Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2013

Wisata Rumah Si Pitung di Marunda Jakarta Tanpa Disertai Informasi yang Memadai


Mendengar dan melihat tayangan rumah Si Pitung di media massa sudah sering saya dapatkan namun saya belum pernah tahu rumah itu sesungguhnya. Baru pada hari Minggu (10/10/2013) saya berkesempatan untuk mengunjunginya. Bagi orang awam yang akan mengunjungi rumah Si Pitung ini, saya prediksi akan mengalami kesulitan karena letaknya berada jauh dari jalan protokol. Letaknya berada pada kawasan jasa pendukung kepelabuhanan Tanjung Priok sehingga terasa ‘nyempil’ diantara serakan tumpukan kontainer. Mudahnya, untuk mendapatkan lokasi rumah Si Pitung ini, pakai saja ancar-ancar lokasi Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda dan rumah Si Pitung ini persis berada di belakang lokasi STIP tersebut.

Rumah Si Pitung adalah rumah kayu yang berbentuk panggung dengan luasan sekitar 150 m2 yang terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan hanya satu tempat tidur. Di ruang tamu terdisplay seperangkat meja kursi kayu kombinasi rotan, di dapur juga didisplay seperangkat alat masak beserta tungkunya, dan yang menarik adalah kamar Si Pitungnya, dimana disitu ada ranjang berkelambu sebagai alat anti nyamuk kemudian kasur bersprei putih dengan bantalnya, serta di pinggir kasur diletakkan satu Alqur’an yang mencerminkan bahwa Si Pitung adalah seorang muslim yang saleh.

Sebenarnya secara arsitektur design baik eksterior maupun interior serta material rumah ini, tidak ada yang istimewa. Mungkin banyak rumah lain yang lebih bagus dan lebih antik dari rumah Si Pitung ini. Rumah ini menjadi menarik karena menyangkut seorang legenda masyarakat Betawi/Jakarta ahir abad 19. Banyak versi dari cerita tentang Si Pitung ini, bisa versi lokal, Cina, atau Belanda. Secara versi lokal, Si Pitung ini digambarkan sebagai sosok jagoan yang berkeadilan seperti digambarkan pada banyak komik. Si Pitung bermusuhan dengan pihak Belanda namun sangat baik terhadap masyarakat sekitarnya. Lain lagi ceritanya kalau menurut versi Belanda. Menurut versi Belanda; sosok Si Pitung digambarkan kebalikannya dari versi lokal. Cerita sejarah memang tergantung siapa pembuatnya.

Rumah Si Pitung yang merupakan bagian sejarah budaya Betawi/Jakarta dan sudah dijadikan destinasi wisata di Jakarta maka seyogyanya untuk dikelola secara profesional serta melengkapi berbagai pendukung kepariwisataannya antara lain: akses menuju rumah Si Pitung, kebersihan lokasi sekitarnya, penghijauan lokasi rumah Si Pitung, dan yang lebih penting adalah melengkapinya dengan informasi terkait legenda Si Pitung dan terkait rumah Si Pitung-nya itu sendiri. Kalau tanpa informasi yang seperti saat ini berjalan, apa bedanya rumah dengan rumah lainnya? Karena rumah ini adalah sejarah dan sejarah itu sendiri adalah informasi, maka rumah ini akan lebih bermakna kalau dilengkapi dengan dukungan informasi terkait. Kita bisa belajar dari negara Singapura, Australia, dan lainnya, mereka menjual pariwisatanya dengan melengkapi berbagai informasi terkait sehingga sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa. Rumah Pecinan peninggalan jaman dulu di Singapura yang tidak berbeda dengan rumah-rumah Pecinan yang ada di sekitaran Glodok Jakarta atau tempat lainnya di kota-kota Indonesia, tetapi di Singapura lebih menarik dan dijadikan tempat wisata karena disertai dengan informasi sejarah Pecinan-nya.
Maka tentunya akan lebih menarik kalau Rumah Si Pitung ini dilengkapi dengan informasi sejarahnya dan jangan takut dengan berbagai versi sejarahnya.
Rumah Si Pitung di Marunda Jakarta
Pintu Gerbang Rumah Si Pitung dan masuknya masih gratis
Beranda depan dari rumah Si Pitung
Ruang tamu
Ruang keluarga
Kamar tidur Si Pitung
Di dalam rumah ada secuil informasi tentang Si Pitung
 
Sosok Si Pitung?
Akan lebih menarik kalau dikelola dengan profesional
Akses ke Rumah Si Pitung
Akses masuk ke wisata Rumah Si Pitung
Kebersihan lingkungan sekitar perlu ditingkatkan
Rumah Si Pitung diantara pertambakan dan daerah industri
Rumah Si Pitung berada diantara terminal terminal peti kemas
 
 
 
 
 
Read More --►

Minggu, 18 Agustus 2013

Pawai Budaya Nusantara 2013 di Jakarta, Bagus Sekali

Baru kali ini di Jakarta ada acara karnaval budaya sebesar dan semeriah ini! Karnaval yang berlangsung pada hari Minggu 18 Agustus 2013 di lapangan Monas Jakarta terkait dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68, dikemas dengan judul ‘Pawai Budaya Nusantara 2013’ dengan menurunkan peserta dari perwakilan seluruh provinsi yang ada di Indonesia ditambah beberapa dari peserta BUMN.  Tampilan peserta pawai yang terkonsep bagus yang dikombinasikan dengan kreatifitas tinggi serta sangat variatif. Walau-pun rangkaian peserta pawai budaya ini panjang sekali, tidak cukup 2 jam untuk menyaksikan seluruh rangkaian peserta pawai dari 33 provinsi ini namun tidak membosankan.
Sebelumnya, pada jam 11, penonton pawai budaya sudah mulai berdatangan di dalam Monas atau di jalan-jalan di sekitaran Monas yang akan dilalui oleh iring-iringan peserta pawai, dan para peserta ada yang sudah siap tampil, ada yang sedang dirias, ada yang sedang latihan, tapi ada juga rombongan dari salah satu provinsi yang baru datang dengan 3 bus besar. Para peserta pawai ini sudah disiapkan untuk menempati tendanya masing-masing. Jam 12 lewat, tiba-tiba turun hujan dengan derasnya, kalang kabut-lah para peserta dan calon penonton. Ada peserta wanita pawai dari Prov. Lampung yang sudah rapih berdandan laksana bidadari dengan berbagai bunga di sekujur tubuhnya. Hancur-lah make up  tebal di pipinya serta hampir semua lepas bunga yang sudah terpasang rapih di tubuhnya. Hebatnya, semua tetap semangat, mengulang kembali, apa yang rusak karena terguyur air hujan.
Jam 13.30 syukur hujan akhirnya reda dan jadwal pawai budaya yang direncanakan dimulai pukul 14.00 bisa berjalan sesuai rencana. Dimulai dari peserta provinsi Jawa Timur yang salah satunya menampilkan ‘karnaval Jember’ yang sudah populer itu. Peserta dari Jawa Timur ini mendapat sambutan hangat dari penonton,  kemudian provinsi Jambi, Papua dan seterusnya. Sebagian besar para peserta pawai budaya ini menggunakan kostum dari bahan yang tersedia melimpah di daerahnya, misalnya peserta dari provinsi Lampung yang berkostum dari daun pisang atau peserta dari Sumatera Utara yang menggunakan kulit kayu, bahkan ada yang menggunakan kain bekas atau kain perca. Musik-musiknya-pun sangat menggugah perasaan dan membuat decak kagum, misalnya peserta dari provinsi Sulawesi Barat yang menampilkan musik Sipamandaq yaitu perkusi yang terbuat dari buah kelapa dengan balok kecil kayu diatasnya. Balok kayu semacam alat musik kolintan tapi yang ini hanya terdiri 4 bilah kayu. Ketika dibunyikan bersama, suara yang keluar amat harmoni yang lebih mirip nada-nada suara dari tanah Melayu. Peserta dari Papua dan Papua Barat dengan pakaian tradisionalnya mendapat aplaus yang hangat dari penonton.
Senang sekali melihat pawai budaya ini, kami kini nyata mengetahui bahwa Indonesia itu sangat kaya akan budaya dan kami menjadi makin bangga dengan Indonesia. Sambutan dari masyarakat-pun begitu antusiasnya. yang datang untuk menyaksikan acara pawai budaya melimpah sampai ribuan orang dan banyak dari mereka serius menontonnya serta ikut bergembira ria. Bagaimana kalau Pawai Budaya Nusantara semacam ini dijadikan agenda budaya tahunan? Karena selain menghibur juga mengenalkan secara langsung keaneka ragaman budaya Nusantara kepada masyarakat serta tentu dapat menarik banyak turis untuk datang.



Peserta dari Prov. Lampung
Alat musik dari Prov. Sulawesi Barat



Read More --►

Selasa, 19 Februari 2013

Pindah Tempat Duduk di Pesawat Harus Bayar Lagi

Ketika ada tujuan kunjungan ke Manila Filipina, sponsor memberi tiket Philippine Airlines dan transit di bandara Changi Singapore. Pesawat yang digunakan Philippines Airlines adalah jenis Airbus A320-200, berbeda dengan kebanyakan pesawat maskapai penerbangan di Indonesia yang mayoritas menggunakan pabrikan Boeing. Interior Airbus terkesan lebih lapang karena pemilihan warna yang cerah yaitu perbaduan antara biru dengan putih, walaupun sebenarnya ukuran lebar tempat duduk termasuk kesempitan. Perangkat screen video-nya bukan yang personal yang umum di pesawat Boeing menempel di belakang headrest tetapi di Airbus in, screen videonya menempel di plafon dimana program tayangan diatur secara terpusat.
Penerbangan rote pertama dari Jakarta ke Singapore ditempuh selama 1 jam 20 menit dan kami hanya diberi satu potong roti kecil dengan air mineral dan orange jus dalam cup kecil. Pada penerbangan kali ini, tempat duduk hanya terisi seperlima-nya. Masih banyak tempat duduk yang kosong. Karena di kursi sejajar saya ada teman lain, saya ingin pindah ke banyak kursi yang masih kosong. Kebetulan persis di belakang saya adalah kursi emergency yang cukup lebar dibanding kursi asal kami dan kosong. Ketika sudah duduk di kursi emergency itu, saya dihampiri salah satu pramugari dan pramugari memberi tahu: ‘kalau anda mau duduk di kursi emergency ini, anda harus nambah sebesar 20$US untuk penerbangan Jakarta-Singapore’. Wah, saya agak malu sedikit dan engga jadi dech pindah tempat duduknya. Kemahalan untuk penerbangan dengan minim fasilitas ini.
Pesawai Philippine Airline di Bandara Ninoy Aquino di Manila


Terkesan lapang
Padahal ukuran lebar kursinya sempit juga
Pramugari Philippine sedang bertugas
Penerbangan internasional tetapi hanya satu potong roti yang didapat

Read More --►

Minggu, 20 Januari 2013

Banjir Jakarta, Penanggulangannya Melalui Penataan Ruang di Wilayah Hulu dan Rehabilitasi Wilayah Pesisirnya


Banjir di Jakarta ternyata sudah berlangsung sejak lama. Tahun 1654 tercatat Jakarta sudah dilanda banjir hebat padahal pada waktu itu wilayah Jakarta dan wilayah yang berada di atasnya masih berupa hutan dan perkebunan tanaman keras yang mana tidak perlu dipertanyakan lagi akan kemampuannya menyerap air hujan. Berbeda dengan saat ini, terjadi hujan kecil saja di dalam kota Jakarta, sudah pasti menimbulkan genangan-genangan air menyerupai banjir yang akan sangat mengganggu trasportasi, bisnis dan lainnya di ibu kota ini. Apalagi kalau terjadi curah hujan yang tinggi di Jakarta dan di wilayah di atasnya seperti di Bogor, Puncak, dan Cianjur, seperti yang terjadi pada bulan Januari 2013 ini.
Ada 13 sungai yang akan membawa limpasan air hujan (run off) menuju jakarta. Dan Jakarta tidak akan mampu menampungnya, ditambah lagi banjir di wilayah pesisirnya yang terjadi karena luapan air pasang laut atau rob. Banjir Januari 2013 khusus yang terjadi di Pluit dan wilayah pesisir sekitarnya adalah juga karena rob. Tidak heran pada waktu yang sama, apabila di wilayah lainnya di Jakarta, air banjirnya sudah mulai surut tetapi di Pluit malah semakin meninggi (Detik.Com, 20 Januari 2013). Jadi penyebab banjir Jakarta 2013 terjadi akibat:
1. Berkurangnya wilayah serapan air akibat konversi lahan pepohonan keras ke lahan terbuka dan bangunan-bangunan. Hal ini terjadi mulai dari wilayah muara sampai di hulu yang berada di kawasan Puncak,
2. Adanya penurunan muka tanah (land subsidence) Jakarta secara terus menerus,
3. Sedimentasi berat di 13 sungai yang melewati Jakarta,
4. Tekanan ledakan penduduk yang membutuhkan sarana prasarana dan sandang pangan yang kian meningkat, dan
5. Perubahan signifikan ekosistem pesisir di pantai utara Jakarta.

Sebagai contoh semakin menyusutnya daerah resapan air di wilayah Puncak (lihat gambar. 1) dimana pada tahun 1995, hutan primer, hutan skunder, dan perkebunan masih terlihat luas, namun 10 tahun berikutnya yaitu pada tahun 2005, luasan hutan primer, skunder, dan perkebunan sudah –berkurang banyak- yang beralih fungsi diantaranya menjadi pemukiman. Persoalan lain adalah adanya fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) sekitar 4 - 6 cm/tahun ditambah lagi kenaikan paras muka air laut sekitar 0,8 cm/tahun, menjadikan wilayah Jakarta seperti cekungan besar yang menjadi genangan air raksasa. Sedimentasi hebat di 13 sungai yang semakin membuat dangkal sungai-sungai tersebut selain oleh mateil bawaan dari hulu dan tengah DAS, seperti lumpur dan pasir, ditambah lagi oleh sampah dan limbah padat dan cair yang dibuang sembarangan oleh masyarakat. sehingga sungai-sungai tersebut tidak dapat menampung debit air yang ada. Dan jangan lupa juga, bahwa adanya perubahan kondisi ekosistem pesisir yang terjadi di wilayah pantai utara Jakarta, akan menambah persoalan Jakarta seperti banjir. Tutupan mangrove di wilayah jakarta kini tinggal 20 hektar saja jauh dari ideal sebagai sabuk pengaman wilayah pesisirnya.
Persoalan banjir di Jakarta lebih kompleks dibanding dengan di Amsterdam. Banjir di Amsterdam hanya karena air pasang laut semata. Sehingga dengan membuat tanggul laut raksasa yang membentengi kota Amsterdam, selesai sudah persoalan banjir yang mengancam kota itu.
Jakarta memang mempunyai rencana untuk membuat tanggul raksasa yang disebut Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) yang memanjang mulai Marunda sampai Dadap di Tanggerang, namun proyek ini perlu kajian lebih mendalam lagi terkait kebiasaan masyarakat kita yang suka membuang sampah sembarangan, mata pencaharian masyarakat pesisir dan ekosistem pesisirnya. Jangan sampai perairan dalam tanggul yang direncanakan, yang nantinya akan seperti laguna dimana air akan terperangkap yang tidak dapat leluasa keluar masuk, maka perairan dalam ‘laguna’ tersebut  akan mengalami sedimentasi yang luar biasa karena akan menjadi perangkap polutan padat maupun cair yang dibuang sembarangan oleh masyarakat dan tentunya dengan adanya tanggul raksasa tersebut juga merubah ekosistem pesisir yang akan mempengaruhi mata pencaharian nelayan dan pembudidaya ikan setempat. Pendapat saya, lebih praktis dan murah namun efektif dengan merahabilitasi hutan mangrove-nya saja. Jadi kalau mau mengurangi banjir di Jakarta secara signifikan, setidaknya harus memperhatikan:
1. RTRW di wilayah prov. Jawa Barat dan Prov.Banten, serta RTRW DKI Jakarta sendiri,
2. Daerah resapan air, dengan cara memperluas Ruang Terbuka Hijau atau RTH,
3. Merubah kebiasaan masyarakat dari kebiasaan buruk  dalam membuang sampah secara sembarangan,
4. Merehabilitasi ekosistem pesisir melalui rehabilitasi ekosistem mangrove.

Namun saya lebih dikhawatirkan dengan kebiasaan masyarakat kita yang cepat melupakan suatu kejadian. Jangan-jangan 2 minggu lagi persoalan banjir Jakarta sudah dilupakan dengan juga melupakan segala program pengendalian banjirnya karena masyarakat sudah harus menghadapi persoalan lain lagi. Jangan sampai persoalan banjir ditunda dulu baru tahun depan di buka lagi saat banjir yang lebih besar datang mernerjang Jakarta. Semoga tidak.
Gambar 1. Penyusutan Luasan Hutan dan Perkebunan sebagai daerah resapan air di Puncak
Land Subsidence di Jakarta
Rencana tanggul raksasa Pantura Jakarta atau Jakarta Coastal Defence Strategy
Luas Wilayah Banjir di Jakarta yang semakin meningkat
Simulasi wilayah Jakarta yang tenggelam pada 2040 akibat kenaikan paras muka air laut

Read More --►

Jumat, 18 Januari 2013

Banjir Jakarta 15 – 17 Januari 2013, akibat konversi dan Kerusakan lahan di Wilayah Serapan Air di Daerah Hulunya

Saya merasakan sendiri ketika pagi-pagi berangkat kerja di Jakarta dan setelah menempuh perjalanan dari Bogor ke Cawang Jakarta selama 4 jam dalam keadaan hujan ringan dan sedang, dan sesampainya di sekitaran Kebon Nanas Tol Wijoto Wiyono kendaraan banyak yang menepi ditambah lagi banyak motor yang masuk jalan tol, wah ada apa ini? Ternyata Jakarta dilanda banjir hebat, beruntung saya berada di jalan tol layang kalau berada di jalan arteri mungkin kejadian Februari 2007 dimana kami terjebak banjir di sekitaran Cempaka Mas sampai larut malam bisa terulang kembali.
Ada yang mengatakan banjir Jakarta tanggal 17 Januari 2013 ini lebih hebat dari banjir tahun 2007, setidaknya pendapat itu didukung dengan kenyataan bahwa Bundaran Hotel Indonesia yang menjadi landmark ibu kota DKI Jakarta sudah terendam banjir.
Kenapa bisa terjadi banjir seperti ini, salah satu faktor penyebabnya adalah konversi lahan serapan air yang berupa hutan, tegalan, sawah, dan perkebunan di daerah hulu sungai yang mengalir ke Jakarta atau di sekitaran Bogor telah berubah menjadi bangunan-bangunan beton, baik itu sebagai perumahan, pabrik atau bangunan infrastruktur lainnya. Bendung Katulampa di Bogor yang merupkan DAS Ciliwung yang dulunya berfungsi untuk membagi atau mendistribusikan air ke persawahan yang ada di sekitarnya yang mana berarti air yang akan mengalir ke hilir atau ke Jakarta akan berkurang karena digunakan untuk irigasi persawahan, kini air itu mengalir langsung ke Jakarta, belum lagi sungai-sungai itu yang harus menampung air limpasan air hujan (run off) dan limbah cair maupun padat dari perumahan, pabrik, dan bangunan yang menutupi tanah di sekitaran sepanjang sungai-sungai tersebut. Sehingga debit air di sungai-sungai itu semakin ke hilir sudah pasti akan semakin membesar tetapi tambah dangkal akibat sedimentasi. Ditambah lagi sempadan sungainya yang tidak terkelola dengan baik, jadilah banjir hebat di Jakarta.
hal yang harus diperhatikan agar banjir  di Jakarta tidak selalu terjadi setiap tahun adalah komitmen terhadap RTRW di daerah hulu (Puncak dan Bogor), daerah tengah (Cibinong sampai perbatasan Jakarta), dan di hilirnya sendiri (DKI Jakarta). Kalau tidak? Setiap tahun akan mengalami banjir terus bahkan akan semakin hebat.

(Sumber diantaranya: Kebijakan Jawa Barat dalam mendukung Pengelolaan Hulu-Hilir Teluk Jakarta. Forum Pimpinan Daerah dalam Pembangunan)
Banjir di Jakarta tahun 2007
Kondisi DAS Ciliwung, dari hulu ke hilir
Kondisi eksisting di DAS Ciliwing
Tutupan lahan di Jakarta
Konversi lahan di daerah Puncak
Faktor kerentanan wilayah DKI Jakarta
Selain komitmen terhadap RTRW juga perlu dilihat faktor lainnya

Read More --►

Minggu, 11 November 2012

Snorkeling dan Diving di Pulau Putri-Kepulauan Seribu

Banyak program wisata yang ditawarkan ke pengunjung pulau Putri, tentu ada yang gratis dan ada yang mesti bayar. Bagi yang suka nyelam atau diving, yang suka snorkeling, naik kano, naik banana boat, ada tersedia disini. Tarifnya beda-beda, dari naik kano yang bayar Rp 50 ribu /orang/30 menit sampe Rp 500 rb/orang untuk diving/nyelam. Kalau untuk nyelam, dive site-nya agak jauh dan berada dekat pulau Matahari jadi harus naik boat lagi. Saya yang tidak bisa diving, karena itu saya pilih naik  glass bottom boat saja untuk bisa melihat dunia bawah air di sekitaran pulau Putri. Program ini gratis lagi. Perahu berkapasitas 20 orang dengan interior dipasangi kaca jendela dan dengan jendela kaca ini kita dapat melihat isi laut sekitaran pulau Putri. Perahu ini berjalan menyusuri tebing karang di sekitar pulau Putri  selama 30 menit. Memang pemandangan karang  tidak seindah yang ada di dive site pulau Matahari malahan terlihat sebagian karangnya telah rusak, baik karena akibat pemutihan / corral bleching ataupun karena ulah manusia. Namun demikian dengan menggunakan perahu glass bottom ini setidaknya kita telah mengetahui bagaimana keadaan ekosistem terumbu karang di sekitaran pulau Putri-Kepulauan Seribu.
Perahu bottom glass dimana lewat jendela kaca, kami dapat melihat karang
Kondisi yang lumayan bagus
Karang yang rusak
Sebagian besar memang kondisinya sudah rusak
Yang masih relatif bagus harus segera dirawat

Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving