Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label tempat bertelur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tempat bertelur. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 September 2013

Pantai-Pantai Menarik Untuk Dikunjungi di Ujung Genteng Kab. Sukabumi

Perjalanan panjang selama 8 jam dari Jakarta untuk mencapai pantai Ujung Genteng di Sukabumi sangat melelahkan karena sebagian jalan masih ada yang rusak, kurang lebar, berkelok-kelok dengan jurang menganga di sebelah kiri dan di sebelah kanan tebing curam yang sewaktu-waktu dengan mudah terjadi longsor. Untungnya, pemandangan sepanjang jalan sangat-lah menakjubkan; ada berderet-deret pohon karet milik perkebunan rakyat, ada pemandangan khas dari perkebunan teh yang seolah menyiratkan ketenangan, beberapa desa kecil yang bersahaja, lembah dengan awan yang menggantung dan ketika mau sampai di ujung perjalanan, terlihat hamparan biru samudera Hindia atau orang kita menyebutnya sebagai Laut Selatan. Pemandangan indah tadi sedikit banyak menghapus rasa bosan dan letih selama perjalanan.
Kenapa saya menulis dengan judul pantai-pantai, tidak hanya pantai saja? Karena di Kecamatan Ujung Genteng Kab. Sukabumi ada beberapa pantai tidak hanya satu. Pantai yang menarik dikunjungi dan telah populer keberadaannya di masyarakat adalah: Pantai Ujung Genteng, Pantai Cibuaya, dan Pantai Pangumbahan. Ketiga pantai tersebut memiliki fungsi dan peran masing-masing sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya dan kondisinya masih relatif lebih alami. Hal tersebut terjadi karena kegiatan ekonomi yang mengandalkan ekosistem pantai belum banyak berkembang. Demikian juga dengan aktifitas kunjungan wisatawan.
Pantai Ujung Genteng lebih berperan sebagai tempat kegiatan perikanan berlangsung. Dimana pantai ini berbentuk teluk kecil sehingga cukup aman untuk menyandarkan perahu-perahu ikan yang mereka miliki dari terjangan ombak laut selatan yang dikenal ganas. Di pantai ini pula terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menarik untuk dikunjungi. Ketika saya berkunjung ke TPI ini sekitaran jam 7 pagi, saya menemukan ikan pari manta yang siap dijual kepada peminatnya. Menarik, karena ikan pari manta sedang populer di kalangan pegiat lingkungan untuk tidak menangkap, memperdagangkan, dan mengkonsumsinya. Populasi ikan pari manta di dunia sudah berkurang banyak sehingga perlu dilindungi. Dan lebih baik untuk aktifitas wisata selam dibanding untuk konsumsi. Harga yang ditawarkan adalah: untuk dagingnya Rp 10 rb/kg dan untuk insangnya Rp 300 rb/kg. Wow, harga insangnya mahal sekali padahal itu hanya insang tempat dimana racun, bakteri, kuman banyak menempel disitu. Kurang logis untuk mengkonsumsinya  dan membayar semahal itu.
Pantai Cibuaya adalah destinasi bagi para penyuka surfing. Banyak turis Australia bermain surfing disini terutama pada bulan Maret sampai Juli. Ombak di pantai ini lumayan bagus untuk surfing dimana sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ada 3 pemicu terjadinya ombak, yaitu arus pasang surut (swell), angin pantai (local wind), dan pergeseran (turun naik) lempengan bebatuan di dasar samudera. Di tempat tertentu, penggabungan (interference) antara arus pasang surut (swell) dengan angin pantai (local wind) dapat menimbulkan ombak dengan ketinggian 2 sampai 4 meter seperti yang terjadi di Pantai Cibuaya. Dan ketinggian ombak itu yang dicari oleh para surfer.
Pantai pangumbahan yang panjangnya 2,5 km adalah pantai yang telah dijadikan sebagai kawasan konservasi penyu hijau dan nama kawasan konservasi ini adalah ‘Kawasan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan’. Karena di pantai ini, terutama pada bulan September sampai Desember, hampir setiap hari ada penyu hijau yang ke darat untuk bertelur. Hari Jumat malam (15/09/2013) di pos 1 saja kami mendapatkan ada 7 penyu yang sedang bertelur, belum di 4 pos lainnya.
Tentang penamaan Kawasan Taman Pesisir itu sendiri adalah nomenklatur yang diambil dari Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Sebagaimana kita ketahui, Kawasan Konservasi yang diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan termasuk di dalamnya yang diusulkan oleh daerah, didasarkan kepada 2 undang-undang. Apabila kawasan konservasi itu lebih utama perairannya maka nomenklaturnya akan disesuaikan dengan perintah Undang-Undang No.45 tahun 2004 tentang Perikanan melalui turunannya Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 tentang Pengelolaan Sumberdaya Ikan. Tetapi kalau ada daratannya juga yang menjadi bagian penting (zona inti) dari suatu kawasan konservasi seperti pantai tempat peneluran penyu, maka nomenklatur-nya akan diambil dari Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Itu semua diambil demi memudahkan implementasinya di lapangan.
Jadi, ketiga pantai di Ujung Genteng Sukabumi ini sangat menantang untuk dikunjungi dan memberikan pengalaman yang bervariasi. Yuk, kita datang kesana.
Perahu penangkap ikan bersandar di pantai Ujung Genteng
Pantai Ujung Genteng yang Di belakang TPI-pun Kebersihannya Terjaga
Pasar Ikan di Ujung Genteng
Seorang Turis Australia Siap Surfing di Pantai Cibuaya
Seorang Surfer Unjuk Kebolehan di Pantai Cibuaya
Penanda Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
Pantai Pangumbahan yang Disukai Penyu Hijau sebagai Tempat Bertelur
Penyu Hijau sedang Bertelur di Pantai Pangumbahan pada pk 20.10
Setelah Bertelur di Pantai Pangumbahan, Penyu Hijau ini Siap Kembali ke Laut Lagi

Read More --►

Selasa, 16 Juli 2013

Menyaksikan Penyu Belimbing Bertelur di Pantai Jamursba Medi-Papua Barat

Negara Indonesia banyak dianugrahi keanekaragaman hayati yang tinggi. Contoh untuk penyu saja, di Indonesia ada 6 jenis penyu dari 7 jenis penyu yang ada di dunia. Penyu yang ada di Indonesia adalah: penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus) dan penyu tempayan (Caretta caretta). Penyu belimbing  atau leatherback turtle adalah penyu dengan ukuran tubuh yang paling besar, dengan panjang dapat mencapai 2,75 meter dengan berat dapat mencapai 800 kg. Sedangkan jenis penyu terkecil adalah penyu lekang dengan berat maksimal 50 kg.
Khusus penyu belimbing, tempat penelurannya (nesting area) yang paling banyak ada di pesisir barat pulau Sumatera dan di pantai Jamursba Medi kabupaten Tambrauw di provinsi Papua Barat. Bahkan pantai Jamursba Medi merupakan tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia. Kenapa pantai Jamursba Medi yang panjangnya 18 km, disukai untuk bertelur oleh penyu belimbing? Alasannya adalah: tekstur pasirnya tidak terlalu lembut dan tidak terlalu besar, pasirnya mudah dikeduk tetapi memiliki kepadatan cukup sehingga tidak mudah longsor, suhu pasir relatif konsisten, bentangan pasir yang cukup luas, dan jangan lupa kondisi alam pantai Jamursba Medi masih sangat alami dan dihuni oeh beberapa orang penduduk saja sehingga sangat minim aktifitas manusia. Walaupun demikian, menurut data dari WWF Indonesia (2013), jumlah penyu belimbing yang bertelur di Jamursba Medi setiap tahun-nya memperlihatkan trend semakin menurun. Hal tersebut terjadi lebih karena sebagai akibat pengaruh perubahan lingkungan global. Namun demikian, lingkungan Jamursba Medi harus tetap dijaga kealamiannya. Bagi suku Abun yang menghuni sekitaran kawasan pantai ini, pantai Jamursba Medi karena ada penyu belimbingnya, dianggap sebagai tempat 'pemali' yang menjadi tempat bersemayamnya 'dewa laut' sebagai penyebutan lain untuk penyu belimbing. Karena alasan-alasan tadi seperti yang sudah disebutkan, maka sangat tepat apabila pemerintah kabupaten Tambrauw melalui Bupatinya Bapak Gabriel Asem telah mencadangkan wilayah pesisir Jamursba Medi sebagai Kawasan Konservasi Taman Pesisir, diluar kawasan suaka margasatwa yang telah dikelola oleh Kementerian Kehutanan.
Musim bertelur penyu belimbing di Jamursba Medi adalah pada bulan Juni sampai Agustus. Dan satu ekor betina penyu belimbing dalam satu musimnya dapat melakukan sampai 6 kali peneluran. Setiap bertelur bisa menghasilkan 60 – 175 butir telur dari per ekor-nya. Telur akan berada di sarangnya selama 2 bulan yang kemudian menetas jadi tukik dan langsung menuju laut untuk menjalani kehidupannya. Predator utama yang banyak memakan telur-telur penyu belimbing adalah babi, anjing, biawak, dan lainnya. Babi dapat menghabiskan sampai ludes telur yang ada di dalam sarang tersebut.
Makanan penyu belimbing adalah ubur-ubur, dengan demikian penyu belimbing adalah penyeimbang ekosistem perairan laut dengan cara mengontrol populasi ubur-ubur di perairan tersebut. Wilayah tempat mencari makan penyu ubur-ubur yang bertelur di Jamursba Medi adalah di sekitar pulau Kei di Maluku, di atas pulau Kalimantan, dan sampai di wilayah California Amerika. Antara tempat bertelur dengan tempat makan dari semua jenis penyu bisa sangat berjauhan yang bisa mencapai ribuan kilometer. Beberapa studi menunjukkan bahwa wilayah migrasi penyu belimbing dapat mencapai perairan California di negara Amerika Serikat.
Kembali ke cerita menyaksikan penyu belimbing bertelur di pantai Jamursba Medi. Pukul 21, kami sudah menunggu laporan dari petugas di lapangan yang setiap malam mengawasi penyu-penyu bertelur, apakah sudah ada penyu belimbing yang naik ke darat? Pk 23 lebih, ada laporan dari petugas di sektor 12 bahwa ada satu ekor penyu yang naik kedarat, disusul oleh laporan petugas-petugas lainnya dari sektor yang menjadi tanggung jawabnya. Kelompok kami berpencar ke beberapa sektor, dimana untuk melihat penyu bertelur dibatasi paling banyak 5 orang, tapi teman-teman karena sudah sangat penasaran, akhirnya mengerumuni seekor penyu belimbing yang naik ke darat yang terdekat saja. Ada juga yang mau berjalan 30 menit lagi untuk sampai ke lokasi peneluran yang lain. Pk 23, penyu naik ke darat dengan ukuran cukup besar diperkirakan panjangnya 1,5 meter. Penyu berjalan dengan siripnya secara pelan-pelan, namun karena kami ada yang bersuara dan ada yang menyalakan lampu senter (cahaya yang tidak mengganggu penyu adalah yang berwarna merah. Warna lainnya mengganggu) maka penyu tersebut berjalan berputar balik seolah mau ke laut lagi. Lalu kami diam, ternyata penyu tersebut putar balik lagi ke arah darat. Setelah merasa ada tempat yang cocok untuk bertelur (jarak dari bibir air laut sekitar 50 meter). waktu yang diperlukan penyu belimbing untuk mendapatkan tempat bertelur yang cocok sekitar 21 menit. Setelah tempat peneluran ditemukannya, penyu tersebut mulai menggali sarang untuk bertelurnya yang membutuhkan waktu 32 menit. Setelah dapat kedalaman sekitar 30 cm, ternyata dinding lubang tersebut longsor, dan penyu tersebut kembali mencari tempat lain lagi untuk bertelurnya. Penyu yang akan bertelur memilih yang pasirnya tidak mudah longsor. Setelah menemui tempat yang baru yang cocok, penyu tersebut dengan sirip depannya menggali lubang sebesar ukuran tubuhnya dan untuk bertelurnya sampai kedalaman 50 cm. Setelah lubang bertelur selesai dibuat, penyu belimbing tersebut dengan posisi yang diam, mulailah mengeluarkan telur-telurnya satu per satu sampai habis dan proses bertelur ini membutuhkan waktu 31 menit. Setelah telurnya dikeluarkan semua, mulailah penyu tersebut menutup lubang tempat telurnya berada yang membutuhkan waktu 12 menit. Selesai menutup lubang sarang telurnya, ternyata aktifitasnya belum selesai, penyu tersebut membuat sarang telur yang lain. Ternyata ini dilakukan untuk penyamaran atau kamuflase terhadap predator. Agar predator tidak menyantap telur yang ada di sarang sebenarnya. Proses bertelur dari penyu belimbing, dari mulai naik ke darat sampai kembali lagi ke laut, setidaknya membutuhkan waktu 2 jam.

Malam itu (11 Juli 2013) setidaknya ada 9 ekor penyu belimbing berbagai ukuran yang naik ke darat untuk melakukan peneluran. melihat kondisi pantai Jamursba Medi sebagai tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia, maka setidaknya perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: 
1. Menjadikan seluruh bentangan pantai tempat peneluran penyu di Kab. Tambrau (pantai Jamursba Medi dan pantai Warmon) sebagai kawasan konservasi,
2. Membuat road map konservasi kawasan dan konservasi penyu belimbing di Kab. Tambrauw,
3. Mendorong berbagai lembaga dunia untuk memberi perhatian lebih kepada upaya konservasi baik untuk kawasannya maupun untuk penyu belimbingnya

Saya bersyukur sekali bisa menyaksikan penyu belimbing bertelur dan melihat pemandangan yang sangat indah alami dari pantai Jamursba Medi, suatu pengalaman yang sangat berarti dalam hidup saya. Saya sudah menyaksikan sendiri sebelum terjadi perubahan besar baik terhadap habitat penyu belimbing maupun lingkungan pantai Jamursba Medi-nya sendiri. 
Penyu yang ada di Indonesia dengan skala ukurannya
 
Trend jumlah penyu bertelur setiap tahunnya di Jamursba Medi
 
Migrasi Penyu Belimbing sampai ke California
 
Pantai Jamursba Medi sepanjang 18 km
 
Jamursba Medi masih alami disukai penyu belimbing untuk bertelur
 
Tanda ada sarang telur penyu belimbing
 
Ketika seekor penyu belimbing naik ke darat
 
Ketika proses bertelur berlangsung
 
Ketika proses menutup sarang telurnya
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving