Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label survei. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label survei. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

Pedoman Pengkayaan Populasi Kima (Tridacnae)

https://www.scribd.com/doc/299850736/Pedoman-Pengkayaan-POPULASI-KIMA-Tridacnae (Link Download)




Populasi kima (Tridacnae) di dunia maupun di perairan Indonesia sudah diambang kepunahan, maka dari itu, seluruh jenis kima yang ada di perairan laut Indonesia yang terdiri dari 7 jenis sudah berstatus dilindungi yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.
Oleh sebab populasi kima di perairan alaminya sudah menurun drastic, maka salah satu cara untuk memulihkan kondisi populasinya adalah melalui ‘pengkayaan populasi’. Pengkayaan populasi diartikan sebagai; penglepasan ikan/biota akuatika hasil budidaya pada berbagai stadium dan umur ke dalam suatu wilayah perairan atau ekosistem tertentu untuk meningkatkan pasokan alami anak anak ikan/biota dan untuk mengoptimalkan pemanenan benih benih ikan sebagai cara untuk mengatasi keterbatasan recruitment. ‘pengkayaan populasi’ berdimensi jangka pendek dibandingkan dengan upaya ‘restoking’. Restoking diartikan sebagai penebaran kembali jenis ikan asli/local pada berbagai stadia dan umur kedalam populasi alam perairannya untuk memulihkan biomasa induk yang hampir punah sampai pada suatu tingkat populasi tertentu.
Buku pedoman Pengkayaan Populasi Kima (Tridacnae) disusun dengan tujuan untuk memberikan acuan dalam pengkayaan populasi kima secara benar.

Kima (Tridacnae) yang Merupakan Biota Perairan Laut
 
Indonesia Memilik 7 Jenis Kima

Kima atau Giant Clams yang ada di Peraiaran Kalimantan Barat
Kima Raksasa

Read More --►

Senin, 22 April 2013

Hasil Survei Status Populasi dan Pemanfaatan Bambu Laut (Isis hippuris) di Perairan Parigi Moutong-Prov. Sulawesi Tengah


PENDAHULUAN


Bambu laut (Isis Hippuris) yang termasuk dalam suku Gorgonacea yang merupakan kelompok dari karang lunak (Octocorallia) dimana karang lunak adalah salah satu unsur penyusun terumbu karang. Gorgonacea ini umumnya tersebar luas di perairan Indo-Pasifik dan beberapa tempat lainnya, terutama di daerah tropis. Sebagai unsur penyusun terumbu karang, diketahui bahwa karang lunak merupakan komponen terbesar kedua setelah karang batu, bahkan beberapa daerah yang kondisi terumbu karangnya rusak, karang lunak merupakan unsur utama penyusun terumbu karang (Manuputty, 2002).

Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, beberapa pakar telah giat melakukan penelitian tentang karang lunak. Penemuan-penemuan baru di bidang farmasi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti ditemukannya senyawa kimia yang dapat digunakan untuk bahan obat-obatan, zat antibiotik dan antitumor. Para ahli farmakologi dan ahli biokimia mencari produk baru untuk obat-obatan yang dapat diambil dari hasil ekstrak bahan kimiawi yang dihasilkan oleh karang Octocorallia (Fabicius dan Alderslade, 2001). Salah satu jenis Gorgonacea yang memiliki nilai ekonomis adalah Isis Hippuris yang biasa disebut sebagai bambu laut. Isis Hippuris mengandung berbagai macam senyawa yang dapat digunakan dalam kebutuhan industri farmasi dan biokimia. Isis Hippuris juga banyak mengandung senyawa spesifik hippuristanolyang memiliki sifat antivirus karena dapat mencegah proses replikasi virus (Manuputty, 2008).

Selain potensi tersebut diatas, Isis Hippuris juga banyak meliputi perhatian banyak orang, khususnya beberapa kawasan di Sulawesi karena banyak diekploitasi oleh masyarakat untuk tujuan ekspor. Data-data di media komunikasi menunjukkan banyaknya pengantarpulauan komoditas ini yang menjadi sitaan petugas karena tidak memiliki dokumen yang sah. Radar Toli-Toli (8 September 2009) mengabarkan bahwa tim gabungan ADPEL, BKSDA, Polisi dan TNI Angkatan Laut telah menyita sebuah kontainer berisi 18 ton Isis Hippuris yang siap dikirim dari pelabuhan Dede Tolitoli ke Lamongan, Jawa Timur. Dari media lain pun turut mengabarkan berita yang serupa. Berdasarkan arsip berita dari situs www.dkp.sulteng.go.id (30 Mei 2010) pun mengabarkan bahwa tim gabungan DKP Sulteng beserta Polair Polda Sulteng menemukan tumpukan bambu laut yang telah siap untuk dikirim yang mencapai 30 ton yang rencananya akan dibawa ke Kendari, Sulawesi Tenggara untuk diperdagangkan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka dilakukan beberapa pencegahan seperti adanya pelarangan peredaran bambu laut untuk sementara oleh pemerintah. Sementara saat ini kondisi mengenai bambu laut khususnya dalam jumlah populasi masih belum diketahui dan dimiliki data yang akuntabel. Sehingga dilakukan kegiatan survey status populasi dan pemanfaatan biota bambu laut (Isis Hippuris) di wilayah Sulawesi yang dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan.


METODELOGI KEGIATAN


Waktu dan Tempat

Kegiatan survei identifikasi populasi dan pemanfaatan jenis bambu laut dilaksanakan selama 2 bulan yang dimulai pada bulan Juli hingga bulan Agustus tahun 2012 yang berlokasi di Perairan Laut Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong


Alat dan Bahan

Peralatan dan Bahan yang digunakan dalam kegiatan survei ini adalah (1) peralatan selam (scuba); (2) alat tulis bawah air / sabak; (3) under water camera; (4) alat ukur satuan panjang / rol meter; (5) alat penunjuk lokasi / GPS; (6) alat ukur parameter kualitas fisik dan kimia perairan (suhu, salinitas, kecerahan, pH dan arus) berupa thermometer, refraktometer, secchi disk, kompas, dan alat pengukur kecepatan arus; (7) alat pengaman personalia (pelampung); dan (8) perlengkapan perangkat pengolah data dan dokumentasi (peralatan komputer, kamera, printer, dan alat tulis lainnya).


Jenis dan Metode Pengambilan Data

Survei pengambilan data tentang status populasi bambu laut (Isis Hippuris) dilakukan dengan metode belt transect atau transek sabuk, dengan panjang 50 meter. Luasan pengamatan dari garis transek yaitu  masing-masing 5 meter di kiri dan kanan, sehingga luas total areal pengamatan 500 m2. Pengukuran dilakukan di daerah ekosistem terumbu karang yang ditemukan. Variabel yang diamati adalah jumlah koloni dan ukuran tinggi koloni dalam suatu transek.




Gambar 1. Metode pengambilan data status populasi


Sedangkan untuk pengambilan data sosial, ekonomi, dan budaya dilakukan pengambilan dengan cara wawancara langsung dengan masyarakat sekitar selaku pemanfaat biota Isis Hippuris.


Analisis Data

Untuk menjawab tujuan dari kegiatan survei ini diperlukan tahapan analisis data dari keseluruhan data yang telah diperoleh. Analisis data tersebut terdiri dari :

Analisa Kuantitatif

Analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan potensi bambu laut di perairan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.


               ∑ individu

D =

Luas Transek

Analisa Kualitatif

Digunakan untuk mengetahui kondisi hidup dari Isis Hippuris tersebut, baik mengenai ukuran, daerah zonasi terumbu karang sebagai habitat, maupun tingkat kedalaman ideal tempat biota tersebut hidup.

Analisa Deskriptif

untuk menggambarkan potensi dan sebaran bambu laut, praktek pengerjaan atau pembersihan, jalur-jalur pemasaran produksi bambu laut sampai ke pedagang besar.


HASIL DAN PEMBAHASAN


Status Populasi

Jumlah Koloni

Lokasi pengambilan data dilakukan di wilayah perairan Kecamatan Moutong, yang terdiri dari dua stasiun, stasiun I terletak di pantai wilayah Pulau Lalayan. Sedangkan stasiun II terletak di pantai barat kecamatan Moutong. Kedua stasiun tersebut merupakan daerah yang memiliki ekosistem terumbu karang.

Untuk jumlah koloni dari masing-masing stasiun, pada stasiun I memiliki kepadatan populasi sebesar 852 koloni / 500 m2, sedangkan pada stasiun II memiliki populasi 514 koloni / 500 m2. Dari data yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa jumlah populasi Isis Hippuris diwilayah perairan Kecamatan Moutong terbilang masih melimpah dengan kepadatan yang cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan karena Isis Hippuris dapat hidup dengan baik pada zona terumbu karang.

Berdasarkan daerah zonasi terumbu karang

Berdasarkan data hasil survey, stasiun I memiliki karakter zona reef slope, sedangkan di stasiun II adalah zona reef flat. Sedangkan Isis Hippuris lebih dominan ditemukan hidup di zona reef slope. Hal ini kemungkinan dipengaruhi adanya arus yang lemah dan pengaruh gelombang air laut pada daerah reef slope. Arus yang tidak kuat memungkinkan Isis Hippuris tumbuh dengan baik.

Berdasarkan kedalaman




Gambar 2. Jumlah dan persentase koloni Isis Hippuris pada kedalaman 2 – 7 meter


Dari gambar 2 diatas menunjukkan jumlah dan presentase koloni Isis Hippuris lebih besar berada pada kedalaman 5 meter dengan persentase 38,14%. Diperkirakan bahwa Isis Hippuris dapat hidup dengan baik pada kedalaman 5 meter yang dimungkinkan pada kedalaman tersebut arus tidak terlalu kuat. Sedangkan persentase jumlah koloni terbesar selanjutnya pada kedalaman 2 meter dengan persentase 30,31%. Hal tersebut dimungkinkan karena pada daerah tersebut koloni Isis Hippuris adalah koloni yang baru berkembang kembali setelah dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti hal nya pada kedalaman 3 meter, di wilayah tersebut dimungkinkan termasuk salah satu wilayah Isis Hippuris yang dimanfaatkan oleh masyarakat namun baru mulai untuk berkembang kembali.

Berdasarkan ukuran

Gambar 3. Jumlah Populasi Isis Hippuris berdasarkan ukuran


Berdasarkan ukuran seperti yang dilihat pada Gambar 3 diatas, terlihat bahwa populasi Isis Hippuris yang dominan hidup di lokasi survey adalah koloni yang memiliki ukuran antara 30 – 50 cm sebesar 44,66%. Sedangkan untuk ukuran 0-30 cm memiliki populasi sebesar 19,47% dan pada ukuran diatas 50 cm hanya memiliki populasi sebesar 19,47%. Pada umumnya jumlah populasi akan sebanding dengan ukuran koloni, bahwa semakin besar ukuran Isis Hippuris maka semakin banyak juga populasinya. Namun pada data tersebut menggambarkan bahwa pernah dilakukan kegiatan pengambilan untuk dimanfaatkan.


Model Pemanfaatan

Kronologi Pemanfaatan

Pemanfaatan Isis Hippuris dilakukan masyarakat setempat sejak tahun 2008. Hal tersebut dilatar belakangi adanya permintaan pasar yang berasal dari pedagang pengumpul yang langsung membeli kepada masyarakat yang memanfaatkan bambu laut tersebut.

Sebelumnya dibuat laporan hasil tinjauan lapangan oleh pengumpul itu sendiri mengenai potensi bambu laut yang menghasilkan surat rekomendasi dari berbagai instansi Pos Polair Moutong, Kantor Pelabuhan Moutong, maupun dari pihak Kecamatan Moutong serta beberapa perangkat desa dan pernyataan bersama dari warga setempat.

BKSDA Provinsi Sulawesi Tengah turut memberikan rekomendasi dan dukungan melalui pelaksanaan sosialisasi tentang tata cara pengambilan bambu laut di Kecamatan Moutong. Pengolahan bambu laut tergolong mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat termasuk para wanita dan anak-anak sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan. Faktor pendukung lain adalah masih belum adanya peraturan yang mengatur pemanfaatan bambu laut saat itu.


Teknologi Pengambilan dan Pengolahan

Pengambilan bambu laut dilakukan dengan menggunakan peralatan berupa linggis dan parang. Teknik pengambilan selayaknya dilakukan dengan mematahkan batang maupun ranting bambu laut, tapi beberapa yang dilakukan adalah mencongkel substrat yang ada ditempati oleh bambu laut tersebut.   

Kegiatan pengambilan bambu laut ini dilakukan setiap hari baik bersamaan dengan kegiatan penangkapan ikan maupun secara langsung khusus untuk mengambil bambu laut. Untuk pengolahannya, bambu laut yang telah diambil direndam dengan air laut selama 2 hari kemudian di keringkan agar dapat dengan mudah dikelupas.


Karakter Sosial Ekonomi Budaya

Untuk aspek kependudukan, jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Moutong pada tahun 2011 sebanyak 20.705 jiwa (BPS Parigi Moutong, 2011). Penduduk Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong merupakan sebagian besar pernah memanfaatkan Isis Hippuristersebut disebabkan Isis Hippuris memiliki nilai ekonomis pada saat itu sehingga pemanfaatan biota tersebut bertujuan untuk menambah penghasilan bagi masyarakat setempat. Disamping hal tersebut juga didukung dengan belum adanya peraturan pemerintah ataupun adat yang mengendalikan pemanfaatan Isis Hippuris.


Distribusi Pemasaran Hasil

Alur Distribusi Hasil

Dari hasil wawancara yang diperoleh, alur distribusi hasil pemanfaatan bambu laut di Kecamatan Moutong yakni pedagang pengumpul mendatangi nelayan kemudian dilakukan transaksi dengan harga jual Rp.1.500,- per kg. Kemudian selanjutnya masyarakat tidak mengetahui jalur pemasaran selanjutnya hingga ke konsumen karena telah dilakukan sendiri oleh pedagang pengumpul. Namun sangat memungkinkan bila distribusi hasil pemanfaatan bambu laut tersebut dari pedagang pengumpul berlanjut kepada pihak eksportir.

Pengumpulan bambu laut oleh pedagang pengumpul rata-rata dilakukan setiap 3 – 5 bulan sekali. Hasil dalam sekali pengumpulan bambu laut dapat mencapai 6 – 7 ton berat kering bambu laut.

Alur distribusi tersebut dapat digambarkan pada skema berikut.







 Gambar 4. Alur distribusi pemanfaatan bambu laut (Isis Hippuris)


Kendala dan Permasalahan

Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut yakni teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat yang merupakan terumbu karang. Meskipun pernah dilakukan sosialisasi tata cara pengambilan bambu laut oleh pihak BKSDA namun pada kenyataannya pengambilan yang dilakukan secara umum langsung mencongkel bambu laut satu koloni dengan maksud dapat mengambil dan menjualnya lebih banyak.

Selain itu, beberapa hal lain yang mengancam ekosistem terumbu karang termasuk didalamnya adalah biota bambu laut tersebut yakni adanya aktivitas pengeboman ikan yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Sedangkan untuk kondisi pemanfaatan dan distribusi bambu laut di Kecamatan Moutong sudah tidak berjalan lagi sejak tahun 2011 sampai saat ini yang dikarenakan adanya pelarangan pengambilan bambu laut oleh pemerintah.

                                                      KESIMPULAN


Status populasi dari biota bambu laut (Isis Hippuris) dari masing-masing stasiun, pada stasiun I memiliki kepadatan populasi sebesar 852 koloni / 500 m2, sedangkan pada stasiun II memiliki populasi 514 koloni / 500 m2dengan persentase hidup koloni Isis Hippuris lebih besar berada pada kedalaman 5 meter dengan persentase 38,14% dan rata-rata ukuran yang dominan hidup adalah ukuran 30-50 cm dengan persentase 44,66%.

Sementara dalam bentuk pemanfaatannya bambu laut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk dijual kepada pedagang pengumpul dengan harga Rp.1.500,- / kg, yang kemungkinannya dilanjutkan kepada eksportir. Pengumpulan bambu laut oleh pedagang pengumpul rata-rata dilakukan setiap 3 – 5 bulan sekali. Hasil dalam sekali pengumpulan bambu laut dapat mencapai 6 – 7 ton berat kering. Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut yakni teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat yang merupakan terumbu karang, serta ancaman dari adanya aktivitas pengeboman ikan yang dilakukan oleh oknum masyarakat.

 REKOMENDASI TINDAK LANJUT DAN KEBIJAKAN


Untuk rekomendasi tindak lanjut diperlukan pengkajian yang lebih mendalam mengenai Isis Hippuris baik dari segi biomorfologi nya sampai pada pengkajian mengenai habitat ekologi yang ideal dalam siklus hidupnya. Kaitannya dengan pemanfaatan biota Isis Hippuris ini diharapkan kedepannya dapat dimanfaatkan secara optimal namun tetap dalam konteks terkendali agar pemanfaatan dapat berjalan dengan membantu taraf penghasilan masyarakat secara berkelanjutan.
                                                        DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik Kab. Parigi Moutong., 2011. Kabupaten Parigi Moutong dalam Angka Tahun 2011. Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Fabricius, K. And P. Alderslade, 2001. Soft Coral and Sea Fan. Australia institude of Maritim Science, Queensland, Australia.

Manuputty, A. E. W., 2002. Karang Lunak (Soft Coral) Perairan Indonesia. LIPI, Jakarta

Manuputty, A. E. W., 2008. Isis Hippuris Linnaeus 1758 Oktokoral Penghasil Anti Virus. Oseana Vol. XXXIII(I) 2008 hal:19-24

Radar Toli-Toli, 8 September, 2009. Tim Gabungan Periksa Satu Kontainer Bambu Laut Rencananya Akan dikirm ke Jawa Timur.

www.dkp.sulteng.go.id ., 03 Mei 2010. Digagalkan Pengiriman 30 Ton Bambu Laut.




(Oleh: Tim survei Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut-Makassar)
Read More --►

Hasil Survei Status Populasi dan Pemanfatan Bambu Laut (Isis hippuris) di Perairan Prov. Gorontalo


Gambaran Umum Kabupaten Gorontalo Utara

Kabupaten Gorontalo Utara memiliki luas wilayah ± 1.676,15 kilometer persegi.  Terdiri dari lima kecamatan pesisir, yaitu Tolinggula, Sumalata, Anggrek, Kwandang dan Atinggola.  Kecamatan dengan area yang terbesar adalah Sumalata yaitu 504,59 kilometer persegi atau 28,40 % luas Kabupaten Gorontalo Utara sedangkan yang terkecil - adalah Kecamatan Gentuma Raya, yaitu 100,34 kilometer persegi atau 5,65 % luas Kabupaten Gorontalo Utara.

Kabupaten Gorontalo Utara sangat potensial dengan sumber daya perikanan dengan garis pantai ±320 kilometer, luas laut ±561,6 kilometer persegi, hutan mangrove 275,27 hektar serta potensi budidaya air payau seluas 2.583,4 hektar.  Pembangunan wilayah pulau-pulau di Kabupaten Gorontalo Utara juga dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata.  Keberhasilan dalam bidang pariwisata dicerminkan dari semakin meningkatnya arus kunjungan wisatawan. Jenis pariwisata bahari yang terdapat di Kabupaten Gorontalo Utara berupa keindahan alam pesisir dan laut, snorkeling, diving dan renang.  Lokasi wisata yang cukup dikenal saat ini adalah Pulau Saronde.

Pulau Saronde terletak di Kecamatan Kwandang, memiliki luas daratan sekitar 1 km2.  Pulau saronde ini tidak berpenghuni, hanya dijaga oleh petugas pengelola wisata. Selain memiliki pasir putih di pantainya,  perairan pulau Saronde terkenal memiliki keindahan bawah laut yang bagus, dimana terdapat atol yang melingkar di sekitar Pulau Saronde. 

   Kondisi Biofisik Perairan Pulau Saronde

1.        Sebaran Bambu Laut

Bambu laut di perairan dijumpai dalam bentuk spot-spot yang menyebar sepanjang area pengambilan data.  Pada beberapa lokasi ditemukan melimpah dengan menutupi seluruh area terumbu karang.  Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa rerata luas tutupan bambu laut di perairan Pulau Saronde yaitu di lokasi survei I adalah 0,05 m2/m2, sedangkan di lokasi survei II adalah 0,109 m2/m2.


2.        Kelimpahan Bambu Laut

Berdasarkan hasil survei, kelimpahan bambu laut di perairan Pulau Saronde adalah 2individu/m2.  Kedalaman perairan di area survei adalah 3 – 5 meter, sehingga memang masih banyak ditemukan individu bambu laut karena memiliki simbiosis dengan zooxanthella yang membutuhkan cahaya matahari.  Adapun sebaran kelimpahan di area survei terlihat pada Tabel berikut:

  Tabel.  Sebaran kelimpahan bambu laut di Perairan Pulau Saronde



No

Ukuran Koloni (individu)

Jumlah Kelompok

1.

1  -  10

62

2.

11 - 20

14

3.

21 - 30

6

4.

31 – 40

1

5.

41 - 50

2

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)

Berdasarkan Tabel tersebut maka diketahui jumlah ukuran kelimpahan individu didominasi oleh kelompok koloni 1 – 10 individu.  Di perairan Kabupaten Gorontalo Utara ini khususnya perairan Pulau Saronde belum ada kegiatan pengambilan bambu laut sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran komposisi dan kelimpahan bambu laut yang ada ini masih merupakan ukuran alamiah yang belum dimanfaatkan oleh nelayan.

            Kondisi Sosial Masyarakat

1.         Karakteristik Responden

Responden yang diambil terbatas hanyalah para nelayan yang berada di lokasi pengambilan data. Selain itu juga dilakukan wawancara di daerah lain dalam Provinsi Gorontalo mengingat di lokasi pengambilan data belum pernah ada kegiatan pengambilan bambu laut. Jumlah responden yang diwawancara adalah 10 orang.  Profesi utama responden dalah sebagai nelayan pancing dan jala. Tidak ditemukan responden yang berprofesi sebagai pedagang pengumpul bambu laut. 

Jika ditinjau dari kisaran umur, maka seluruh responden memiliki kisaran umur antara 25 – 45 tahun.  Hal ini menunjukkan bahwa para responden masih berada pada usia produktif.  Secara lebih detail maka klasifikasi responden berdasarkan umurnya dapat dilihat pada Tabel.

Tabel.  Klasifikasi Umur Responden


No

Umur (tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

1.

30 – 40

4

40

2.

41 – 50

6

60


Total

10

100

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)


Berdasarkan tingkat pendidikan, maka sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah yaitu hanya sampai pendidikan Sekolah Dasar (SD) atau yang sederajat.  Dari 10 orang responden yang diwawancara sebanyak 4 orang (40%) hanya sampai ke tingkat SD, 3 orang tidak menyelesaikan pendidikan SD dan kemudian 3 orang (30%) mampu bersekolah hingga ke pendidikan menengah pertama (SMP), Secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa rata-rata para responden memiliki pendidikan formal, walaupun relatif  masih rendah.  Kondisi ini disebabkan dengan fasilitas pendidikan formal yang belum lengkap di daerah Gorontalo.

Berdasarkan hasil pengolahan data primer maka dapat diketahui bahwa para responden umumnya telah bekerja di bidang perikanan lebih dari 10 tahun.  Jika lama bekerja dibidang ini diurai lebih jauh, maka diperoleh responden yang telah bekerja 10 – 20 tahun berjumlah 4 orang, sedangkan yang telah memiliki masa kerja di atas 20 tahun sebanyak 4 orang.  Sedangkan responden yang baru memiliki pengalaman kerja di bawah 10 tahun adalah 2 orang.  Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden telah memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai usaha perikanan. 

Tabel.   Klasifikasi responden berdasarkan lama berusaha di bidang perikanan


No

Lama Usaha (Tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

1.

<10

2

20

2.

10 - 20

4

40

3.

>20

4

40


Total

10

100,00

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)


Hasil wawancara dengan responden yang berprofesi sebagai nelayan menunjukkan umumnya mereka tidak lama menekuni usaha pengambilan bambu laut ini.  Hingga tahun 2011 yang diketahui terakhir kali ada aktivitas pengambilan bambu laut, sebanyak 3 responden belum pernah melakukan pengambilan bambu laut, sebanyak 2 responden baru menekuni usaha itu selama 1-2 tahun, sedangkan 5 responden telah melakukan pengambilan bambu laut lebih dari 2 tahun.  Dengan demikian jika dihubungkan dengan lamanya mereka berusaha di bidang perikanan maka dapat diketahui bahwa sebelum memulai usaha pengambilan bambu laut ini sebenarnya mereka telah bekerja di bidang perikanan, khususnya di bidang perikanan tangkap.



Tabel.   Klasifikasi responden nelayan berdasarkan lama berusaha di dalam usaha pengambilan bambu laut



No

Lama Usaha (Tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

1.

1-2

2

20

2.

>2

5

50

3.

Bukan pengambil bambu laut

3

30


Total

10

100

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)


2.  Motivasi Masyarakat

Berdasarkan hasil wawancara dengan stakeholder yang berkaitan dengan usaha pengambilan bambu laut di Provinsi Gorontalo, maka dapat diketahui beberapa hal yang memacu keinginan para nelayan melakukan usaha pengambilan bambu laut ini sebagai pekerjaan tambahan.  Beberapa responden mengemukakan bahwa penanganan pengolahan bambu laut yang mudah sebelum dijual juga merupakan alasan yang dipilih sehingga mereka melakukan pengambilan bambu laut ini. 

Salah satu faktor pendukung meningkatnya pengambilan bambu laut ini adalah meningkatnya permintaan pasar serta tidak ada kebijakan yang jelas dari pemerintah terkait eksploitasi bambu laut ini.  Setelah adanya pelarangan pengambilan bambu laut oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan berdasarkan Perda Nomor 01 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu di Provinsi Gorontalo, nelayan tetap menjalankan aktivitasnya mengambil bambu laut dengan alasan tidak adanya sosialisasi kepada mereka terkait pelarangan tersebut.  Menurunnya aktivitas pengambilan bambu laut hingga saat ini lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya lagi permintaan dari pedagang pengumpul. 

Tabel.  Motivasi responden dalam pengambilan bambu laut



No

Parameter

Alasan utama

Responden Pemilih

1.

Teknologi pengambilan

Sederhana dan mudah diperoleh

5

2.

Pemasaran produk

Dijemput pihak pengumpul

4

3.

Pengolahan pasca panen

Mudah dilakukan

1

Sumber :  Hasil data primer yang telah diolah (2012)


Berdasarkan Tabel  maka dapat dijelaskan beberapa motivasi yang dimiliki masyarakat dalam melakukan kegiatan pengambilan bambu laut tersebut sebagai berikut :

1.        Teknologi pengambilan bambu laut

Pengambilan bambu laut dilakukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana yaitu linggis dan parang. Keterampilan yang dibutuhkan seorang nelayan pengambil bambu laut adalah menyelam, yang merupakan keahlian lazim bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.  Teknik yang digunakan untuk mengambil bambu laut itu adalah dengan mencongkel substrat yang ada ditempati oleh bambu laut tersebut. 

Kegiatan pengambilan bambu laut ini dilakukan setiap hari bersamaan dengan kegiatan penangkapan ikan, sehingga biaya operasional dapat diminimalisir.  Menurut hasil wawancara, sekali pengambilan bisa mencapai 10-15 kg berat kering.  Di lokasi pengambilan data (Kabupaten Gorontalo Utara), belum ada aktivitas pengambilan bambu laut oleh masyarakat.  Menurut hasil wawancara dengan aparat Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, daerah yang diketahui masyarakatnya pernah melakukan aktivitas pengambilan bambu laut adalah di Kabupaten Pahuwato dan Kabupaten Boalemo. 

Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut ini adalah teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat dasar yang merupakan terumbu karang.  Seiring dengan peningkatan permintaan pasar untuk bambu laut ini maka kegiatan eksploitasi bambu laut semakin meningkat dan berlangsung secara sporadis.  Hal ini secara langsung mempengaruhi kelestarian terumbu karang sebagai tempat hidup bambu laut.  Menurut hasil wawancara, kondisi terumbu karang di wilayah pengambilan bambu laut masih baik, namun demikian merupakan ancaman berat jika kegiatan pengambilan bambu laut masih menggunakan teknik tradisional seperti berlangsung saat ini.


2.        Pemasaran produk

Sistem pemasaran yang berlaku saat itu telah memudahkan nelayan dalam memasarkan bambu laut.  Sistem pemasaran yang berlaku adalah pihak pengumpul yang mendatangi nelayan untuk kemudian mengajukan penawaran harga.  Setelah diperoleh kesepakatan harga, maka pengumpul yang selanjutnya mendistribusikan produk tersebut sesuai dengan jalur pemasarannya.  Berdasarkan hasil wawancara, harga jual bambu laut selama ini berkisar antara Rp2.000,00 – Rp3.000,00.  Nelayan pengambil bambu laut tidak mengetahui secara jelas jalur pemasaran di tingkat pedagang pengumpul hingga ke konsumen.

Keuntungan dari sistem pemasaran ini adalah pihak nelayan tidak mengeluarkan biaya operasional untuk memasarkan hasil panennya, karena telah dijemput oleh pengumpul.  Namun demikian terdapat juga kerugiannya karena petambak tidak memiliki nilai tawar yang kuat dalam menentukan harga produk karena nelayan tidak memiliki kebebasan pemasaran produk akibat minimnya informasi pasar terhadap produk bambu laut ini.  Oleh karena itu, sejak tahun 2010 kegiatan pengambilan bambu laut ini semakin menurun intensitasnya karena selain adanya penegasan pelarangan dari pemerintah daerah untuk pengambilan bambu laut ini juga karena pedagang pengumpul yang tidak pernah lagi datang sehingga produk tidak bisa dipasarkan.


3.        Pengolahan produk

Pengolahan produk dibutuhkan untuk menjaga mutu dari produk yang akan dijual, karena bambu laut yang dijual disesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh  pihak pembeli.  Pengolahan produk bambu laut tidak memerlukan penanganan yang rumit karena hanya perlu dibersihkan kemudian dijemur.  Hal ini menurut para nelayan merupakan salah satu alasan yang menarik sehingga mereka juga ikut berusaha dalam pengambilan bambu laut.

Nelayan mengangkat bambu laut ini dari perairan diupayakan secara lengkap satu koloni.  Bambu laut ini kemudian direndam dalam air laut hingga kulit luarnya terkelupas, biasanya hingga seminggu. Selanjutnya bambu laut dijemur hingga kadar airnya turun selama 1-2 hari tergantung kondisi cuaca, karena metode pengeringan hanya mengandalkan panas sinar matahari.  Setelah itu kemudian bambu laut yang sudah kering dibersihkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk siap dipasarkan.


Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving