Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label penyu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Pedoman Identifikasi dan Monitoring Populasi Penyu

https://www.scribd.com/doc/299725289/Pedoman-Identifikasi-Dan-Monitoring-Populasi-Penyu (Link Download)


Penyu merupakan salah satu jenis reftil yang hidup di laut dan memiliki kemampuan bermigrasi jarak jauh di sepanjang Samudera Hindia, Pasifik, dan perairan laut Asia Tenggara. Penyu sudah lama menghadapi keterancaman akan kepunahan. Ancaman kepunahan tersebut dapat disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia.

Kerusakan habitat pantai dan perairan yang menjadi tempat ruaya mencari, aktifitas perikanan yang tidak ramah lingkungan, teknik pengelolaan konservasi yang tidak memadai, perubahan iklim, penangkapan penyu dan pengambilan telur penyu menjadi factor penyebab terjadinya percepatan penurunan populasi penyu. Kondisi populasi itulah yang menyebabkan semua jenis penyu yang ada di Indonesia berstatus dilindungi yang dituangkan melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.

Dari 7 jenis penyu di dunia, tercatat ada 6 jenis diantaranya yang hidup di perairan laut Indonesia, yaitu: penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu tempayan (Caretta caretta).

Secara internasional, penyu masuk ke dalam daftar merah (red list) IUCN dan apendiks 1 CITES. Yang berarti keberadaan penyu di dunia teramsuk terancam punah sehingga segala bentuk pemanfaatan dan peredarannya (perdagangannya) harus dikontrol secara ketat.

Sejauh ini langkah langkah kerjasama baik regional maupun internasional untuk menjaga kelestarian penyu sudah banyak dilakukan oleh pemerintah Indonesia, seperti kerjasama dalam wadah: IOSEA-CMP, SSME, dan BSSE.

Untuk mendukung pelestarian penyu tersebut, salah satunya diperlukan pedoman teknis / manual tentang pengelolaan penyu yang benar. Dimana pedoman teknis tentang pengelolaan konservasi penyu tersebut masih sangat langka. Buku ‘Pedoman Identifikasi dan Monitoring Populasi Penyu’ yang disusun oleh: Didi Sadili, Dwi Suprapti, Sarmintohadi, dkk ini terbit adalah untuk mengisi kekosongan tersebut, yang tentunya bertujuan untuk: memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat luas tentang teknik identifikasi jenis-jenis penyu dan monitoring populasinya. Selain itu, buku ini juga diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.

Semoga buku ini dapat bermanfaat

Buku Pedoman Identifikasi n Monitoring Populasi Penyu

Penyu Hijau (Foto by: Clarklittle)

Read More --►

Selasa, 09 Februari 2016

Pedoman Umum Penanganan Hasil Tangkap Sampingan by-catch Penyu

Pedoman Umum Penanganan Hasil Tangkap Sampingan by-catch Penyu (link download)

Perairan Indonesia merupakan tempat hidup dan daerah mencari makan bagi berbagai biota perairan, termasuk penyu. Penyu merupakan biota perairan langka yang dilindungi dan harus dijaga kelestariannya . Wilayah perairan tersebut juga merupakan daerah penangkapan ikan, sehingga seringkali dalam kegiatan penangkapan ikan penyu tertangkap secara tidak sengaja . Penyu dapat tertarik dengan jenis umpan yang digunakan ataupun terjaring saat mencari makan atau beruaya. Terperangkapnya penyu dalam kegiatan penangkapan ikan sepertinya sulit untuk dihindarkan, yang paling mungkin dilakukan adalah upaya untuk mengurangi jumlah by-catch dan mengurangi kematian penyu yang tertangkap .
Pedoman Umum Penanganan Hasil Tangkap Sampingan (By­Catch) Penyu Pada Kegiatan Penangkapan Ikan pada kegiatan penangkapan ikan ini diharapkan bisa menjadi panduan bagi nelayan dan stakeholders terkait lainnya dalam rangka menyelamatkan penyu yang tertangkap secara tidak sengaja dalam kegiatan penangkapan ikan. Upaya penanganan ini merupakan salah satu aksi nyata bidang konservasi dalam rangka menjaga kelestarian penyu.
Buku: Pedoman Umum Penanganan Hasil Tangkap Sampingan Penyu

Read More --►

Senin, 19 Oktober 2015

Penyu Hijau di Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba-Sulawesi Selatan Dilepasliarkan Kembali ke Laut



l. Tanjung Bira
Tanjung Bira ada Dimana
Tanjung Bira adalah salah satu icon wisata provinsi Sulawesi Selatan selain Tana Toraja, Makassar dan lainnya. Tanjung Bira sendiri berada di Kabupaten Bulukumba yang letaknya 190 km dari kota Makassar dan dapat ditempuh sekitar 4 – 5 jam perjalanan darat dengan menggunakan mobil pribadi. Tanjung Bira juga merupakan pelabuhan penyeberangan bagi yang mau pergi ke Selayar. Selayar sendiri dikenal sebagai tujuan wisata selam.
Pemandangan di kanan kiri jalan yang dilalui sangat indah, apalagi perjalanan ini adalah menyusuri pantai. Keluar dari kota Makassar masuk kabupaten Gowa kemudian kabupaten Takalar, di kedua kabupaten ini menghampar luas persawahan. Namun sayang, perjalanan kali ini sedang puncak puncaknya musim kemarau sehingga hamparan sawah itu menjadi hamparan tanah kosong berwarna coklat. Tanah seperti itu adalah cocok untuk

pertumbuhan budidaya buah semangka. Sehingga tidak mengherankan kalau di kanan kiri jalan poros Makassar ini banyak dijajakan buah semangka. 





Masuk Kabupaten Jeneponto, di kanan jalan menghampar terkotak kotak tambak ikan bandeng dan pada lokasi tertentu ada
sehamparan kolam kolam pembuatan garam. Kesibukan petani garam yang sedang mengepaporasi air laut untuk jadi garam dan sebagian lagi sibuk memikul karung garam yang dibawa ke pinggir jalan untuk menunggu diangkut truk truk besar.
Masuk kabupaten Bantaeng, kami disuguhi pemandangan budidaya rumput laut di pinggir pantainya dan kesibukan para petaninya yang sedang menjemur rumput laut yang baru dipanen.
Setelah melewati kota Bantaeng, baru kami masuk kabupaten Bulukumba. Suasana kental alam laut dengan kebun kelapa di pinggir pantainya sangat terasa di kabupaten ini.
Ada beberapa tempat destinasi wisata dan budaya di kabupaten Bulukumba dan destinasi ini sudah mendunia dengan terlihatnya beberapa wisatawan asing (Jepang, Eropa dan Amerika) yang berlalu lalang, yaitu:
1.   Pantai Tanjung Bira dengan pulau kecilnya yang bernama Liukang. Beragam wisata bahari bisa ditemui disini, mulai dari banana boat sampai diving
2.   Tempat pembuatan kapal pinisi dan kapal kayu lainnya. Tempat pembuatan kapal kayu di Tanjung Bira sudah terkenal ke seantero dunia,
3.    Suku Kajang. Salah satu suku bangsa di Indonesia yang mendiami daerah pedalaman kabupaten Bulukumba yang masih menganut ajaran leluhur.
Destinasi wisata tanjung bira adalah kombinasi antara wisata alam (bahari) dengan wisata budaya. Tanjung Bira adalah wilayah pantai dengan pasir putih yang halus. Di Tanjung Bira setidaknya terdapat 17 titik penyelaman, titik penyelaman yang
paling dikenal adalah: Pulau Kambing, Pulau Posi, dan Pulau Liukang. Di titik titik penyelaman tersebut umumnya visibility 15 meter, komposisi dasar laut terdiri dari terumbu karang dengan kondisi bagus. Malah di beberapa dive site bisa dijumpai
beberapa jenis ikan eksotik, seperti: pari manta, hiu, mola mola, ikan banggai (cardinal), penyu, dan lainnya.
Tarif sewa boat untuk membawa sampai di dive site dan menunggu selama 2 jam, sebesar Rp 800rb.
Tarif boat untuk ke Pulau Liukang PP sebesar Rp 500rb.


ll. Tempat Pembuatan Kapal Pinisi/Kapal Kayu
Tanjung Bira sebagai tempat pembuatan pinisi/kapal kayu sudah dikenal ke seantero dunia. Banyak pesanan  pinisi/kapal kayu dari negara negara Eropa dan Amerika, selain tentunya pesanan dari dalam negeri yang tidak sedikit.
Keahlian membuat sebuah pinisi/kapal kayu besar dan menjamin kestabilannya di laut adalah suatu  keunggulan ketrampilan yang didapat secara turun temurun dengan tetap mengikuti kaidah kaidah tradisional masyarakat mereka.
Kami mengunjungi salah satu pembuat pinisi yaitu Pak Haji Suton. Dia mengatakan: untuk membuat pinisi 50 GT, perlu waktu 6 bulan dengan sejumlah 20 m2 kayu kualitas wahid (kayu besi/kayu hitam). Untuk pinisi ukuran 50 GT harganya minimal 1 milyar. 

lll. Penyu
Beberapa fakta terkait penyu dan lingkungannya di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.   Dari 7 jenis penyu yang ada di dunia, 6 jenis ditemukan di perairan Indonesia. Penyu-penyu yang ditemukan di Indonesia adalah jenis: penyu hijau (Chelonia mydas), pipih (Natator depressus), lekang/abu abu (Lepidochelys olivicea), belimbing (Dermochelys coriacea), sisik (Eretmochelys imbricata), dan tempayan (Caretta caretta). Hanya jenis penyu kempi (Lepidochelys kempi) yang tidak ditemukan di Indonesia,
2.   Ada 95 pantai tempat bertelurnya penyu di Indonesia. Dari 95 pantai tersebut terdapat 143 lokasi peneluran penyu. Dan  47 pantai diantaranya sudah dijadikan kawasan konservasi,
3.    Tempat peneluran penyu hijau terbesar di dunia berada di Pulau Derawan-Kalimantan Timur,
4.   Tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia berada di pantai Jamursba Medi di Kabupaten Tambraw di Papua Barat,
5.   Pantai terpanjang sebagai tempat peneluran penyu di Indonesia berada di pantai Paloh- Kalimantan Barat,
6.   Tempat peneluran penyu lekang di Indonesia berada di pantai pantai di Pulau Bali,
7.   Jenis penyu pipih dan penyu tempayan tidak pernah ditemukan bertelur di pantai pantai Indonesia. Hanya ditemukan di perairan saja,
8.   Penyu yang mendarat adalah semuanya penyu berjenis kelamin betina. Semua penyu berjenis kelamin jantan hanya hidup di air, tidak pernah ke darat,
9.   Penyu hijau berfungsi untuk mengontrol rumput laut. Rumput laut yang sudah tua akan dipotong potong oleh penyu hijau. ikan menyukai rumput laut muda,
10.                     Penyu belimbing berfungsi untuk mengontrol ledakan ubur ubur. Ledakan ubur ubur di suatu perairan akan mematikan juvenile juvenile ikan. Juvenile juvenile ikan ini kelak jadi ikan target tangkapan nelayan,
11.                     Permasalahan pengelolaan penyu di Indonesia adalah: bycatch, perdagangan ilegal, marine debris, dan perubahan iklim global,
12.                     Semua jenis penyu di Indonesia berstatus dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999, dan
13.                     Semua jenis penyu masuk kedalam daftar merah IUCN dan masuk apendiks l CITES yang berarti statusnya terancam punah dan tidak boleh perdagangkan.
Populasi penyu khususnya di Indonesia memperlihatkan kecenderungan menurun. Data menunjukan jumlah sarang penyu belimbing di pantai Jamursba Medi Papua Barat dari tahun 1994 sd 2004 terjadi penurunan, begitu juga jumlah sarang penyu hijau di Sangalaki-Kaltim, jumlah sarang penyu hijau, belimbing, sisik, dan abu abu di pantai Sukamade-Taman Nasional Meru Betiri-Jatim, dan Jumlah sarang penyu hijau di pantai Paloh-Kalbar.
Penyu hijau di Tanjung Bira jumlahnya ada 20 ekor, yang masing masing 10 ekor dipelihara oleh Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin di kolam atraksi. Paling lama penyu tersebut telah
dipelihara selama 2 tahun dengan berat bervariasi antara 40 kg sampai 110 kg dan semuanya berjenis kelamin betina.
Pak Abdul Halim adalah pengumpul ikan selain sebagai pemilik restoran di laut di pantai Tanjung Bira. Menurut cerita Pak
Abdul Halim, penyu penyu tersebut dibeli dari nelayan dimana nelayan tersebut mendapatkannya dari bycatch. Pak Abdul Halim memelihara penyu penyu tersebut di kolam ukuran 6 x 6 m2 yang berada persis di tengah restorannya yang berada di laut. Pengunjung / turis selain untuk bersantap juga bisa berenang bersama penyu di kolam tersebut atau setidaknya untuk sekedar melihat lihat.
Melalui proses panjang yang dilakukan oleh pihak Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar –Ditjen Pengelolaan Ruang Laut-Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk penyadartahuan kepada Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin, bahwa status penyu itu dilindungi, yang artinya barang siapa menangkap, memelihara, memperjualbelikan, dan
Pak Salamudin, Pak Abdul Halim, dan Pak Agus dari KKP
memanfaatkan akan dikenai sangsi pidana kecuali bagi yang mendapat izin. Ahirnya Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin secara sukarela menyerahkan 20 ekor penyu tersebut kepada BPSPL Makassar. Salut juga kepada Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin yang telah menyerahkan penyu penyu tersebut untuk direlease kembali ke laut. KKP-pun memikirkan untuk membuat kolam terumbu karang buatan yang akan diisi oleh ikan ikan hias laut yang tidak dilindungi, agar kelangsungan hidup usaha restorannya tetap berlangsung.
Penyu penyu tersebut sebelum dilepas kembali ke laut, terlebih dahulu didata oleh pihak BPSPL Makassar dan dicek kesehatannya oleh Suprapti Dvm dari WWF Indonesia. Pendataan dan pengecekan kesehatan penyu penyu tersebut cukup memakan waktu. Malah ada salah satu penyu yang bolong punggung karapasnya yang perlu ditambal dengan adukan semen terlebih dahulu. setelah dicek kondisi dan kesehatannya, penyu penyu tersebut diberi tanda/tagging yang berisi info:
Kementerian Kelautan dan Perikanan, negara Indonesia, dan no telp yang dapat dihubungi apabila ada orang yang menemukan penyu tersebut dimanapun.




Pada pukul 15.00 WIT penyu penyu tersebut dilepasliarkan kembali ke laut. Semoga selamat
dan beranak pinak sehingga alam ini bisa tetap menghidupi para penghuninya. 






Pustaka:
Adnyana, Windia dan Creusa Hitipeuw. 2012. Panduan Melakukan Pemantauan Penyu di Pantai Peneluran di Indonesia. WWF Indonesia. Jakarta
Dermawan, Agus et all. 2015. Pedoman Teknis. Pengelolaan Konservasi Penyu. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Sadili, Didi (ed). 2014. Biota Perairan Terancam Punah di Indonesia. Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta


Read More --►

Senin, 16 September 2013

Pantai Pangumbahan di Kab. Sukabumi Sebagai Kawasan Konservasi Penyu Hijau

Pantai Pangumbahan yang satu garis pantai dengan pantai Ujung Genteng di Kab. Sukabumi Jawa Barat merupakan salah satu tempat bertelurnya (nesting area) penyu hijau (Chelonia mydas). Pantai dengan kemiringan landai yang tersusun dari material lepas, tekstur pasirnya yang padat atau tidak mudah runtuh ketika penyu menggali lubang untuk tempat bertelurnya, dan memiliki suhu yang hangat konsisten, itulah kondisi yang disukai penyu untuk dijadikan tempat bertelurnya. Selain itu, pantai dengan lekuk ke dalam yang menyerupai teluk kecil, juga menjadi faktor disukai tidaknya suatu pantai untuk menjadi tempat peneluran penyu. Karena dengan bentuk pantai yang melekuk ke dalam itu artinya arus akan mengalir ke luar masuk dari titik dalam ‘teluk kecil’ itu, sehingga penyu tinggal mengikuti pergerakan arus ketika dia akan mendarat untuk bertelur atau ketika kembali ke tengah laut setelah proses peneluran selesai dilaksanakannya.

Pada musim bertelurnya penyu hijau, yaitu antara bulan september sampai Desember, hampir tiap malam ada beberapa penyu yang bertelur di pantai Pangumbahan ini. Minggu malam (15/09/2013) kami menyaksikan sendiri ada 7 penyu yang bertelur, itu baru di pos 1 belum di 4 pos lainnya. Hebatnya lagi, di pantai ini pada jam 7 malam sudah ada penyu mendarat untuk bertelur. Di tempat lain, umumnya penyu bertelur dimulai pada pk 11 ke atas. Ukuran penyu hijau yang mendarat dan bertelur di pantai Pangumbahan rata-rata berukuran panjang 110 cm dan lebar 65 cm dengan perkiraan berat sekitar 100 kg lebih. Tiap penyu menghasilkan telur sebanyak 100 butir. Proses bertelur sejak mendarat sampai kembali ke laut membutuhkan waktu sekitar 3 jam.

Karena Pantai Pangumbahan yang memiliki panjang garis pantai 2,5 km menjadi tempat peneluran penyu hijau maka dalam rangka menjaga kelestariannya, pantai ini telah dicadangkan sebagai kawasan konservasi. Menimbang kawasan konservasi Pangumbahan memiliki zona inti di laut dan di darat maka nomenklaturnya mengacu kepada Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Umumnya kawasan konservasi yang terdiri dari hanya kolom air saja tanpa ada daratannya, maka nomenklatur yang akan dipakai adalah mengacu kepada Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

Menurut Undang-Undang No 27 Tahun 2007, ada 4 jenis kawasan konservasi, yaitu:

1.   Suaka pesisir;

2.   Suaka pulau kecil;

3.   Taman pesisir; dan

4.   Taman pulau kecil.

Kawasan konservasi pantai Pangumbahan juga memiliki fungsi sebagai wisata konservasi maka untuk penamaannya yang diambil adalah jenis ‘taman pesisir’. Dengan nama lengkapnya: ‘Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan’. Statusnya masih ‘pencadangan’ oleh Bupati Sukabumi. Nanti setelah tersusunnya rencana pengelolaan dan terbentuknya kelembagaan yang mengelola kawasan konservasi ini, baru dapat ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Kawasan Konservasi yang sama dengan Pangumbahan ini adalah Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Ujung Negoro-Roban di Kab. Batang Jawa Tengah, yaitu sebagai Taman Wisata Pesisir. Bahkan untuk kawasan konservasi taman wisata pesisir Ujung Negoro-Roban berada satu level di atas Pangumbahaan karena Ujung Negoro-Roban sudah berstatus ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. 

Dengan dijadikannya Pantai Pangumbahan sebagai kawasan konservasi bagi penyu hijau, semoga dapat memberikan ‘ketenangan’ bagi penyu hijau tersebut untuk dapat bertelur setiap saat.
Tembok batas kawasan konservasi Pantai Pangumbahan
Pantai Pangumbahan tempat peneluran penyu hijau
Bekas jalan penyu yang mau bertelur
Penyu hijau sedang bertelur
Penyu hijau selesai bertelur

Read More --►

Selasa, 16 Juli 2013

Menyaksikan Penyu Belimbing Bertelur di Pantai Jamursba Medi-Papua Barat

Negara Indonesia banyak dianugrahi keanekaragaman hayati yang tinggi. Contoh untuk penyu saja, di Indonesia ada 6 jenis penyu dari 7 jenis penyu yang ada di dunia. Penyu yang ada di Indonesia adalah: penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus) dan penyu tempayan (Caretta caretta). Penyu belimbing  atau leatherback turtle adalah penyu dengan ukuran tubuh yang paling besar, dengan panjang dapat mencapai 2,75 meter dengan berat dapat mencapai 800 kg. Sedangkan jenis penyu terkecil adalah penyu lekang dengan berat maksimal 50 kg.
Khusus penyu belimbing, tempat penelurannya (nesting area) yang paling banyak ada di pesisir barat pulau Sumatera dan di pantai Jamursba Medi kabupaten Tambrauw di provinsi Papua Barat. Bahkan pantai Jamursba Medi merupakan tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia. Kenapa pantai Jamursba Medi yang panjangnya 18 km, disukai untuk bertelur oleh penyu belimbing? Alasannya adalah: tekstur pasirnya tidak terlalu lembut dan tidak terlalu besar, pasirnya mudah dikeduk tetapi memiliki kepadatan cukup sehingga tidak mudah longsor, suhu pasir relatif konsisten, bentangan pasir yang cukup luas, dan jangan lupa kondisi alam pantai Jamursba Medi masih sangat alami dan dihuni oeh beberapa orang penduduk saja sehingga sangat minim aktifitas manusia. Walaupun demikian, menurut data dari WWF Indonesia (2013), jumlah penyu belimbing yang bertelur di Jamursba Medi setiap tahun-nya memperlihatkan trend semakin menurun. Hal tersebut terjadi lebih karena sebagai akibat pengaruh perubahan lingkungan global. Namun demikian, lingkungan Jamursba Medi harus tetap dijaga kealamiannya. Bagi suku Abun yang menghuni sekitaran kawasan pantai ini, pantai Jamursba Medi karena ada penyu belimbingnya, dianggap sebagai tempat 'pemali' yang menjadi tempat bersemayamnya 'dewa laut' sebagai penyebutan lain untuk penyu belimbing. Karena alasan-alasan tadi seperti yang sudah disebutkan, maka sangat tepat apabila pemerintah kabupaten Tambrauw melalui Bupatinya Bapak Gabriel Asem telah mencadangkan wilayah pesisir Jamursba Medi sebagai Kawasan Konservasi Taman Pesisir, diluar kawasan suaka margasatwa yang telah dikelola oleh Kementerian Kehutanan.
Musim bertelur penyu belimbing di Jamursba Medi adalah pada bulan Juni sampai Agustus. Dan satu ekor betina penyu belimbing dalam satu musimnya dapat melakukan sampai 6 kali peneluran. Setiap bertelur bisa menghasilkan 60 – 175 butir telur dari per ekor-nya. Telur akan berada di sarangnya selama 2 bulan yang kemudian menetas jadi tukik dan langsung menuju laut untuk menjalani kehidupannya. Predator utama yang banyak memakan telur-telur penyu belimbing adalah babi, anjing, biawak, dan lainnya. Babi dapat menghabiskan sampai ludes telur yang ada di dalam sarang tersebut.
Makanan penyu belimbing adalah ubur-ubur, dengan demikian penyu belimbing adalah penyeimbang ekosistem perairan laut dengan cara mengontrol populasi ubur-ubur di perairan tersebut. Wilayah tempat mencari makan penyu ubur-ubur yang bertelur di Jamursba Medi adalah di sekitar pulau Kei di Maluku, di atas pulau Kalimantan, dan sampai di wilayah California Amerika. Antara tempat bertelur dengan tempat makan dari semua jenis penyu bisa sangat berjauhan yang bisa mencapai ribuan kilometer. Beberapa studi menunjukkan bahwa wilayah migrasi penyu belimbing dapat mencapai perairan California di negara Amerika Serikat.
Kembali ke cerita menyaksikan penyu belimbing bertelur di pantai Jamursba Medi. Pukul 21, kami sudah menunggu laporan dari petugas di lapangan yang setiap malam mengawasi penyu-penyu bertelur, apakah sudah ada penyu belimbing yang naik ke darat? Pk 23 lebih, ada laporan dari petugas di sektor 12 bahwa ada satu ekor penyu yang naik kedarat, disusul oleh laporan petugas-petugas lainnya dari sektor yang menjadi tanggung jawabnya. Kelompok kami berpencar ke beberapa sektor, dimana untuk melihat penyu bertelur dibatasi paling banyak 5 orang, tapi teman-teman karena sudah sangat penasaran, akhirnya mengerumuni seekor penyu belimbing yang naik ke darat yang terdekat saja. Ada juga yang mau berjalan 30 menit lagi untuk sampai ke lokasi peneluran yang lain. Pk 23, penyu naik ke darat dengan ukuran cukup besar diperkirakan panjangnya 1,5 meter. Penyu berjalan dengan siripnya secara pelan-pelan, namun karena kami ada yang bersuara dan ada yang menyalakan lampu senter (cahaya yang tidak mengganggu penyu adalah yang berwarna merah. Warna lainnya mengganggu) maka penyu tersebut berjalan berputar balik seolah mau ke laut lagi. Lalu kami diam, ternyata penyu tersebut putar balik lagi ke arah darat. Setelah merasa ada tempat yang cocok untuk bertelur (jarak dari bibir air laut sekitar 50 meter). waktu yang diperlukan penyu belimbing untuk mendapatkan tempat bertelur yang cocok sekitar 21 menit. Setelah tempat peneluran ditemukannya, penyu tersebut mulai menggali sarang untuk bertelurnya yang membutuhkan waktu 32 menit. Setelah dapat kedalaman sekitar 30 cm, ternyata dinding lubang tersebut longsor, dan penyu tersebut kembali mencari tempat lain lagi untuk bertelurnya. Penyu yang akan bertelur memilih yang pasirnya tidak mudah longsor. Setelah menemui tempat yang baru yang cocok, penyu tersebut dengan sirip depannya menggali lubang sebesar ukuran tubuhnya dan untuk bertelurnya sampai kedalaman 50 cm. Setelah lubang bertelur selesai dibuat, penyu belimbing tersebut dengan posisi yang diam, mulailah mengeluarkan telur-telurnya satu per satu sampai habis dan proses bertelur ini membutuhkan waktu 31 menit. Setelah telurnya dikeluarkan semua, mulailah penyu tersebut menutup lubang tempat telurnya berada yang membutuhkan waktu 12 menit. Selesai menutup lubang sarang telurnya, ternyata aktifitasnya belum selesai, penyu tersebut membuat sarang telur yang lain. Ternyata ini dilakukan untuk penyamaran atau kamuflase terhadap predator. Agar predator tidak menyantap telur yang ada di sarang sebenarnya. Proses bertelur dari penyu belimbing, dari mulai naik ke darat sampai kembali lagi ke laut, setidaknya membutuhkan waktu 2 jam.

Malam itu (11 Juli 2013) setidaknya ada 9 ekor penyu belimbing berbagai ukuran yang naik ke darat untuk melakukan peneluran. melihat kondisi pantai Jamursba Medi sebagai tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia, maka setidaknya perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: 
1. Menjadikan seluruh bentangan pantai tempat peneluran penyu di Kab. Tambrau (pantai Jamursba Medi dan pantai Warmon) sebagai kawasan konservasi,
2. Membuat road map konservasi kawasan dan konservasi penyu belimbing di Kab. Tambrauw,
3. Mendorong berbagai lembaga dunia untuk memberi perhatian lebih kepada upaya konservasi baik untuk kawasannya maupun untuk penyu belimbingnya

Saya bersyukur sekali bisa menyaksikan penyu belimbing bertelur dan melihat pemandangan yang sangat indah alami dari pantai Jamursba Medi, suatu pengalaman yang sangat berarti dalam hidup saya. Saya sudah menyaksikan sendiri sebelum terjadi perubahan besar baik terhadap habitat penyu belimbing maupun lingkungan pantai Jamursba Medi-nya sendiri. 
Penyu yang ada di Indonesia dengan skala ukurannya
 
Trend jumlah penyu bertelur setiap tahunnya di Jamursba Medi
 
Migrasi Penyu Belimbing sampai ke California
 
Pantai Jamursba Medi sepanjang 18 km
 
Jamursba Medi masih alami disukai penyu belimbing untuk bertelur
 
Tanda ada sarang telur penyu belimbing
 
Ketika seekor penyu belimbing naik ke darat
 
Ketika proses bertelur berlangsung
 
Ketika proses menutup sarang telurnya
Read More --►

Senin, 15 Juli 2013

Pantai Jamursba Medi di Kabupaten Tambrauw – Papua Barat, Pantai Terindah di Dunia

Bagi saya dan teman-teman lainnya satu rombongan, berada di Pantai Jamursba Medi bagaikan sebuah mimpi indah saja. Padahal kami sering berkunjung ke pantai-pantai yang ada di Pulau Bali, Lombok, Banyuwangi, Timor, Sulawesi, bahkan ke pantai Great Barrier Reef di Australia, Borocay di Philipina, atau Gold Coast di Amerika. Namun, pantai-pantai tersebut tidak dapat mengalahkan keindahan pantai Jamursba Medi. Pasir putih pantai Jamursba Medi membentang jauh dan lebar, sangat panjang, sampai-sampai batas ujungnya tidak dapat tertangkap oleh mata bugil. Butiran pasir putihnya sangat halus menghampar dengan kadang diselingi pasir berbentuk menyerupai kristal seperti pasir putih yang ada di pantai Kuta Lombok. Dan tidak hanya itu, banyak sekali perpaduan dan harmoni alam yang tercipta di pantai Jamursba Medi ini. Satu sisi adalah bibir samudera Pasifik yang jernih dan membiru dan di sisi lainnya adalah menjulang tegak bukit hutan perawan yang hijau dan natural. Pantulan kilau dari sinar matahari yang menimpa permukaan laut dengan atap langit yang biru bersih. Suara orchestra deburan ombak dipadu dengan suara berbagai burung endemis Papua. Kalau malam, harmoni itu ditambah lagi oleh lenguhan suara rusa, babi hutan, dan kanguru yang berlalu lalang ke pantai untuk mencari makan.

Panjang garis pantai Jamursba Medi sekitar 18 km dengan lebar pasir putihnya antara 100 – 500 m. Suatu hamparan pasir putih yang luas. Kami berjalan kaki dari ujung ke ujung, membutuhkan waktu 2 – 3 jam namun itu tak terasa lama atau melelahkan karena kami senang dapat menikmati pemandangan di kanan kiri yang spektakuler indahnya. Satu hal lagi, di pantai ini seolah tidak ada penghuninya, karena tidak seorang-pun terlihat ada disitu. Bagaimana tidak terlihat ada manusia di Jamursba Medi? Jamursba Medi adalah bagian dari distrik Abun (pengertian distrik sama dengan kecamatan) yang dihuni oleh suku Abun yang merupakan salah satu suku asli Papua. Hasil sensus 2011, jumlah penduduk distrik Abun ini sebanyak 596 jiwa atau 134 KK. Mereka menempati kampung: Saubeba, Warmandi, Wau, dan Weyaf. Suku Abun ini terdiri dari beberapa marga/keret. Dan yang menguasai pantai Jamursba Medi adalah marga Yessa. 

Pantai Jamursba Medi adalah bagian dari wilayah kabupaten Tambrauw yang merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Sorong dan kabupaten Manokwari yang berada di provinsi Papua Barat. Bagaimana bisa jarang ketemu orang di Tambrauw? Kab. Tambrauw luasnya 517.975 km2 dengan jumlah penduduk hanya 29.000 jiwa atau kepadatannya sekitar 6,2 jiwa/km2 saja. Jadi wajar saja kalau sulit bertemu dengan penduduk di pantai Jamursba Medi ini.

Pantai Jamursba Medi selain keindahan alamnya yang luar biasa juga sebagai tempat peneluran (nesting area) penyu belimbing terbesar di dunia. Dengan jenis pasir yang cocok dan bentangannya yang luas serta masih sepi sehingga sangat disukai oleh penyu belimbing untuk bertelur disini. Kami menyaksikan sendiri (11 Juli 2013) bagaimana belasan penyu belimbing yang berukuran panjang tubuh setidaknya 2 m melakukan peneluran di pantai ini.

Potensi keindahan alam pantai Jamursba Medi belum banyak dimanfaatkan karena faktor aksesbilitasnya. Tiket penerbangan Jakarta – Sorong PP sekitar Rp 6 juta. Dari kota Sorong ke Sausapor sebagai ibu kota Kab. Tambrauw bisa menggunakan jalan darat atau jalur laut. Lewat jalan darat, anda bisa menggunakan jasa mobil atau kendaraan roda empat dengan tarif Rp 250 ribu per orang. Jenis mobil yang digunakan adalah jenis mobil double cabin. Karena hanya jenis mobil ini yang dapat melahap jalan tanah yang terkadang becek sehabis hujan yang tersedia dari kota Sorong ke Sausapor. Waktu tempuh jalan darat sekitar 4 jam dalam kondisi normal. Dari Sausapor ke pantai Jamursba Medi harus menyewa perahu atau speed boat, karena belum terhubungkan oleh jalan darat. Kalau mau menyewa speed boat, tarifnya sekitar Rp 10 juta. Kami menggunakan speed boat 800 pk membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Apabila menggunakan jalur laut dari Sorong ke Sausapor di Tambrauw, dahulu bisa menggunakan kapal perintis, namun saat ini kapal perintis sudah tidak beroperasi lagi. Saat ini cara yang paling mudah dan satu-satunya untuk bisa ke langsung ke lokasi pantai Jamursba Medi adalah dengan menyewa speed boat. Tarif sewa speed boat kapasitas 8 orang dengan mesin 400 pk untuk durasi sehari dua hari satu malam (36 jam) atau perjalanan pulang pergi dengan menginap semalam di lokasi, sekitar Rp 35 juta. Mahal memang, karena bahan bakar minyak jenis premium di Tambrauw saat ini Rp 25 ribu/liter padahal harga resmi di SPBU Rp 6.500/liter.

Mengembangkan potensi pantai Jamursba Medi untuk menjadi kegiatan yang ekonomis -sangat sulit-. Karena pembangunan infrastruktur dasar yang diperlukannya, akan membutuhkan biaya yang sangat besar, dan itu secara hitung-hitungan tidak akan ekonomis atau antara biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaat yang akan diperolehnya. Sehingga pengembangan potensi pantai Jamursba Medi untuk kegiatan ekonomi yang membutuhkan infrastruktur masif, tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat dan cepat. Alternatif rasional pemanfaatan potensi pantai Jamursba Medi yang dapat dilakukan dalam waktu dekat dan tentunya yang harus dapat berdampak positif terhadap kesejahteraan penduduknya adalah melalui konservasi dan wisata minat khusus (dalam Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, konservasi adalah salah satu cara pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil). Sedangkan untuk wisata minat khusus, jenis wisata ini banyak diminati oleh turis berkantong tebal yang tidak segan untuk merogoh koceknya 'dalam-dalam' untuk memuaskan keingintahuannya. Wisata minat khusus yang dapat dikembangkan di Jamursba Medi atau di Kab. Tambrauw secara umum, adalah: menyaksikan penyu bertelur, menikmati pantai pasir putih, menyelam, hiking, menyaksikan peralatan  perang peninggalan tentara Sekutu pada Perang Dunia II, budaya suku Abun, dan masih banyak lagi objek-objek wisata lainnya. Untuk pengembangan wisata minat khusus ini, kewajiban yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tambrauw adalah membangun air strip atau merevitalisasi lapangan terbang peninggalan Perang Dunia II yang sudah ada. Kalau dari Sorong ke Tambrauw sudah tersedia jalur penerbangan komersial walaupun dengan pesawat ukuran kecil, saya yakin pariwisata atau ekonomi masyarakat Tambrauw akan jauh meningkat.
Titik pendaratan di pantai Jamursba Medi
'Rumah Batu' penanda di pantai Jamursba Medi
Menyusuri pantai Jamursba Medi
Pantai Jamursba Medi
Pasir putih di pantai Jaamursba Medi membentang 18 km
sesekali bertemu batu granit
Tipe pasir yang disukai tempat bertelur penyu belimbing
Jamursba Medi tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia






Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving