ciri-ciri tersebut di atas, dipastikan memiliki nilai keindahan yang tinggi. Nah, karena ciri-ciri pantai seperti tersebut tadi dimiliki oleh pantai-pantai di kota Kupang, maka sejatinya pantai-pantai yang ada di kota Kupang memiliki keindahan yang luar biasa pula.
Kenyataannya sekarang, pantai di kota Kupang dipenuhi oleh sampah dan menjadi tempat buangan air limbah dari pemukiman dan bangunan komersil lainnya. Akibatnya, selain sebagai realita dari indikator pengelolaan wilayah pantai di kota Kupang yang kurang baik, berarti juga potensi ekonomi yang dimiliki oleh kawasan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Pembenaran asumsi tersebut dapat dilihat dari: rendahnya kunjungan wisatawan ke wilayah pantai dan kawasan pantai belum menjadi andalan ekonomi masyarakatnya.
Kenapa pantai-pantai di kota kupang kurang terawat? Bagaimana agar masyarakat memandang kawasan pantai sebagai ‘pusat perhatian’? bagaimana pantai-pantai tersebut dapat jadi andalan ekonomi masyarakatnya? Hal yang paling efektif yang dapat dilakukan pemerintah kota Kupang dan masyarakatnya adalah; membuat aturan yang mengharuskan setiap bangunan di tepian pantai menghadap ke arah laut. Dengan demikian, kawasan pantai beserta lautnya seolah menjadi pekarangan rumahnya. Dengan posisi pantai dan laut berada di muka bangunan maka mau tidak mau, ‘pekarangan’ tersebut harus dijaga dan dirawat. Bukan lagi sebagai tempat membuang sampah dan limbah. Akhirnya pantai-pantai itu akan menjadi lebih indah lagi dan ekonomi disana akan jauh lebih bergairah lagi.
Yuk, kita jaga dan rawat pantai indah di kota Kupang ini.
Pantai di Kota Kupang, NTT
Pantai Tode
Pantai Kelapa Lima
Pantai Pasir Panjang
Pantai Oesapa
Pantai Lasiana
Read More --►

Rabu, 15 Mei 2013

Pantai Lasiana Menjadi Andalan Wisata Kota Kupang


Letaknya hanya 15 km-an dari Bandara El Tari di Kupang NTT atau hanya sekitar 30 menit waktu tempuh dengan kendaraan pribadi. Bagi warga lokal, pantai Lasiana adalah tujuan favorit wisata pantainya, karena kemudahan akses dan keasriannya. Apalagi saat sore hari tiba.
Pantai Lasiana membentang sepanjang 5 km, terbentang pasir putih selebar 5 sampai 20 meter di pantai yang berbentuk landai. Sesekali ada sedikit hamparan karang mati dan bebatuan sebesar kepalan tangan. Penduduk setempat membagi dua bentang pantai ini, yaitu pantai Lasiana dan pantai Oesapa. Pantai Lasiana berada dalam enclave sempit sekitar 3 ha saja. Sedangkan, pantai Oesapa lebih terbuka dengan adanya jalan lebar yang berada persis di pinggir pantainya. Satu sisi lain dari jalan aspal ini dipenuhi tegakan pohon enau, yang orang setempat menyebutnya pohon sabuak yang buahnya biasa dijadikan minuman seperti kelapa dengan nama buah siwalan.
Kitapun dapat menyaksikan ketika penduduk sedang air pohon enau dari ujung tunas bunganya yang dipotong, yang tetesan airnya akan ditampung dalam jerigen. Air ini adalah tuak, minuman khas berkadar alkohol tinggi yang dapat memabukan bagi yang meminumnya. Air tuak ini kalau digodog atau diolah kembali akan menjadi minuman keras yang kadar alkoholnya lebih tinggi lagi dengan nama ‘sofi’. Sofi yang lebih mahal dari tuak, sangat populer di beberapa masyarakat.
Ketika sore hari tiba, pengunjung pantai Lasiana mulai berdatangan. Mereka kebanyakan adalah remaja yang mau main sepak bola atau hanya bercengkerama bersama teman-temannya. Para remaja membuat kelompok sendiri-sendiri untuk bermain sepakbola di atas hamparan pasir putihnya. Saya hitung setidaknya ada 6 kelompok remaja yang sedang main sepakbola. Namun, tidak ada satu-pun turis luar kota apalagi asing yang datang ke pantai ini. Di seberang sana, matahari mulai condong ke barat dan warna keemasan mulai melukis langit  di atas laut Teluk Kupang. Warna emas kemerahan di ujung langit sana semakin meredup seiring malam menjelang yang dibarengi bentuk matahari bulat tertelan bumi. Keindahan matahari tenggelam di pantai ini, melebihi keindahan sunset di Uluwatu Bali, seperti yang saya saksikan beberapa minggu lalu. Namun, banyak perbedaan suasana sunset antara di Lasiana dengan di Uluwatu. Disini seolah tidak ada yang peduli dengan keindahan sunset tersebut. Mungkin bagi orang setempat, fenomena alam itu sudah sangat biasa. Yang sedang bermain bola, mereka tidak sedikit-pun menolehnya, yang sedang bercengkerama, tidak peduli dengan keindahan alam itu. Berbeda dengan di Uluwatu, Tanah Lot, yang memang fenomena sunset itu untuk ‘dijual’ kepada turis. Sayang sekali. Mungkin perlu promosi yang lebih kuat, bahwa ada keindahan yang luar biasa pada sore hari di pantai Lasiana.
Masuk pantai ini hanya Rp 1000/orang, itu-pun bagi yang mau membayarnya. It’s peny. Pantas saja, kalau di pantai ini terutama di pinggir pasir putih di Oesapa, banyak bertebaran sampah laut maupun sampah domestik. Karena dengan pendapatan yang kecil, pihak pengelola, tidak akan sanggup menggaji petugas kebersihan yang diperlukannya. Tapi kan sayang, kalau pantai seindah ini harus dibiarkan tidak terkelola.
Jalan masuk ke Pantai Lasiana yang asri
Pantai Lasiana
Warga sedang bermain-main di pantai Lasiana
Lasiana
Deretan pohon enau di bagian pantai Oesapa
Pantai Oesapa bagian dari Lasiana
Pantai Oesapa
Fasilitas wisata di Oesapa
Perahu nelayan di Oesapa
Bercengkerama di Lasiana
Suasana ketika sore hari tiba
Sunset di pantai Lasiana

Read More --►

Minggu, 28 April 2013

Pandangan orang Timor terhadap Laut Sawu

Laut Sawu 
Perairan laut secara umum memiliki fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial. Kita harus bijak untuk memanfaatkannya dengan ketiga fungsi tersebut, demikian juga untuk perairan laut Sawu. Laut Sawu berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah dideklarasikan sebagai Taman Nasional Perairan (TNP) berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 38/MEN/2009 tentang Pencadangan Kawasan Koservasi Perairan Laut Sawu dan Sekitarnya. Kawasan konservasi TNP Laut Sawu seluas 3.521.130Ha atau sekitar ¼ luasan kawasan konservasi di Indonesia (luas kawasan konservasi di Indonesia, sampai Juli 2012 adalah 15,78 juta Ha) dimana di kawasan konservasi ini telah menjadi habitat dari beberapa jenis ‘ikan’, yaitu setidaknya ada 14 jenis paus yang antara lain terdiri dari: paus biru (blue whale), paus sperma (sperm whale), paus pembunuh kerdil (pigmy killer whale), paus kepala semangka (melon headed whale), dari jenis lumba-lumba (dolphin) diantaranya: lumba-lumba paruh panjang, lumba-lumba totol, dari jenis penyu, terdapat: penyu hijau, penyu sisik, dan penyu belimbing, belum lagi berbagai jenis karang, dan berbagai jenis ikan karang. Dari sedikit data tersebut memang sudah selayaknya bahwa laut Sawu harus ‘dirawat’ sebaik-baiknya. Bahkan, bagi orang Timor sendiri, laut Sawu adalah perairan yang harus dijaga, sebagaima tulisan di bawah ini.

Laut Sawu di Mata Orang Timor
Tulisan ini saya kutip dari tulisannya Piet Manesat SVD, M.A. dengan judul Pandangan Orang Timor Terhadap Alam Sekitar dalam buku Kebudayaan: Sebuah Agenda (Dalam Bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya), disunting oleh Gregor Neonbasu SVD,PH.D. yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2013 (hal 73-81):
Kebudayaan adalah cara berpikir, cara hidup, cara bertindak, dan cara berkarya seseorang. Dari analisis mendasar tentang tentang kebudayaan, jelas sekali bahwa manusia pada prinsipnya hidup dalam perpaduan dunia kemarin, dunia hari ini, dan dunia hari esok.
Cara berpikir seseorang diatur oleh pengalaman perpaduan yang mendasar dari ketiga waktu di atas. Cara bertindak dan berkarya manusia juga tidak dapat terlepas dari perpaduan pengalaman yang sama.
Seturut ceritera turun menurun, selain orang Timor secara keseluruhan, dikenal juga cara dan pola hidup manusia Atoni Pah Meto. Orang mengenal mereka sebagai peramu, yang berarti suka berpindah-pindah tempat akibat peperangan atau bahaya penyakit, atau oleh tersebar oleh keagamaan asli dan alam sekitar yang tidak bersahabat dengan umat manusia. Keadaan yang tidak bersahabat disebut: afu i nata’an (Uab Meto) atau rai nee makaas/manas (Tetun), yang secara harapiah berarti tanah tempat tinggal ini panas.
Bagian dari orang Timor yaitu masyarakat Atoni Pah Meto menyebut laut Timor sebagai Taes Mone (Laut Jantan) karena sifatnya kasar, ganas, dan jahat. Sedangkan laut Sawu disebut sebagai Taes Feto (Laut Betina) karena sifatnya lembut, tidak ganas, dan tidak kasar. Orang Belu menyebutnya Tasi Mane dan Tasi Feto.
Menurut cerita-cerita dulu, seluruh daerah seantero Timor digenangi air laut, kecuali Nipumnasi (sebuah perbukitan di wilayah perbatasan Biboki Selatan dan Biboki Utara). Bukit itu sangat sakti, sehingga tidak digenangi air. Karena itu, semua orang berlindung di bukit itu. Air laut menjadi marah dan tidak mau surut untuk kembali ke asalnya jika orang-orang itu tidak memberinya korban. Karena itu, orang menjadi takut, sehingga mereka mulai berunding dan memutuskan untuk mengorbankan seorang anak laki laki dan seorang anak perempuan, karena sebelumnya air laut menolak korban berupa lesung yang penuh berhiaskan muti (kalung emas), tais, dan beti (kain sarung perempuan dan laki-laki). Anak laki-laki dikorbankan ke arah selatan dan anak perempuan dibuang ke arah utara. Setelah itu, air laut membelah menjadi dua bagian: yang satu mengalir menuju ke selatan menjadi Taes Mone (laut Jantan) dan satunya mengalir ke utara menjadi Taes Feto (Laut Sawu).
Di pantai-pantai, ada beberapa pantangan yang mengandung ajaran moral, kebersihan lingkungan, dan kelestarian alam. Antara lain, apabila dalam perjalanan, seseorang terantuk pada kayu atau batu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata sumpah serapah atau maki-makian. Karena cara seperti itu akan mengundang bencana dan malapetaka. Larangan lain adalah, jangan membuang hajat di sembarang tempat, terutama di pantai. Buanglah di tempat yang jaraknya 2 km jauh dari pantai, sebab pantai adalah pekarangan rumah Tais Feto, sehingga tidak boleh dikotori. Pada kolam-kolam khusus yang ada ikan dan udang, orang tidak boleh menangkapnya pada sembarang waktu. Apabila tidak, akan datang bencana seperti disambar buaya.

Laut Sawu
Read More --►

Rabu, 15 Agustus 2012

Hilangnya Sempadan Pantai Kota Kupang

Sebenarnya pada bagian bagian tertentu, pantai di kota Kupang berpasir putih dan bagus untuk wisata, contohnya di pantai Kelapa Lima. Namun, karena kebutuhan akan lahan terutama untuk perhotelan, perkantoran, dan restoran yang tinggi, maka pantai-pantai tersebut kini sudah terkooptasi oleh bangunan-bangunan tersebut, apalagi sempadan pantainya.
Karena pantai di kota kupang umumnya berkontur landai, maka perhitungan sempadan pantai yang lebarnya 100 meter dari titik pasang tertinggi, tidak terlalu sulit untuk diterapkan. Di lain pihak dengan kontur pantai yang landai, justru mengundang pemodal untuk memanfaatkannya untuk kegiatan properti, karena biaya kontruksinya akan relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang berkontur tebing.
Sayangnya, sempadan pantai yang memiliki fungsi sebagai:
1.    Perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami;
2.    Perlindungan pantai dari erosi dan abrasi;
3.    Perlindungan sumberdaya buatan di pesisir dari badai, banjir, dan bencana alam lainnya;
4.    Perlindungan terhadap ekosistem pesisir, seperti lahan basah,   mangrove, terumbu karang, padang lamun, gumuk pasir, estuaria, dan delta;
5.    Pengaturan akses publik; serta
6.    Pengaturan sistem hidrologi, saluran air, dan limbah
Fungsi-fungsi tersebut akan hilang dan setidaknya akan mengundang resiko degradasi lingkungan pesisir dan bencana yang lebih besar lagi. Kalau ini terjadi cost yang akan ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat akan jauh lebih besar dari nilai yang diperolehnya. 
Ikannya besar besar, di Pasar Ikan Oeba-Kota Kupang
Karena pantainya, Kota Kupang banyak didatangi oleh yacht dari Australia

Pantai Kelapa Lima di Kota Kupang tahun 2005 yang indah dan lebar
Pantai Kelapa Lima pada Agustus 2012 yang sudah terkooptasi bangunan
Proses pengurugan pantai Kelapa Lima untuk berbagai properti
Apabila pembangunan pantai tidak terkendali, bagaimana dengan sumberdayanya?

Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving