Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label cairns. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cairns. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Desember 2013

Menikmati Pasar Malam di Kota Cairns Australia

Pasar malam di kota Cairns-Queensland Australia tidak seperti umumnya di Indonesia yang berada di area terbuka seperti alun-alun dan lainnya. Tetapi pasar malam di kota Cairns menempati tempat permanen seperti sebuah mall layaknya. Perbedaan dengan pasar-pasar lainnya hanya perkara jam bukanya. Pasar malam ini buka setiap hari mulai pk 17 sampai pk 23. Jenis barang yang dijual disini didominasi oleh barang suvenir khas Australia seperti tsirt, tas kulit kanguru, jaket kulit buaya, perhiasan, asesoris dan tentunya yang wajib ada disetiap pasar malam adalah penjaja makanan. Tetapi tidak ada arena hiburan yang di Indonesia menjadi salah satu ciri khasnya, seperti adanya komedi putar dan badut.
Luas pasar malam ini tidak lebih dari 1000m2 yang terdiri dari 3 lorong. Lorong pertama terdiri konter-konter pijit asli china, lorong ke dua terdiri dari penjual tsirt, jaket, topi dan lainnya, serta lorong ke 3 dikhususkan untuk penjual perhiasan dan asesoris. Dan diujung berupa hall disediakan untuk food court. Teman saya beli emas imitasi tahan luntur asal tidak diapa-apakan, sepanjang 45 inci  dengan harga AU$ 4 dolar/inci. Dia beli sebagai oleh-oleh di kampungnya, karena di kampungnya terutama ibu-ibu sangat gandrung dengan perhiasan emas. Sehingga diberi oleh-oleh emas walaupun imitasi akan senang melebihi dikasih berupa barang lainnya. Dia bilang: ‘kalau beli emas beneran, bisa berapa duit tuh?’ Harga tsirt $10, harga kulit kanguru ofsetan ukuran XL =$100, harga yang lebih miring sedikit dibanding dengan di tempat lainnya. Tapi ini-pun tidak bicara soal kualitas.
Pengunjung pasar malam yang bersih dan nyaman ini, sebagian adalah orang kulit putih dan sebagian warga keturunan Asia. Orang Asia yang datang ke kota Cairns sudah bisa dipastikan akan mengunjungi pasar ini, karena orang Asia hobinya adalah belanja. Tetapi jangan salah, tidak semua orang datang ke pasar malam ini adalah untuk berbelanja, malah sebagian besar datang ke tempat ini untuk makan malam. Termasuk kami.
Kami pilih salah satu dari tiga konter makanan Chinesse yang ada disitu. Menariknya konter ini adalah self service. Pilihan pembeli adalah hanya ukuran piringnya. Piring paling kecil seharga $10,90 ukuran medium $12,90, ukuran besar $13,90 dan ukuran ekstra besar $14,90. Setelah bayar kita diberi piring plastik sesuai nilai yang dibayar, kemudian kami dipersilahkan mengambil sendiri mulai dari nasi yang tersedia nasi putih dan nasi goreng dan ada 12 macam masakan seafood, ayam, dan sapi. Jadi saya lihat orang-orang nganmbil nasinya sangat sedikit tetapi lauhnya sampai menjulang di atas piringnya. Untuk ukuran nilai uang Australia, dengan harga segitu tentu termasuk murah. Saya sendiri nyesel, karena dengan pesan yang ukuran medium seharga $12,90 saja, makanan yang sudah saya ambil tidak habis semua disantap. Rasanya satu porsi ini tepatnya untuk berdua. Makan malam ini jadi kenangan mengunjungi pasar malam di kota Cairns, walaupun saya sama sekali tidak beli sesuatu barang-pun. Yang akan mengunjungi kota Cairns, silahkan nanti datang ke pasar malam ini, minimal untuk makan malam. Menyenangkan!

