Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label sumatera utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumatera utara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Oktober 2013

Tangkahan atau Tempat Pendaratan Ikan Swasta di Sibolga - Sumatera Utara

Kota Sibolga di Sumatera Utara sudah sejak dahulu dikenal sebagai pusat perikanan tangkap di pesisir barat Sumatera dimana laut Sumatera bagian barat memiki potensi perikanan tangkap yang besar, lebih besar daripada potensi perikanan tangkap di pesisir timur Sumatera. Dari potensi perikanan tangkap yang besar tersebut terlihat dengan mudah dilihat dari banyaknya kapal-kapal penangkap ikan berbagai ukuran yang bersandar di sepanjang pantai kota Sibolga. Yang menarik dari kapal-kapal penangkap ikan yang sedang bersandar atau sedang melakukan bongkar muat tersebut yaitu tidak dilakukan di tempat pendaratan ikan resmi di Pelabuhan Perikanan Nusantara yang ada disana melainkan dilakukan di pangkalan atau tempat pendaratan ikan yang dikelola oleh swasta. Tempat pendaratan ikan  yang dikelola oleh swasta tersebut lebih populer dengan sebutan 'tangkahan'. Keberadaan tangkahan di kota Sibolga mencapai hampir 50 buah yang terdiri dari berbagai ukuran dan termasuk yang sudah tidak beroperasi lagi. Besar kecilnya tangkahan ditentukan oleh jumlah kapal yang dimiliki pemilik tangkahan dan kapal ikan milik orang lain yang yang menjadi langganannya.
Salah satu tangkahan yang paling besar dapat melakukan bongkar muat ikan sampai 10 ton per hari dengan melibatkan tenaga kerja sampai 100 orang dengan jumlah kapal yang menjadi anggota tangkahan tersebut mencapai 200 buah dengan ukuran > 30 GT. Kenapa tangkahan lebih ramai dibanding aktivitas bongkar muat ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara? Tangkahan memberikan pelayanan tidak hanya soal kegiatan bongkar muat dan pengisian BBM serta air bersih, tetapi juga memberikan pelayanan pinjaman untuk biaya melaut, pengolahan dan pemasaran ikan hasil tangkapan, bahkan dapat mengurus perizinan kapal dan lainnya. Berbeda dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara yang belum menyediakan fasilitas jasa diluar pengisian BBM, air bersih dan tempat melelang ikan hasil tangkapan. Tangkahan lebih mengikat pemilik kapal penangkap ikan untuk mendaratkan ikannya disitu.
Tentang data-data perikanan. Sebenarnya data-data ikan yang didaratkan di tangkahan sangat lengkap, mulai dari jumlah kapal yang bongkar muat ikan setiap harinya, jumlah ikan hasil tangkapan, jenis ikan yang tertangkap, ukuran ikan yang tertangkap sampai harga dari tiap jenis dan ukurannya. Suatu data yang akurat dan komprehensif dari produksi ikan hasil tangkapan dimana data-data tersebut seharusnya dapat membantu meningkatkan akurasi statistik perikanan. Namun sayangnya, akses terhadap data perikanan tangkap di tangkahan-tangkahan tersebut sulit dilakukan.
Hasil tangkapan ikan yang didaratkan di salah satu tangkahan
Ikan hasil tangkapan tiap kapal disortir berdasarkan jenis dan ukuran
Ikan hasil sortir ditimbang
Ikan hasil sortiran dari tiap kapal dicatat dengan baik
Ikan dari tiap kapal siap diantar ke pembeli langganan atau dijual di tangkahan

Read More --►

Pantai Pandan Tempat Wisata Favorit Masyarakat Tapanuli Tengah dan Sibolga serta tentang Sempadan Pantainya

Perjalanan pesawat udara selama 45 menit dari bandara Kualanamu Medan ke bandara Sibolga sangat menyenangkan karena ketinggian pesawat maksimal hanya 14000 kaki sehingga pemandangan di bawah dapat terlihat dengan jelas. Apalagi pemandangan indah yang disuguhkan oleh Danau Toba ketika pesawat yang ditumpangi kami melintas di atasnya. Kekagumanku belum selesai, begitu keluar dari pesawat kecil di Bandar Udara Sibolga atau nama resminya bandara Ferdinand Lumban Tobing di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) provinsi Sumatera Utara, perasaan langsung sunyi, sejuk, dan damai, tidak ada suara lain hanya semilir angin yang melintas di telinga ini. Perasaan sensasional yang sudah sangat lama tidak aku dapatkan. Itu Mengingatkan saya kepada suasana kampung kecil di lereng gunung di Jawa beberapa belas tahun lalu.
Bandaranya sederhana seukuran kira-kira 400m2 saja dan proses penanganan penumpang maupun barang dilakukan secara manual. Bandara yang mengambil nama dari putra daerah setempat yang menjadi Menteri Tenaga Kerja pertama pada jaman Presiden Soekarno, berada di tengah-tengah kehijauan kebun penduduk. Di sebelah bandara hanya ada rumah penduduk yang tidak seberapa banyak, hanya jumlah hitungan jari, itupun masih dalam bentuk sederhana. Keluar dari komplek bandara menuju kota dimana hotel tempat kami menginap melalui Jalan protokol dengan lebar cukup untuk dilalui 2 mobil ukuran sedang tetapi pemandangan kanan kiri dan di depan sangat asri dengan bukit-bukit yang menghijau. Rumah penduduk yang berada di kanan kiri jalan masih sederhana bahkan masih banyak yang berdinding kayu lapuk dengan atap dari ilalang begitu juga kehidupannya yang umumnya juga bersahaja.
Hotel tempat menginap kami kebetulan berada di pinggir pantai di kabupaten Tapanuli Tengah yang berjarak 30 km dari bandara dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Pantainya sangat populer di masyarakat kabupaten Tapanuli Tengah dan kota Sibolga. Pantai ini bernama Pantai Pandan. Pantai dengan panjang sekitar 2,5 km namun lebar pasir putihnya pada waktu surut terendah hanya 7 meteran saja. Pantai ini berada di dalam teluk kecil dengan pemandangan taburan pulau-pulau kecil serta bagan ikan di mulut teluknya. Pada sore hari kalau lagi beruntung kita dapat menikmati pemandangan matahari tenggelam atau sunset. Pantai Pandan menjadi favorit tempat wisata masyarakat setempat apalagi kalau hari libur. Dengan banyaknya masyarakat yang datang ke pantai ini, Sehingga banyak pula orang yang memanfaatkannya untuk kegiatan ekonomi mereka. Ada yang berjualan makanan, cindera mata, kaos, bahkan ikan nemo (clown fish) hidup. Makanan yang populer di pantai ini adalah goreng kepiting soka seukuran bungkus rokok, Makanan ini banyak dijajakan oleh ibu-ibu tua dengan harga hanya Rp 2000 saja. Cindera mata yang banyak dijual disini umumnya berbahan dasar dari kerang, karang, dan kulit penyu. Padahal jenis jenis tersebut termasuk jenis ikan atau satwa yang dilindungi menurut perundangan yang berlaku. Harga hiasan dari karang Rp 15rb, harga cincin dari kulit penyu hanya Rp 2000 saja. Ikan nemo hidup dijual Rp 10 rb per ekor. Ada cerita menarik tentang jualan ikan nemo ini. Waktu itu ikan nemo belum banyak diperjualbelikan. Suatu saat ada seorang pengunjung dari negara asing yang sedang tugas di pertambangan di kabupaten Tapanuli Tengah, dia melihat ada anak-anak bawa ikan nemo hidup di dalam plastik yang diisi air, orang asing ini merasa iba dengan ikan nemo tersebut, kemudian dia membelinya ikan nemo didalam plastik itu seharga Rp 50 rb dengan niat untuk dilepaskan kembali ke laut, engga tahunya, besok harinya banyak orang yang menjajakan ikan nemo hidup di dalam plastik dengan harapan banyak pengunjung untuk membelinya dengan harga tinggi seperti apa yang dilakukan oleh orang asing kemarin. 
Kembali lagi ke pantai Pandan, karena pantai Pandan berpasir putih dan relatif menarik pengunjung apalagi banyak fasilitas hiburan lainnya yang tersedia disini. Sayangnya ruang terbuka hampir habis sudah dimanfaatkan untuk berbagai bangunan. Lalu bagaimana dengan sempadan pantainya? Dalam rancangan Peraturan Presiden tentang sempadan pantai yang sudah masuk tahap finalisasi dan sempadan pantai yang nantinya diatur dengan Peraturan Daerah kabupaten/kota, disebutkan bahwa sekurangnya-kurang lebar sempadan pantai adalah 100 meter yang diukur dari pasang tertinggi. Untuk pantai yang memiliki tipe landai seperti Pantai Pandan ini tentunya akan memiliki lebar sempadan pantai lebih dari 100 meter.
Salah satu fungsi dari sempadan pantai adalah meminimalisir kerusakan bentang pantai sebagai dampak dari terjadinya bencana alam laut seperti gelombang besar dan tsunami yang sewaktu waktu dapat terjadi. Apalagi pantai Pandan berada di wilayah pesisir barat Sumatera bagian barat yang satu garis pantai dengan Nias atau Padang dimana beberapa tahun lalu pernah diterjang gelombang tsunami besar karena berdekatan dengan daerah lempeng patahan dasar laut yang selalu bergerak dinamis. Artinya secara faktual peluang terjadinya tsunami di pantai Pandan cukup besar. Pantai Pandan berada di dalam sebuah teluk kecil dan lebih-lebih di mulut teluknya berserakan pulau pulau kecil. Apabila tsunami datang ke pantai Pandan tentunya akan dihadang oleh mulut teluk dan pulau pulau kecil yang ada disitu. sehingga gelombang besar dan tsunami itu tidak sampai ke dalam teluknya dimana pantai Pandan berada. Letak pantai yang seperti pantai Pandan ini seyogyanya perlu menjadi faktor yang diperhitungkan dalam penentuan lebar minimal untuk sempadan pantainya. Jadi  sempadan pantainya tidak hanya  diperhitungkan dari tipe pantainya saja sehingga diharapkan tingkat fungsional dari sempadan pantai akan meningkat.
Pantai Pandan di Tapanuli Tengah yang indah
Menjadi favorit wisata masyarakat sekitarnya
Berada di dalam teluk kecil yang terhalang pulau-pulau kecil
Sempadan pantainya tinggal 7 meteran saja
Banyak bangunan yang berada persis di bibir pantai
 

Read More --►

Rabu, 17 Oktober 2012

Wisata Kota Medan. Mengunjungi “Rahmat” International Wildlife Museum and Gallery


Museum yang mengkoleksi berbagai jenis satwa liar awetan (taxidermy) dari berbagai negara baik yang berukuran kecil seperti serangga, kupu-kupu dan lainnya sampai harimau, badak, jerapah dan lain-lain berada di Jalan S. Parman, Kota Medan, cukup baik untuk sarana pembelajaran bagi para pelajar dan tidak hanya melulu sebagai ‘koleksi’ dari pemiliknya yang memang seorang pemburu.
Koleksi satwa-satwa liar taxidermy ada sekitar 3000 yang terdiri dari 1000 spesies, begitu banyak, sehingga dalam penempatan satwa-satwa awetan tersebut terkesan ‘umpel-umpelan’ dalam ruangan yang sempit, dan memang luas bangunan museum ini hanya 3000 m2 saja.
Taxidermy sendiri adalah seni mengembalikan bentuk satwa-satwa yang telah mati menjadi seperti aslinya seperti ketika hidup. Ahli taxidermy disebut taxidermist. Di kita sering menyebut satwa taxidermy dengan kata satwa opset-an. Taxidermy dapat dilakukan terhadap mamalia besar dan kecil, burung, ikan, amphibi, dan reptil. Namun taxidermy tidak dapat dilakukan sembarang orang. Sebagai contoh pengawetan satwa-satwa endemik Nusantara dilakukan di dalam negeri dengan cara memasukkan kapuk atau kapas ke dalam kulit dan tulang satwa yang akan diawetkan. Sehingga karena kapas kurang dapat membentuk lekuk satwa sesuai aslinya, maka hasilnya adalah bentuk dari satwa awetan itu kurang proposional. Ada yang berutnya bulat seperti drum minyak, ada leher satwa awetannya kepanjangan. Kan jadi aneh bentuknya. Sebagian besar satwa-satwa awetan/taxidermy yang berasal dari manca negara yang ada di museum “Rahmat” ini dilakukan di Nevada, Amerika dengan menggunakan material fiber, sehingga hasil ahir dari satwa awetan tersebut, persis sama dengan aslinya. Bagian-bagian satwa taxidermy yang diganti dengan fiber atau kapas adalah daging, lidah, dan mata. Bagian lainnya seperti kulit, kuku, tanduk, gigi, dan taring adalah asli.
Masuk museum ini hanya ditarik Rp 32rb untuk dewasa dan Rp 25rb anak-anak atau pelajar. Memang, kecil dibandingkan dengan biaya perawatan yang harus dikeluarkan oleh sang empunya museum ini. Namun demikian tidak ada salahnya, demi kemajuan museum ini sendiri untuk membenahi pengelolaannya supaya lebih proposional lagi. Beberapa saran untuk museum ini adalah: visualisasi tentang pemburuan satwa liar harus dikurangi banyak. Karena dengan pemburuan itu seperti yang dimengerti masyarakat umum adalah sebuah penganiayaan terhadap satwa. Dan di sisi lain mungkin saja menumbuhkan minat beberapa pengunjung untuk merasakan kegiatan berburu. Kalau perburuan itu dilakukan secara semena-mena tentunya itu adalah hasil yang tidak baik. Hal lain adalah penataan koleksi dengan back ground yang tepat mestinya. Masa ada harimau yang berada diantara pohon bunga sakura? Kemudian, suara latar, apapun satwa yang ditampilkan, hanyalah suara cicit burung. Mestinya kalau disitu ditampilkan hewan mamalia besar, suara latarnya adalah suara lenguhan sang satwa.
BTW, museum ini bagus dan perlu didukung keberadaanya. Jadi apabila berkunjung ke Kota Medan, tidak hanya beli durian atau bolu kukus, tetapi bisa menyaksikan hal lain, yang juga baik untuk anak-anak kita dan dunia ilmu pengetahuan. Yuk, kita kunjungi museum ini.    
Museum taxidermy di Kota Medan
Pintu masuk Museum Rahmat Wildlife bergaya Eropa yang menarik
Hasil taxidermy yang bagus
Koleksi satwa endemik Indonesia opset-an yang bagus
Koleksi taxidermy berbagai jenis kepiting
Hasil taxidermy/opset-an yang tidak baik sehingga bentuk satwa tidak proposional
BTW, museum ini membuat wisata di Kota Medan menjadi bervariasi

Read More --►

Durian Medan, Enak Sekali


Bulan Oktober ini sudah bukan musimnya durian lagi di Medan, Sumatera. Tapi karena sudah hobi menyantapnya, kita keukeuh harus ketemu itu durian Medan yang terkenal manis renyah. Setelah tanya sana sini termasuk kepada tukang bentor atau becak motor yang banyak berkeliaran di Kota Medan, ditunjukkanlah di ‘Ucok Durian’ yang ada di Jalan Sei Wampu atau Jalan Wahid Hasyim. Dan memang ternyata ‘ada’, duriannya-pun bertumpuk banyak sekali di depan warung-nya. Warung ‘Ucok Durian’ ini buka 24 jam. Boleh juga sebagai referensi, kalau sewaktu-waktu kepengen makan durian.
Durian-durian ini didatangkan dari berbagai daerah, tidak hanya dari kebun-kebun yang ada di Sumatera Utara, tetapi bisa dari Aceh, dari Jambi, dari Sumatera Barat dan lainnya. Sehingga stock durian tersedia sepanjang waktu.
Kami minta dipilihkan durian yang bagus yang artinya; manis, wangi, dan kering. Si abang pelayannya menyanggupinya, bahkan memberi garansi, kalau rasanya mengecewakan, boleh ganti gratis duriannya.
Makan durian seperti di tempat lainnya di Sumatera adalah bersama nasi ketan. Yang membedakan dengan tempat lainnya, di tempat Ucok durian ini, nasi ketannya dibungkus dengan daun pisang. Kalau di Kota Padang atau di Pekan Baru, nasi ketannya ditambahi parudan kelapa. Durian ketan ini bukan pengganti makan siang atau makan malam, tetapi tetap saja katagori sebagai camilan, padahal kalori yang dikandungnya melebihi porsi makan siang atau makan malam. Betul, nikmatnya ‘wah’ susah dikatakan. Enak sekali.
Kami berdua hanya sanggup melahap 2 durian yang masing-masing sebesar kepala dengan harga yang murah sekali, kalau dihitung dengan ukuran harga Jakarta. Harga durian-nya hanya Rp 25 rb!! Harga satu bungkus nasi ketan Rp 5 rb. Air putih gelas, malah gratis! Jadi kami bertiga setelah puas menikmati durian Medan dengan nasi ketannya, hanya menghabiskan Rp 65 rb saja. Wajib dicoba.
Ucok Durian di Jln Sei Wampu, Kota Medan
Durian disini tak mengenal musim, selalu tersedia
Makan durian-nya, bersama nasi ketan
Lahap saking enaknya
Puas

Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving