Gambar 2. Jumlah dan persentase koloni Isis Hippuris pada kedalaman 2 – 7 meter
Dari gambar 2 diatas menunjukkan jumlah dan presentase koloni Isis Hippuris lebih besar berada pada kedalaman 5 meter dengan persentase 38,14%. Diperkirakan bahwa Isis Hippuris dapat hidup dengan baik pada kedalaman 5 meter yang dimungkinkan pada kedalaman tersebut arus tidak terlalu kuat. Sedangkan persentase jumlah koloni terbesar selanjutnya pada kedalaman 2 meter dengan persentase 30,31%. Hal tersebut dimungkinkan karena pada daerah tersebut koloni Isis Hippuris adalah koloni yang baru berkembang kembali setelah dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti hal nya pada kedalaman 3 meter, di wilayah tersebut dimungkinkan termasuk salah satu wilayah Isis Hippuris yang dimanfaatkan oleh masyarakat namun baru mulai untuk berkembang kembali.
Berdasarkan ukuran
Gambar 3. Jumlah Populasi Isis Hippuris berdasarkan ukuran
Berdasarkan ukuran seperti yang dilihat pada Gambar 3 diatas, terlihat bahwa populasi Isis Hippuris yang dominan hidup di lokasi survey adalah koloni yang memiliki ukuran antara 30 – 50 cm sebesar 44,66%. Sedangkan untuk ukuran 0-30 cm memiliki populasi sebesar 19,47% dan pada ukuran diatas 50 cm hanya memiliki populasi sebesar 19,47%. Pada umumnya jumlah populasi akan sebanding dengan ukuran koloni, bahwa semakin besar ukuran Isis Hippuris maka semakin banyak juga populasinya. Namun pada data tersebut menggambarkan bahwa pernah dilakukan kegiatan pengambilan untuk dimanfaatkan.
Model Pemanfaatan
Kronologi Pemanfaatan
Pemanfaatan Isis Hippuris dilakukan masyarakat setempat sejak tahun 2008. Hal tersebut dilatar belakangi adanya permintaan pasar yang berasal dari pedagang pengumpul yang langsung membeli kepada masyarakat yang memanfaatkan bambu laut tersebut.
Sebelumnya dibuat laporan hasil tinjauan lapangan oleh pengumpul itu sendiri mengenai potensi bambu laut yang menghasilkan surat rekomendasi dari berbagai instansi Pos Polair Moutong, Kantor Pelabuhan Moutong, maupun dari pihak Kecamatan Moutong serta beberapa perangkat desa dan pernyataan bersama dari warga setempat.
BKSDA Provinsi Sulawesi Tengah turut memberikan rekomendasi dan dukungan melalui pelaksanaan sosialisasi tentang tata cara pengambilan bambu laut di Kecamatan Moutong. Pengolahan bambu laut tergolong mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat termasuk para wanita dan anak-anak sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan. Faktor pendukung lain adalah masih belum adanya peraturan yang mengatur pemanfaatan bambu laut saat itu.
Teknologi Pengambilan dan Pengolahan
Pengambilan bambu laut dilakukan dengan menggunakan peralatan berupa linggis dan parang. Teknik pengambilan selayaknya dilakukan dengan mematahkan batang maupun ranting bambu laut, tapi beberapa yang dilakukan adalah mencongkel substrat yang ada ditempati oleh bambu laut tersebut.
Kegiatan pengambilan bambu laut ini dilakukan setiap hari baik bersamaan dengan kegiatan penangkapan ikan maupun secara langsung khusus untuk mengambil bambu laut. Untuk pengolahannya, bambu laut yang telah diambil direndam dengan air laut selama 2 hari kemudian di keringkan agar dapat dengan mudah dikelupas.
Karakter Sosial Ekonomi Budaya
Untuk aspek kependudukan, jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Moutong pada tahun 2011 sebanyak 20.705 jiwa (BPS Parigi Moutong, 2011). Penduduk Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong merupakan sebagian besar pernah memanfaatkan Isis Hippuristersebut disebabkan Isis Hippuris memiliki nilai ekonomis pada saat itu sehingga pemanfaatan biota tersebut bertujuan untuk menambah penghasilan bagi masyarakat setempat. Disamping hal tersebut juga didukung dengan belum adanya peraturan pemerintah ataupun adat yang mengendalikan pemanfaatan Isis Hippuris.
Distribusi Pemasaran Hasil
Alur Distribusi Hasil
Dari hasil wawancara yang diperoleh, alur distribusi hasil pemanfaatan bambu laut di Kecamatan Moutong yakni pedagang pengumpul mendatangi nelayan kemudian dilakukan transaksi dengan harga jual Rp.1.500,- per kg. Kemudian selanjutnya masyarakat tidak mengetahui jalur pemasaran selanjutnya hingga ke konsumen karena telah dilakukan sendiri oleh pedagang pengumpul. Namun sangat memungkinkan bila distribusi hasil pemanfaatan bambu laut tersebut dari pedagang pengumpul berlanjut kepada pihak eksportir.
Pengumpulan bambu laut oleh pedagang pengumpul rata-rata dilakukan setiap 3 – 5 bulan sekali. Hasil dalam sekali pengumpulan bambu laut dapat mencapai 6 – 7 ton berat kering bambu laut.
Alur distribusi tersebut dapat digambarkan pada skema berikut.
Gambar 4. Alur distribusi pemanfaatan bambu laut (Isis Hippuris)Kendala dan Permasalahan
Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut yakni teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat yang merupakan terumbu karang. Meskipun pernah dilakukan sosialisasi tata cara pengambilan bambu laut oleh pihak BKSDA namun pada kenyataannya pengambilan yang dilakukan secara umum langsung mencongkel bambu laut satu koloni dengan maksud dapat mengambil dan menjualnya lebih banyak.
Selain itu, beberapa hal lain yang mengancam ekosistem terumbu karang termasuk didalamnya adalah biota bambu laut tersebut yakni adanya aktivitas pengeboman ikan yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Sedangkan untuk kondisi pemanfaatan dan distribusi bambu laut di Kecamatan Moutong sudah tidak berjalan lagi sejak tahun 2011 sampai saat ini yang dikarenakan adanya pelarangan pengambilan bambu laut oleh pemerintah.
KESIMPULAN
Status populasi dari biota bambu laut (Isis Hippuris) dari masing-masing stasiun, pada stasiun I memiliki kepadatan populasi sebesar 852 koloni / 500 m2, sedangkan pada stasiun II memiliki populasi 514 koloni / 500 m2dengan persentase hidup koloni Isis Hippuris lebih besar berada pada kedalaman 5 meter dengan persentase 38,14% dan rata-rata ukuran yang dominan hidup adalah ukuran 30-50 cm dengan persentase 44,66%.
Sementara dalam bentuk pemanfaatannya bambu laut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk dijual kepada pedagang pengumpul dengan harga Rp.1.500,- / kg, yang kemungkinannya dilanjutkan kepada eksportir. Pengumpulan bambu laut oleh pedagang pengumpul rata-rata dilakukan setiap 3 – 5 bulan sekali. Hasil dalam sekali pengumpulan bambu laut dapat mencapai 6 – 7 ton berat kering. Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut yakni teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat yang merupakan terumbu karang, serta ancaman dari adanya aktivitas pengeboman ikan yang dilakukan oleh oknum masyarakat.
REKOMENDASI TINDAK LANJUT DAN KEBIJAKAN
Untuk rekomendasi tindak lanjut diperlukan pengkajian yang lebih mendalam mengenai Isis Hippuris baik dari segi biomorfologi nya sampai pada pengkajian mengenai habitat ekologi yang ideal dalam siklus hidupnya. Kaitannya dengan pemanfaatan biota Isis Hippuris ini diharapkan kedepannya dapat dimanfaatkan secara optimal namun tetap dalam konteks terkendali agar pemanfaatan dapat berjalan dengan membantu taraf penghasilan masyarakat secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKABadan Pusat Statistik Kab. Parigi Moutong., 2011. Kabupaten Parigi Moutong dalam Angka Tahun 2011. Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Fabricius, K. And P. Alderslade, 2001. Soft Coral and Sea Fan. Australia institude of Maritim Science, Queensland, Australia.
Manuputty, A. E. W., 2002. Karang Lunak (Soft Coral) Perairan Indonesia. LIPI, Jakarta
Manuputty, A. E. W., 2008. Isis Hippuris Linnaeus 1758 Oktokoral Penghasil Anti Virus. Oseana Vol. XXXIII(I) 2008 hal:19-24
Radar Toli-Toli, 8 September, 2009. Tim Gabungan Periksa Satu Kontainer Bambu Laut Rencananya Akan dikirm ke Jawa Timur.
www.dkp.sulteng.go.id ., 03 Mei 2010. Digagalkan Pengiriman 30 Ton Bambu Laut.
(Oleh: Tim survei Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut-Makassar)