Gerbang pasar malam di Cairns

Banyak menjajakan barang suvenir

Pengunjungnya sebagian orang Asia
Asesoris dan perhiasan banyak tersedia

Makan dengan beli ukuran piring

Pilih dan ambil sesuka dan semuatnya piring

Ada 12 jenis menu yang tersedia

Ini penampakan satu piring 'muncung'

Menikmati makan malam di pasar malam kota Cairns


Read More --►

Senin, 02 Desember 2013

Upaya Konservasi Ikan Hiu Dibicarakan Pada Pertemuan WCPFC ke 10 di Cairns-Australia

Komisi Perikanan Wilayah Barat dan Tengah Pasific atau Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) yang fokus kepada pengelolaan perikanan tuna dan merupakan salah satu organisasi perikanan regional di dunia atau Regional on Fisheries Management Organization (RFMO) tengah mengadakan pertemuan tahunannya yang ke 10 d kota Cairns-Australia. Beberapa isyu utama yang dibahas dalam pertemuan ini adalah:
1.   Pembatasan upaya tangkapan (catch limit),
2.   Pengaturan jumlah hari tangkap dari kapal purse seine (PP), dan
3.   Pengetatan penggunaan penggunaan rumpon atau Fish Agregating Divice/FAD.
Isyu-isyu tersebut mengemuka karena ditengarai sudah terjadi penurunan populasi ikan tuna akibat over exploited, apalagi penggunaan alat tangkap purse seine dan rumpon yang dianggap tidak ramah lingkungan karena berbagai ukuran ikan tuna, mulai dari ukuran anakan sampai ukuran besar dapat tertangkap semuanya. Penggunaan purse seine dan rumpon juga dapat menangkap ikan-ikan lainnya yang tidak menjadi target seperti ikan hiu.
Negara Amerika paling getol menyuarakan isyu-isyu tersebut namun mendapat tantangan yang keras dari negara Jepang, Korea, China, dan Taiwan. Empat negara tersebut adalah pemain utama dalam penangkapan ikan tuna di wilayah WCPFC dan juga negara-negara tersebut yang paling banyak mendapat kuota dalam bentuk jumlah hari tangkap dibanding negara-negara lainnya. Tentunya wilayah penangkapan yang dimaksud adalah di wilayah ZEE dan laut lepas.  Bahkan beberapa negara kecil yang ada di Pasifik menjual jatah kuotanya kepada empat negara Asia tersebut karena keterbatasan armada penangkap ikan yang dimilikinya. Indonesia yang kini telah menjadi anggota WCPFC mendapat kuota hanya 500 vessel days fishing.
Kenapa rumpon juga diusulkan untuk diperketat? Karena rumpon masa kini dioperasikan atau dipantau melalui satelit yang terhubung ke armada penangkap ikan. Sehingga sewaktu-waktu ketika di sekitar rumpon tersebut telah terdeteksi banyak gerombolan ikan tuna, maka kapal penangkap ikan akan segera mendekat ke rumpon dan kemudian menebar alat tangkap purse seine. Disitulah berbagai ukuran ikan target tertangkap dan tidak hanya itu tetapi ikan lainnya-pun yang bukan target seperti ikan hiu akan ikut tertangkap juga.
Penggunaan alat tangkap long lines (LL) dipandang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan alat tangkap Purse Seine (PS). Namun demikian, beberapa LSM/NGO yang hadir sebagai undangan mengusulkan agar alat tangkap LL perlu dimodifikasi agar ikan hiu tidak ikut tertangkap. Yaitu, mengganti ‘wire leader’ pancingnya (yang terbuat dari kawat baja) dengan monofilament nylon. Dengan menggunakan monofilament nylon, ikan hiu yang terpancing dapat memutus nylon tersebut dengan menggigitnya sehingga ikan hiu menjadi menjadi selamat.
Dalam pertemuan WCPFC kali ini, isyu tentang perlunya mengadopsi upaya perlindungan dan konservasi ikan hiu lebih mengemuka dibandingkan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kiranya Indonesia perlu mengantisipasinya, karena Indonesia menjadi calon penyelenggara selain negara Samoa  sebagai tuan rumah pertemuan tahunan WCPFC yang ke 11 atau pertemuan pada tahun depan. Sebagaimana kita ketahui Indonesia adalah negara yang memiliki angka produksi ikan hiu tertinggi di dunia.
Pertemuan WCPFC di Cairns-Australia
PP dan Rumpon, ikan hiu-pun ikut tertangkap
Mengganti wire leader dengan monofilamen nylon, aman untuk hiu

Read More --►

Hidup Tenang di Kota Cairns Kota Iklim Tropis di Bagian Timur Australia

Kota Cairns yang termasuk negara bagian Queensland-Autralia adalah kota kecil yang persis berada satu garis di bawah Papua New Guina (PNG), sehingga tidak begitu salah kalau kota ini dipromosikan sebagai ‘tropical north queensland’. Matahari-pun hampir sama dengan di Indonesia yang bersinar 12 jam (pada bulan Desember ini) dengan suhu sejuknyasekitar 22 derajat Celcius dan kadang turun hujan di pagi atau sore hari. Namun demikian, kelembabannya tidak setinggi dengan di negara kita.

Kota yang dibangun tahun 1876 sebagai kota penunjang kegiatan pertambangan emas yang ada di sekitar wilayah ini. Nama Cairns diambil dari nama Gubernur Negara Bagian pada waktu itu, yaitu: Sir William Cairns. Sebelumnya di sekitar kota ini sudah dihuni oleh suku Aborigin sebagai suku asli Australia dan sebelum massa Perang Dunia ll, Queensland banyak berperan sebagai kota suplier logistik untuk tentara yang berada di wilayah Pasifik bagian Barat, dan kota Cairns sendiri dijadikan sebagai kota tempat istirahat dan liburan bagi para tentara sekutu tersebut. Setelah Perang Dunia ll berakhir, kota Cairns terus mengembang diri sebagai kota tujuan wisata favorit bagi warga Australia dari wilayah lainnya. Apalagi kota Cairns adalah bagian dari tiga wilayah warisan dunia, yaitu: Great Barrier Reef , hutan hujan tropikal basah / wet tropics rainforests, dan sungai fosil / riversleigh fossil field. Sejak tahun 1984 seiiring makin populernya Great Barrier Reef, kota Cairns bermetamorfose dari ‘kota tidur’ menjadi ‘kota yang tumbuh berkembang’ / ‘from a sleepy regional town to the thriving city of today’. Walaupun demikian, kota Cairns tetap memilih tumbuh dengan keasrian lingkungan yang dimilikinya serta ketenangan hidup bagi warganya, yang berbeda dengan kota-kota lain di dunia yang lebih fokus kepada money market oriented, pembangunan gedung pencakar langit tanpa kendali, dan tempat berlangsungnya kegaduhan politik (political strife).

Kota Cairns dengan penduduk 150 ribu jiwa yang setara dengan jumlah jiwa di satu kelurahan di kota Bogor, namun keberadaan infrastrukturnya jauh melebihi kota Bogor itu sendiri (kota Bogor penduduk hampir 2 juta jiwa), sehingga tinggal di kota Cairns terasa begitu nyaman walaupun seolah seperti senyap karena bertemu atau berpapasan di jalan dengan orang lain tidak bisa setiap saat. Mobil banyak terlihat di tempat parkir tetapi yang berjalan di jalan raya tidak banyak, begitu juga dengan pertokoan dan restoran yang banyak berjajar di Lake Street, Grafton Street, Shields Street, dan street-street  lainnya tidak banyak pengunjungnya. Saya pikir kalau itu terjadi di Indonesia dimana toko atau restoran tidak banyak pengunjungnya, pasti sudah bangkrut dari dulu-dulu.

Kota ini dibangun dan dipikirkan tata ruangnya secara matang, bukan terbalik, dimana tata ruangnya mengikuti kenyataan yang sudah ada. Perkantoran dan pemukiman dibuat perblok sehingga jalan lebar yang mengelilinginya seperti bentuk kotak persegi empat saja, dimana sangat teratur dan memudahkan berbagai hal seperti aksesbilitas dan pengaturan infrastruktur kota. Perkantoran dipisahkan dengan pemukiman, sehingga tidak menimbulkan ke-semrawut-an dan kemacetan di jalanan. Kemacetan Jakarta salah satunya disebabkan oleh tidak terpisahnya antara lokasi pabrik, perkantoran, pusat bisnis, dan pemukiman. Tidak heran, apabila mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya akan sama padatnya dan itu akan berakibat dengan terbentuknya banyak simpul-simpul kemacetan. Kalau perkantoran, pusat perdagangan, pabrik, dan pemukiman dipisahkan, tentu mobilitas penduduk akan lebih tertib dan teratur dan tidak membentuk simpul-simpul kemacetan.

Sore hari jalan-jalan di sekitaran kota sekalian ngisi perut, sungguh sangat menyenangkan. Trotoar atau pedestriannya sangat memanjakan bagi para pejalan kaki, selain lebar juga tanpa ada unggah-unggahan dan dikanan-kirinya dihiasai oleh berbagai tanaman bunga yang menambah kesejukan. Soal makanan? Kita akan diberikan banyak pilihan menu makanan. Masakan Chinesse, Thailand, dan India sebagai wakil Asia, banyak menyebar di bebagai tempat, kemudian juga ada restoran Turki dan Timur Tengah, kalau menu masakan barat tentunya sangat banyak restoran yang menyajikannya, karena menu ini adalah menu di rumahnya sendiri. Restoran atau cafe ataupun tempat makan dan minum  lainnya, ditata secara apik sehingga menggoda untuk mengunjunginya. Berapa sekali makan disini? Di warung kecil, satu porsi tom yam dengan nasi seharga AU$12,5 atau sekitar Rp 130 ribu, kalau di restoran setidaknya AU$20 atau sekitar Rp 210 rb, harga itu belum termasuk minumannya. Air mineral ukuran botol sedang seharga AU$2,5 atau Rp 27 ribu. Mahal ya? Kalau dirupiahkan tentu mahal, jauh lebih murah di Indonesia. Maka di satu sisi, perlu bersyukur hidup di Indonesia  karena serba murah dan gampang. Untuk membeli suvenir? Hampir di setiap jalan di kota Cairns terdapat satu toko suvenir khas Australia, yang menjual berbagai pernak pernik dan tsirt Australia. Tapi jangan heran, semuanya made in China. Bukan asli buatan Australia, untuk miniatur senjata khas Aborigin sekalipun. Bagaimana untuk menginap? Harga kamar untuk menginap di hotel kelas medium seperti di hotel Park Regis, hotel Sebel dan lainnya, sekitar AU$ 100 atau Rp 1,1 juta per malam. Yang sekitar US$ 50 juga banyak tersedia. Sadar bahwa potensi ekonomi dari turisme itu sangat besar dan dapat menjadi andalan sebagai sumber kesejahteraan penduduknya, Kota Cairns seperti halnya orientasi kota-kota lain di dunia (selain kota-kota di Indonesia) yang diarahkan untuk menjadi kota tujuan wisata, kota ini banyak menjanjikan dan memberikan kemudahan dan kesenangan kepada para turis atau-pun pengunjung lainnya. Turis dapat mengunjungi dari puncak bukit sampai menyelam di dasar laut. Bagaimana untuk bisa sampai kesana? Banyak bertebaran travel agen atau konter yang menawarkan jasa ragam paket wisata. Mau menyelam di Great Barrier Reef? ‘Book here, price under $100’ begitu promosi yang ditawarkan oleh para agen wisata tersebut. Belum lagi, iklan menggoda untuk mengunjungi keindahan pulau kecil di sekitar Great Barrier yang ditawarkan AU$ 50/orang. Seandainya banyak waktu disini, kepengen juga sih ikut  salah satu paket tur-nya.  Tidak salah, sangat menyenangkan apabila mendapat tugas atau liburan di kota Cairns ini, karena itu akan membawa kenangan tersendiri terutama tentang suasana nyaman dan tenang dengan perpaduan budaya lokal serta alam indahnya, sangat berbeda apabila datang ke kota-kota lainnya di dunia ini.

Untuk dapat datang ke kota Cairns, sudah ada penerbangan Garuda, walaupun sampai Brisbane, dari Brisbane ke kota Cairns bisa menggunakan maskapai Virgin Australia. Brisbane dan kota Cairns membutuhkan waktu penerbangan sekitar 1,5 jam. Berapa harga tiket penerbangannya? Dengan Garuda dengan jalur Jakarta-Denpasar-Brisbane, kemudian dari Brisbane ke kota Cairns menggunakan maskapai Virgin Australia, total harga tiketnya untuk sekali jalan sekitar AU$ 1000 atau Rp 11 juta (harga bulan Desember awal 2013). Mau?
Letak Kota Cairns di Australia
Kota Cairns dari udara

Perpaduan Arsitektur Klasik dengan Modern

Kota yang tenang

Keasrian yang terjaga

Memanjakan Pedestrian

Pasar tradisional surganya orang Asia

Makan siang di pinggir jalan

Cafe banyak tersebar di seantero kota
Menikmati sore hari di pinggir pantai
Jalan-jalan di pinggir pantai yang menyenangkan
Mau Belanja? Ada disini
Kalau Merokok. tidak boleh sembarangan


Tempat berjudi-pun tersedia di Cairns



Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving