Deswita Alifia Damayanti

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>meditasi09.blogspot.com
=>deswitaku.blogspot.com
=>sangsurya09.blogspot.com
=>deswita16@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label TPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TPI. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Ikan Hiu Berbagai Jenis Dapat Ditemui di TPI Tanjung Luar-Lombok

Suasana Tempat Pelelangan Ikan di Tanjung Luar
Kapal nelayan Tanjung luar Lombok barat yang ukurannya 5 - 10 GT biasa beroperasi mencari ikan hiu dan pari selama satu bulan mulai dari perairan NTB sendiri sampai ke perairan NTT yang berbatasan dengan Australia. Satu perahu yang diawaki 4 orang dengan biaya operasional baik untuk BBM maupun lainnya sekitar 25 juta akan membawa hasil 40 - 60 ekor ikan hiu dan pari ukuran besar besar dari berbagai jenis dan grade. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 40 - 60 juta dan tiap awak nelayan dapat membawa uang ke rumah antara Rp 2 - 4juta namun tidak jarang pula pulang melaut tidak membawa hasil apapun.
Perahu-perahu penangkap ikan hiu di Tanjung Luar
Yang menjadi sorotan dunia terhadap perikanan hiu di Tanjung luar dan secara nasional umumnya adalah:
1. Over exploitasi tidak menerapkan kaidah perikanan berkelanjutan
2. Finning atau hanya memanfaatkan siripnya saja sedangkan bagian tubuhnya dibuang ke laut. Praktek perikanan semacam ini dianggap kejam.
3. Penangkapan anakannya hiu atau lebih populer disebut baby hiu
4. Beberapa jenis hiu sudah memiliki aturan internasional antara lain CITES yang melarang untuk diperdagangkan secara internasional atau minimal perlu pembatasan perdagangannya dengan mekanismenya kuota
Namun demikian, perlu diingat bahwa perikanan hiu dan pari di Indonesia tidak dapat begitu saja dibandingkan, karena:
1. Belum ada regulasi nasionalnya kecualinya untuk hiu gergaji (Pristis microdon) dan hiu paus (Rhincodon typhus) yang termasuk jenis ikan yang dilindungi serta untuk hiu monyet atau hiu tikus(Alopiidae) yang diatur oleh Keputusan menteri kelautan dan perikanan no 30 tahun 2012 tentang Usaha Perikanan di WPP-RI, yaitu: apabila ikan hiu tikus tersebut tertangkap dalam keadaan hidup maka harus dikembalikan ke laut sedangkan apabila tertangkap dalam keadaan mati maka hiu tersebut harus didaratkan dalam keadaan utuh kemudian dilaporkan kepada otoritas pelabuhan perikanan terdekat untuk dikuburkan
2. Penangkapan ikan hiu  merupakan target penangkapan ikan bagi sebagian nelayan (dari total produksi hiu sebanyak 30% merupakan hasil target nelayan dan sisanya merupakan hasil sampingan atau bycach). Artinya masih banyak nelayan yang hidupnya dari penangkapan hiu.
Lelang Ikan Hiu di Tanjung Luar
Musim produksi hiu di Tanjung luar adalah sekitar bulan April sampai Oktober dimana pada bulan-bulan tersebut keadaan laut antara perairan NTB sampai NTT dalam keadaan tenang. pada puncak musim hiu, jumlah hiu dari berbagai jenis dan ukuran dapat mencapai 3500 kg/ hari-nya sehingga tidak mengherankan kalau di TPI Tanjung Luar Lombok dapat ditemui berbagai jenis hiu yang dilelang. Data tersebut dapat dilihat pada gambar berikut: 
Dari data data di atas, maka tidak mengherankan apabila di TPI Tanjung luar setiap harinya ada saja ikan hiu  yang dilelang walaupun dalam jumlah yang bervariasi sesuai dengan musimnya. Jenis ikan hiu yang termasuk paling banyak didaratkan di TPI Tanjung Luar adalah dari jenis: lanjaman (Carcharhinidae), hiu mako (Lamnidae), hiu botol (Squalidae), hiu tikus (Alopiidae), hiu martil (Sphyrnidae), hiu lontar (Rhynchobatidae) yang sebenarnya ini termasuk kedalam jenis ikan pari, dan lainnya.
Berbagai jenis ikan hiu yang dilelang di Tanjung Luar
Hiu tikus/Alopiidae (atas)dan hiu (pari) lontar/Rhynchobatidae

Hiu tikus (Alopiidae) hampir setiap hari ada saja yang didaratkan padahal jenis ikan ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri KP no.30 tahun 2012 yang menyebutkan untuk tidak ditangkap dan diperjualbelikan. Harga dari sirip dan ikan jenis ini adalah yang paling murah karena kulitnya tebal sehingga kandungan hisit dalam siripnya itu sedikit. Berbeda dengan hiu lontar (Rhynchobatidae) yang sebenarnya masuk kedalam jenis ikan pari, harga ikan hiu lontar ini masuk katagori super sehingga paling mahal diantara jenis hiu lainnya. Kenapa paling mahal karena kulitnya tipis sehingga kandungan hisit dalam siripnya termasuk tinggi.
Bagi awam dan juga nelayan di Tanjung luar, sulit membedakan antara ikan hiu dan pari (Elasmobranchii), apakah dia masuk kedalam jenis ikan hiu atau kedalam jenis ikan pari? cara membedakannya yang paling mudah adalah dari letak insangnya. Letak insang pada ikan hiu berada di sebelah samping kanan dan kiri dekat kepala sedangkan letak insang ikan pari berada di bawah kepalanya.

Dunia luar banyak mengecam praktik perikanan hiu di Tanjung Luar namun seyogyanya kita harus arif untuk menyikapinya. Nelayan Tanjung Luar tidak bisa serta merta disalahkan karena informasi regulasi tentang pengelolaan ikan hiu 'tidak sampai' kepada mereka dan mereka banyak menyandarkan kehidupannya terhadap perikanan hiu ini.

Read More --►

Kamis, 25 April 2013

Jalan-Jalan di Paotere Makassar


Sebagaimana wilayah pesisir perkotaan umumnya, susana padat penduduk dengan ragam aktifitasnya serta kondisi infrastruktur yang kurang me di kurang memadai juga ada di Kawasan Paotere Makassar ini. Namun, apabila benak dan pikiran kita sudah ditanamkan pikiran positif ketika kita akan mengunjungi tempat seperti itu, tentu kesenangan yang akan didapat.

Pelabuhan Rakyat Paotere
Persinggahan pertama kami adalah pelabuhan rakyat Paotere. Pelabuhan rakyat ini sudah ada sejak jaman Belanda. Ketika itu pelabuhan ini adalah pintu gerbang ekonomi tidak saja bagi Sulawesi tetapi juga untuk kawasan Indonesia Timur. Perdagangan hasil hutan, perkebunan, rempah-rempahan, dan pangan menggunakan jasa pelabuhan ini. Sisa-sisa jejak peninggalannya masih terasa dengan berjajarnya kapal-kapal phinisi yang terbuat dari kayu. Hanya kapal jenis itu yang merapat di pelabuhan ini. Dan kesibukan buruh angkut yang menaikkan atau menurunkan muatan kapal phinisi secara manual dengan cara mengendong atau memanggul barang-barang yang dinaikkan atau diturunkan. Sungguh hebat tenaga para buruh itu.  Saat ini muatan kapal yang diangkut memang sudah berbeda banyak, tidak lagi berupa kayu, rotan, kopi, atau rempah-rempahan tetapi sekarang lebih banyak berupa semen, bahan bangunan, barang manufaktur. Jaman sudah berubah.
Phinisi antar pulau
Kesibukan bongkar muat secara manual
Deretan truk tua yang masih operasional

Tempat Pelelangan Ikan Paotere
Suasananya tidak terlalu becek, tidak seperti di tempat pelelangan ikan lainnya. Cukup melipat sedikit ujung bawah celana panjang kita, kita sudah bisa bebas jalan-jalan di tempat pelelangan ikan ini. Datanglah pagi-pagi ketika belasan kapal nelayan ukuran 10 GT baru merapat dari operasi penangkapan ikan. Kita bis menyaksikan ikan-ikan segar diturunkan dari palka kapal untuk dijual di tempat pelelangan ikan ini. Siang maupun sore juga masih ada perahu nelayan yang baru datang dan merapat di tempat ini tetapi tidak sebanyak pada pagi hari.
Kapal nelayan dari sekitaran Makassar ini mencari ikan sampai ke perairan Lombok dan itu umumnya membutuhkan waktu 10 hari dari sejak berangkat sampai pulang operasi. Satu kapal diawaki oleh 12 orang nelayan. Burhan salah satu nelayan yang baru sandar mengatakan: ‘sekarang kami harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan lokasi penangkapan ikan (fishing ground) dan hasilnya tidak sebanyak dulu’. Menurut keterangannya; selama 10 hari melaut, satu kapalnya hanya mendapatkan 500 kg ikan dari berbagai jenis kalau diuangkan senilai Rp 7.500.000,-  dan itu tidak menutup biaya yang dikeluarkan.
Kalau dulu, tiap kapal nelayan mempunyai target ikan tangkapan sendiri-sendiri tetapi sekarang kebanyakan nelayan menggunakan alat tangkap multi fungsi sehingga jenis ikan apapun dapat ditangkapnya. Kalau tidak begitu, tidak akan dapat keuntungan. Maka tidak heran kalau satu kapal nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya terdiri dari lebih 5 jenis ikan.
Kami menyaksikan berbagai jenis ikan didaratkan dan dijual di tempat pelelangan ikan ini. Seekor ikan hiu yang masih utuh beserta siripnya berukuran 7-8 kg dijual seharga Rp 200.000,-. Harga sirip hiu Rp 300.000/kg, harga ikan kakap Rp 40.000/kg, harga ikan napoleon atau orang Makassar menyebutnya ikan lucangka seukuran telapak tangan orang dewasa, dijual Rp 50.000,-/kg. Ikan pari-pun ada banyak disini, dan lainnya.
Ketika kapal tangkap ikan baru merapat
Menurunkan berbagai jenis ikan hasil tangkapan
Ikan nimrod yang unik
Ikan hiu utuh (dengan siripnya) dijual Rp 200 ribu/ekor

Rumah Makan Ikan Bakar Paotere
Lelah jalan-jalan dan perut sudah mulai ‘bernyanyi’, mampirlah di Rumah Makan Ikan Bakar Paotere. Rumah ikan ini terletak di Jalan Sabutung, tidak jauh dari tempat pelelangan ikan, maka dijamin ikan yang dijual disini masih segar-segar. Kita milih sendiri ikan yang kita inginkan. Banyak pilihannya. Harganya didasarkan porsi atau ekoran tidak per kilo. Ikan kakap bakar Rp 50.000,-, ikan kudu-kudu yang berbentuk kotak dan berkulit keras Rp 40.000,-, harga udang satu porsi yang terdiri 2 tusuk Rp 25.000,-, cumi yang seporsinya terdiri dari 2 ekor seharga Rp 25.000,- ikan baronang Rp 40.000,- per porsi dan lainnya lagi. Kalau anda datang tepat pada waktu makan siang, anda dipastikan harus menunggu meja kosong dulu, pengunjungnya banyak sekali. Tentang rasa? Tentu rasa otentik dari jenis ikan itu-nya sendiri yang muncul, bukan rasa bumbunya yang lebih kuat yang mengalahkan rasa ikannya. Disini bumbunya hanya bumbu kacang atau kecap, itupun disajikan ketika ikan sudah dibakar. Kita kan beli rasa ikan bukan yang lain toh?
Ikan bakar di Paotere
Ikan kudu kudu Rp 40 ribu/ekor
Lahap tandanya nikmat

Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving